Kisah Atha bin Abi Rabah: Mantan Budak yang Menjadi Mufti Agung Makkah

Dalam lembaran sejarah Islam, tidak ada tolok ukur kemuliaan yang lebih tinggi melainkan ketakwaan dan ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” Prinsip agung ini terekam dengan sangat indah dan nyata dalam kisah Atha bin Abi Rabah, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in yang kehidupannya menjadi tamparan keras bagi segala bentuk rasisme dan diskriminasi.

Lahir sebagai seorang hamba sahaya dengan fisik yang jauh dari standar ketampanan duniawi, Atha bin Abi Rabah membuktikan bahwa cahaya ilmu agama mampu mengangkat derajat seseorang menembus batas-batas strata sosial, ras, dan rupa. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup sang Mufti Agung Makkah yang sangat inspiratif.

Latar Belakang dan Fisik yang Menipu Pandangan Mata

Kisah Atha bin Abi Rabah

Nama lengkap beliau adalah Atha bin Abi Rabah Aslam Al-Qurasyi. Beliau lahir pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan tumbuh besar di Makkah. Pada awalnya, beliau adalah seorang budak milik seorang wanita dari Bani Jumah di Makkah.

Berdasarkan catatan sejarah yang masyhur, seperti yang diabadikan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala, perawakan Atha bin Abi Rabah sangat jauh dari kata sempurna menurut pandangan manusia. Beliau memiliki kulit hitam legam keturunan Habasyah (Ethiopia), rambut yang sangat keriting, hidung yang pesek, cacat pada kakinya sehingga berjalan pincang, tangannya lumpuh sebelah, dan matanya buta sebelah, bahkan di akhir hayatnya beliau mengalami kebutaan total.

Namun, di balik fisik yang penuh dengan keterbatasan tersebut, Allah menitipkan kecerdasan yang luar biasa, hati yang bersih, dan semangat baja yang tak tertandingi dalam menuntut ilmu agama.

Menemukan Jalan Kemuliaan Melalui Ilmu

Menyadari kondisinya sebagai budak dengan fisik yang penuh keterbatasan, Atha bin Abi Rabah sadar bahwa dunia tidak akan pernah berpihak padanya jika ia hanya mengandalkan kekuatan materi atau nasab. Ia memilih jalan yang ditunjukkan oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Atha membagi waktunya dengan sangat disiplin. Sebagian waktunya ia gunakan untuk mengabdi dan melayani majikannya, dan sebagian waktu lainnya ia habiskan di Masjidil Haram untuk duduk di majelis-majelis ilmu para Sahabat Nabi ﷺ. Sang majikan yang melihat kesalehan, ketekunan, dan kecerdasan Atha, pada akhirnya merasa takjub. Demi mengharap ridha Allah, wanita tersebut memerdekakan Atha bin Abi Rabah, membiarkannya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu.

Berguru kepada Bintang-Bintang Sahabat Nabi

Keuntungan terbesar Atha bin Abi Rabah adalah hidup di masa dan tempat di mana para Sahabat senior pembawa risalah Nabi ﷺ masih hidup dan menetap atau berkunjung ke Makkah. Beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Atha berguru kepada pilar-pilar keilmuan Islam saat itu. Guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu Nabi ﷺ yang didoakan langsung oleh Rasulullah agar menjadi ahli tafsir Al-Qur’an. Dari Ibnu Abbas, Atha menyerap ilmu tafsir, fiqih, dan hadits. Selain itu, beliau juga mengambil ilmu dari Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, Abu Hurairah, dan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ketekunannya dalam meriwayatkan hadits menjadikannya salah satu perawi yang tsiqah (terpercaya). Banyak hadits-hadits sahih dalam Kutubus Sittah (termasuk Shahih Bukhari dan Muslim) khususnya yang berkaitan dengan manasik haji, diriwayatkan melalui jalur Atha bin Abi Rabah.

Diangkat Menjadi Mufti Agung Makkah

Keluasan ilmu Atha bin Abi Rabah, khususnya di bidang fiqih ibadah Haji, membuatnya sangat dihormati. Bahkan, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma—salah satu sahabat yang paling faqih—pernah berkata kepada penduduk Makkah yang mendatanginya untuk meminta fatwa: “Mengapa kalian mengumpulkan fatwa kepadaku, padahal di tengah-tengah kalian ada Atha bin Abi Rabah?”

Puncak pengakuan atas keilmuan beliau terjadi di masa kekhalifahan Bani Umayyah. Para khalifah secara resmi mengumumkan pada musim haji di Makkah: “Tidak boleh ada yang memberikan fatwa kepada jamaah haji kecuali Atha bin Abi Rabah.”

Khalifah yang Bersimpuh di Hadapan Mantan Budak

Ada satu kisah epik yang sangat masyhur dalam literatur sejarah Islam mengenai kewibawaan ilmu Atha bin Abi Rabah. Kisah ini melibatkan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, salah satu penguasa paling kuat di masa Bani Umayyah.

Suatu ketika, Khalifah Sulaiman beserta dua orang putra mahkotanya datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Karena ada beberapa hal mengenai manasik haji yang belum mereka pahami, sang Khalifah mencari mufti Makkah. Mereka diarahkan kepada Atha bin Abi Rabah.

Ketika mereka tiba, Atha sedang melaksanakan shalat. Sang Khalifah dan anak-anaknya, pemimpin separuh dunia saat itu, harus duduk menunggu dengan sabar di belakang Atha. Setelah selesai, Khalifah memutar tubuhnya dan mulai bertanya mengenai hukum-hukum haji. Atha bin Abi Rabah menjawab rentetan pertanyaan tersebut dengan lugas, tegas, dan tanpa sedikit pun merasa gentar atau canggung di hadapan sang penguasa dunia. Bahkan, Atha menjawabnya tanpa menoleh, tetap fokus pada kiblatnya.

Setelah selesai bertanya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bangkit dan menarik tangan kedua putranya. Di saat itulah keluar sebuah nasihat emas dari sang Khalifah kepada anak-anaknya:

“Wahai anak-anakku, bertakwalah kepada Allah dan tuntutlah ilmu agama! Demi Allah, aku tidak akan pernah lupa bagaimana hinanya posisi kita (sebagai penguasa) saat duduk di hadapan hamba sahaya berkulit hitam tadi. Sesungguhnya dengan ilmu, orang yang hina menjadi mulia, dan budak sahaya bisa melampaui kedudukan para raja.”

Ketawadhuan dan Ibadah Sang Ulama

Meskipun telah mencapai kedudukan tertinggi sebagai ulama dan rujukan umat di seluruh dunia Islam, Atha bin Abi Rabah tidak pernah terjangkit penyakit hubbud dunya (cinta dunia) atau kesombongan. Beliau menjadikan Masjidil Haram sebagai “rumah” utamanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Juraij, salah satu murid utamanya, bahwa Atha menjadikan pelataran Masjidil Haram sebagai tempat tidurnya selama kurang lebih dua puluh tahun. Kehidupannya sangat zuhud. Beliau tidak menumpuk harta, tidak membangun istana, meskipun para khalifah sering menawarkan hadiah dan harta yang melimpah kepadanya. Atha selalu menolaknya dengan halus, menegaskan bahwa ilmu yang ia cari semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari muka di hadapan penguasa atau mengejar kekayaan fana.

Pelajaran Berharga (Hikmah) dari Kisah Atha bin Abi Rabah

Kisah hidup Atha bin Abi Rabah bukanlah sekadar dongeng sejarah, melainkan monumen abadi yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam modern, terutama dalam menyikapi kehidupan dan keilmuan:

  1. Ilmu Agama Mengangkat Derajat Seseorang: Harta, tahta, dan nasab akan habis dimakan waktu. Namun, ilmu yang bermanfaat akan mengangkat derajat seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Kekurangan finansial bukanlah halangan untuk sukses di mata Allah.
  2. Penghapusan Rasisme dalam Islam: Kisah Atha adalah bukti valid bahwa Islam tidak memandang warna kulit, bentuk wajah, atau status sosial. Seseorang yang secara fisik dianggap remeh oleh manusia, bisa menjadi sosok yang fatwanya ditaati oleh para khalifah dan jutaan umat.
  3. Keterbatasan Fisik Bukan Alasan: Atha memiliki cacat fisik komplikasi (pincang, buta, lumpuh), namun beliau tidak menjadikannya sebagai dalih untuk bermalas-malasan. Justru, hal tersebut diubahnya menjadi energi untuk meraih pencapaian tertinggi di bidang spiritual dan intelektual.
  4. Zuhud dan Tawadhu: Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin merunduk dan tawadhu. Atha bin Abi Rabah menunjukkan bahwa popularitas dan penghormatan manusia tidak mengubah gaya hidupnya yang sederhana dan selalu dekat dengan Allah.

Penutup

Atha bin Abi Rabah rahimahullah wafat pada tahun 114 Hijriah (sekitar 732 Masehi) di usia yang sangat senja, lebih dari 80 tahun. Sepeninggalnya, umat Islam menangisi kepergian lautan ilmu Makkah ini. Beliau meninggalkan warisan keilmuan yang abadi; dari fatwa-fatwanya yang tersusun dalam berbagai kitab fiqih, hingga sanad-sanad hadits yang mengalir pahalanya hingga hari Kiamat.

Kisah ketokohan Atha bin Abi Rabah mengingatkan kita kembali pada hakikat sejati sebuah kemuliaan. Bahwa kehormatan sejati tidak diukur dari seberapa bagus rupa kita atau seberapa mahal pakaian kita, melainkan seberapa dalam ilmu kita, seberapa kuat ketakwaan kita, dan seberapa besar manfaat kita bagi umat manusia. Semoga Allah merahmati Atha bin Abi Rabah dan menumbuhkan generasi muda Muslim saat ini yang memiliki semangat menuntut ilmu sebagaimana beliau.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button