Kisah Nabi Idris dalam Islam: Nabi yang Pertama Menulis dan Diangkat ke Tempat yang Tinggi

Pendahuluan

Dalam sejarah para nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Nabi Idris merupakan salah satu nabi yang memiliki kedudukan istimewa. Ia dikenal sebagai nabi yang sangat cerdas, tekun dalam ibadah, serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Dalam berbagai riwayat Islam, Nabi Idris disebut sebagai manusia pertama yang menulis dengan pena, memahami ilmu perbintangan, serta mengajarkan berbagai keterampilan kepada umatnya.

Kisah Nabi Idris tidak disebutkan secara panjang dalam Al-Qur’an seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, atau Nabi Musa. Namun, meskipun ayat yang menyebutkan beliau relatif sedikit, para ulama menafsirkan dan melengkapi kisahnya melalui hadits-hadits shahih serta penjelasan dari para sahabat dan ulama tafsir.

Artikel ini akan membahas secara lengkap kisah Nabi Idris berdasarkan Al-Qur’an dan hadits shahih, mulai dari silsilahnya, kehidupan beliau, dakwah kepada kaumnya, hingga keistimewaan beliau yang diangkat ke tempat yang tinggi oleh Allah SWT.

Silsilah Nabi Idris

kisah nabi idris

Nabi Idris merupakan salah satu nabi yang hidup setelah Nabi Adam dan Nabi Syits. Dalam banyak riwayat ulama tafsir, disebutkan bahwa Nabi Idris adalah keturunan dari Nabi Adam melalui jalur Nabi Syits.

Sebagian ulama menyebutkan nama asli Nabi Idris adalah Akhnukh (Enoch). Beliau hidup pada masa awal kehidupan manusia di bumi, ketika generasi manusia masih merupakan keturunan langsung dari Nabi Adam.

Silsilah yang sering disebut oleh para ulama adalah:

Adam → Syits → Anusy → Qinan → Mahlail → Yarid → Idris

Dengan demikian, Nabi Idris adalah generasi keenam dari Nabi Adam.

Pada masa tersebut, manusia mulai berkembang dan tersebar di berbagai wilayah. Namun, pada saat yang sama, sebagian manusia mulai melakukan penyimpangan dari ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Adam dan Nabi Syits.

Di sinilah Allah mengutus Nabi Idris untuk mengingatkan manusia agar kembali menyembah Allah semata.

Penyebutan Nabi Idris dalam Al-Qur’an

Nama Nabi Idris disebutkan dalam dua tempat dalam Al-Qur’an.

1. Surah Maryam ayat 56–57

Allah berfirman:

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.
Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”
(QS. Maryam: 56–57)

Ayat ini menjelaskan dua sifat utama Nabi Idris:

  1. Shiddiq (sangat jujur dan membenarkan kebenaran)
  2. Seorang nabi

Selain itu, Allah juga menjelaskan bahwa Nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi.

2. Surah Al-Anbiya ayat 85

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anbiya: 85)

Dalam ayat ini, Nabi Idris disebut sebagai salah satu nabi yang memiliki sifat sabar, yaitu kesabaran dalam menjalankan dakwah dan menghadapi berbagai ujian.

Mengapa Disebut Idris

Nama “Idris” menurut sebagian ulama berasal dari kata Arab “darasa” yang berarti belajar atau mempelajari sesuatu secara mendalam.

Beliau disebut Idris karena sangat tekun dalam mempelajari ilmu dan mengajarkan ilmu kepada umatnya. Nabi Idris dikenal sebagai nabi yang memiliki pengetahuan luas, baik dalam bidang agama maupun ilmu kehidupan.

Karena itulah dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau adalah manusia pertama yang:

  • Menulis dengan pena
  • Menjahit pakaian
  • Mengajarkan ilmu perhitungan
  • Mengajarkan ilmu perbintangan

Walaupun tidak semua riwayat tersebut memiliki sanad yang kuat, banyak ulama tafsir menyebutkannya sebagai bagian dari sejarah kehidupan Nabi Idris.

Nabi Idris dan Ilmu Pengetahuan

Salah satu keistimewaan Nabi Idris adalah kecerdasannya serta kemampuannya dalam berbagai bidang ilmu.

Dalam beberapa riwayat yang disebutkan oleh para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Nabi Idris dikenal sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan berbagai keterampilan kepada manusia.

Beberapa hal yang sering dikaitkan dengan Nabi Idris antara lain:

1. Manusia Pertama yang Menulis dengan Pena

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Idris adalah manusia pertama yang menulis dengan menggunakan pena. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa beliau, ilmu pengetahuan mulai berkembang lebih sistematis.

Menulis merupakan salah satu cara penting dalam menjaga ilmu agar tidak hilang.

2. Mengajarkan Menjahit Pakaian

Disebutkan pula bahwa sebelum masa Nabi Idris, manusia menggunakan kulit binatang sebagai pakaian. Nabi Idris kemudian mengajarkan cara menjahit kain menjadi pakaian.

Hal ini menjadi salah satu bentuk kemajuan peradaban manusia pada masa itu.

3. Ilmu Astronomi dan Perhitungan

Sebagian ulama juga menyebut bahwa Nabi Idris memahami ilmu perbintangan dan perhitungan waktu. Ilmu ini penting untuk menentukan waktu ibadah, perjalanan, serta kehidupan sehari-hari manusia.

Semua ilmu tersebut digunakan oleh Nabi Idris untuk kemaslahatan umatnya dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Dakwah Nabi Idris kepada Kaumnya

Sebagai seorang nabi, tugas utama Nabi Idris adalah berdakwah kepada kaumnya agar menyembah Allah semata dan meninggalkan berbagai bentuk kemusyrikan.

Pada masa itu, sebagian manusia mulai:

  • Melupakan ajaran tauhid
  • Mengikuti hawa nafsu
  • Melakukan berbagai perbuatan maksiat

Nabi Idris mengajak mereka untuk kembali kepada jalan yang benar.

Dakwah beliau menekankan beberapa hal penting:

  1. Tauhid, yaitu menyembah Allah saja
  2. Ketaatan kepada Allah
  3. Menjauhi dosa dan maksiat
  4. Menjalani kehidupan yang adil dan benar

Sebagian dari kaumnya menerima dakwah Nabi Idris dan mengikuti ajaran beliau. Namun sebagian lainnya tetap menolak dan melakukan penyimpangan.

Penolakan terhadap para nabi merupakan hal yang sering terjadi dalam sejarah dakwah para rasul.

Kesabaran Nabi Idris dalam Berdakwah

Al-Qur’an menyebut Nabi Idris sebagai orang yang sabar. Kesabaran ini terlihat dari keteguhan beliau dalam menjalankan dakwah meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Dakwah kepada manusia yang telah terbiasa dengan kesesatan bukanlah perkara mudah. Namun Nabi Idris tetap konsisten dalam menyampaikan kebenaran.

Kesabaran beliau mencakup:

  • Sabar dalam beribadah
  • Sabar dalam menghadapi penolakan
  • Sabar dalam menjalankan perintah Allah

Sifat sabar inilah yang membuat Nabi Idris termasuk dalam golongan nabi yang dimuliakan oleh Allah.

Nabi Idris Diangkat ke Tempat yang Tinggi

Salah satu hal paling menarik dalam kisah Nabi Idris adalah firman Allah:

“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”
(QS. Maryam: 57)

Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai makna ayat ini.

1. Diangkat ke Langit

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Idris benar-benar diangkat ke langit oleh Allah.

Pendapat ini diperkuat oleh hadits shahih tentang perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj, beliau bertemu dengan Nabi Idris di langit keempat.

Hadits tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda bahwa beliau melihat Nabi Idris di langit keempat.

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Idris memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

2. Diangkat Derajatnya

Pendapat lain menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah Allah mengangkat derajat Nabi Idris sebagai nabi yang mulia.

Kedua pendapat ini tidak saling bertentangan, karena bisa jadi Allah mengangkat beliau secara fisik sekaligus meninggikan derajatnya.

Pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi Idris

Dalam hadits shahih tentang Isra Mi’raj, Rasulullah menceritakan perjalanan beliau ke langit.

Ketika sampai di langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris.

Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan bahwa Nabi Idris menyambut Nabi Muhammad dengan penuh penghormatan.

Ia berkata:

“Selamat datang wahai nabi yang saleh dan saudara yang saleh.”

Pertemuan ini menunjukkan bahwa para nabi saling menghormati dan saling mengenal satu sama lain.

Wafatnya Nabi Idris

Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci tentang wafatnya Nabi Idris.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau wafat setelah diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi. Namun rincian pasti tentang waktu dan tempat wafatnya tidak disebutkan secara jelas dalam sumber yang shahih.

Karena itu, para ulama biasanya berhati-hati dalam menjelaskan detail tentang wafatnya Nabi Idris.

Yang jelas, Nabi Idris merupakan salah satu nabi yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Hikmah dari Kisah Nabi Idris

Kisah Nabi Idris mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Islam.

1. Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Nabi Idris dikenal sebagai nabi yang sangat mencintai ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan.

Ilmu tidak hanya penting untuk kehidupan dunia, tetapi juga untuk memahami agama dengan benar.

2. Kejujuran adalah Sifat Para Nabi

Al-Qur’an menyebut Nabi Idris sebagai orang yang shiddiq, yaitu sangat jujur dan selalu membenarkan kebenaran.

Kejujuran adalah salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.

3. Kesabaran dalam Berdakwah

Nabi Idris menghadapi berbagai tantangan dalam berdakwah. Namun beliau tetap sabar dan tidak pernah menyerah.

Hal ini mengajarkan bahwa menyampaikan kebenaran membutuhkan kesabaran yang besar.

4. Kemuliaan Bagi Orang yang Taat

Allah mengangkat Nabi Idris ke tempat yang tinggi karena ketakwaan dan ketaatan beliau.

Ini menunjukkan bahwa Allah akan memuliakan hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Penutup

Nabi Idris merupakan salah satu nabi yang memiliki keistimewaan besar dalam sejarah Islam. Meskipun kisahnya tidak diceritakan secara panjang dalam Al-Qur’an, ayat-ayat yang menyebut beliau menunjukkan betapa mulianya kedudukan Nabi Idris di sisi Allah.

Beliau dikenal sebagai nabi yang jujur, sabar, serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Nabi Idris juga merupakan sosok yang tekun dalam ibadah dan berdakwah kepada kaumnya agar kembali kepada tauhid.

Keistimewaan beliau semakin terlihat ketika Allah menyebut bahwa Nabi Idris diangkat ke tempat yang tinggi, serta ketika Rasulullah bertemu dengan beliau di langit keempat dalam peristiwa Isra dan Mi’raj.

Dari kisah Nabi Idris, umat Islam dapat mengambil banyak pelajaran, terutama tentang pentingnya ilmu, kejujuran, kesabaran, serta ketaatan kepada Allah.

Dengan meneladani sifat-sifat mulia para nabi, termasuk Nabi Idris, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

leader banner alhidayat karpet

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button