Dalam sejarah peradaban Islam, generasi setelah para Sahabat Nabi memegang peranan yang sangat vital. Mereka adalah generasi Tabi’in, pilar penyambung lidah kenabian yang menjaga kemurnian Al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu bintang paling terang dari generasi ini, khususnya di wilayah Kufah, adalah seorang ulama besar bernama Alqamah bin Qais.
Sebagai seorang penulis konten muslim dan pemerhati sejarah Islam, saya mengajak Anda untuk menyelami kisah Alqamah bin Qais secara mendalam. Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang kredibel, hadits shahih, dan literatur sejarah para ulama (seperti kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi), sekaligus meluruskan beberapa kerancuan kisah yang sering beredar di masyarakat mengenai nama “Alqamah”.
Mengenal Lebih Dekat Alqamah bin Qais An-Nakha’i

Nama lengkap beliau adalah Alqamah bin Qais bin Abdullah bin Malik An-Nakha’i Al-Kufi. Beliau lahir pada masa kehidupan Rasulullah ﷺ, namun tidak pernah bertatap muka langsung dengan Nabi. Oleh karena itu, dalam ilmu Musthalah Hadits dan sejarah Islam, beliau dikategorikan sebagai Mukhadhram (orang yang hidup di masa Jahiliyah dan masa Nabi, masuk Islam, namun tidak sempat melihat Nabi ﷺ). Karena status inilah beliau masuk ke dalam jajaran pembesar Tabi’in, bukan Sahabat.
Alqamah berasal dari kabilah An-Nakha’i, sebuah kabilah terkemuka di Yaman yang terkenal dengan keberanian, kecerdasan, dan kelembutan hatinya dalam menerima Islam. Beliau kemudian menetap di Kufah (sekarang bagian dari Irak), yang pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam terbesar.
Kedudukan Istimewa: Pewaris Ilmu dan Akhlak Abdullah bin Mas’ud
Kisah Alqamah bin Qais tidak bisa dilepaskan dari sosok Sahabat besar, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud adalah salah satu Sahabat yang paling mengerti Al-Qur’an dan fiqih. Dari sekian banyak murid Ibnu Mas’ud di Kufah, Alqamah adalah murid yang paling menonjol, paling cerdas, dan paling mirip karakter serta akhlaknya dengan sang guru.
Hal ini bukan sekadar klaim sejarah, melainkan tercatat dalam hadits yang shahih. Dalam Shahih Bukhari (Hadits No. 3762), diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid:
Kami bertanya kepada Hudzaifah tentang seorang laki-laki yang paling mirip bimbingan, ketenangan, dan perilakunya dengan Nabi ﷺ agar kami bisa mengambil ilmu darinya. Hudzaifah menjawab, “Aku tidak mengetahui seorang pun yang paling mirip bimbingan, ketenangan, dan perilakunya dengan Nabi ﷺ daripada Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud).” Dan orang-orang yang berilmu dari sahabat-sahabat Abdullah mengetahui bahwa Alqamah adalah orang yang paling mirip bimbingan dan perilakunya dengan Abdullah (bin Mas’ud).
Pernyataan ini adalah sebuah pujian yang luar biasa. Jika Ibnu Mas’ud adalah orang yang paling meneladani akhlak Nabi ﷺ, dan Alqamah adalah orang yang paling meneladani Ibnu Mas’ud, maka Alqamah berada di atas jalur sanad akhlak kenabian yang sangat mulia.
Keahlian Alqamah dalam Al-Qur’an dan Fiqih
Alqamah bin Qais memiliki suara yang sangat merdu saat membaca Al-Qur’an, dipadukan dengan pemahaman tafsir yang mendalam. Saking indahnya bacaan beliau, Abdullah bin Mas’ud sering kali memintanya untuk membacakan Al-Qur’an.
Beliau juga merupakan mata rantai (sanad) utama dalam periwayatan Qira’at (bacaan Al-Qur’an) di Kufah. Melalui jalur Alqamah inilah ilmu Al-Qur’an Ibnu Mas’ud diwariskan kepada generasi berikutnya, hingga sampai kepada Imam Qira’at masyhur seperti Imam Hamzah dan Imam Ashim (yang riwayatnya paling banyak dibaca umat Islam seluruh dunia saat ini).
Dalam bidang Fiqih, kedalaman ilmu Alqamah diakui oleh para Sahabat. Bahkan, para Sahabat Nabi yang masih hidup sering merujuk dan bertanya kepada Alqamah dalam masalah-masalah agama. Ibnu Mas’ud pernah berkata kepada Alqamah, “Segala hal yang aku baca dan aku ketahui, maka engkau pun telah membacanya dan mengetahuinya.” Ini adalah bentuk “ijazah” keilmuan mutlak dari seorang Sahabat besar kepada Tabi’in.
Ketawadhuan dan Penolakan Terhadap Popularitas
Meskipun diakui sebagai ulama rujukan tertinggi di Kufah, Alqamah bin Qais adalah sosok yang sangat tawadhu’ (rendah hati) dan membenci popularitas (syuhrah).
Dalam catatan sejarah yang diriwayatkan oleh Imam Adz-Dzahabi, disebutkan bahwa Alqamah sering kali menghindari majelis yang terlalu ramai dan menolak untuk ditunjuk sebagai pemimpin agama jika masih ada orang lain yang mampu. Beliau fokus pada ibadah, mengajarkan ilmu secara tulus, dan menjauhkan diri dari gemerlap kekuasaan duniawi. Beliau wafat sekitar tahun 62 Hijriah, meninggalkan warisan ilmu yang terus mengalir hingga hari ini.
Meluruskan Kesalahpahaman: Kisah “Alqamah Durhaka pada Ibunya”
Dalam konteks penelusuran tentang “Kisah Alqamah”, sering kali umat Islam langsung teringat pada sebuah kisah dramatis tentang seorang pemuda bernama Alqamah di zaman Nabi ﷺ. Pemuda ini dikisahkan rajin shalat, puasa, dan sedekah, namun saat sakaratul maut, lisannya terkunci dan tidak bisa mengucapkan Laa ilaaha illallah karena ibunya marah kepadanya. Kisah tersebut menceritakan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar guna membakar Alqamah, yang membuat sang ibu akhirnya luluh dan memaafkannya.
Sebagai konten kreator muslim yang berpegang pada prinsip keilmuan yang valid, kita perlu meluruskan hal ini:
- Pemuda dalam kisah tersebut BUKANLAH Alqamah bin Qais An-Nakha’i. Alqamah bin Qais adalah sosok ulama besar Tabi’in yang sangat bertakwa dan berakhlak mulia.
- Derajat Hadits Kisah Alqamah yang Durhaka: Kisah tentang pemuda Alqamah yang sulit mati karena ibunya marah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ath-Thabarani. Namun, para ulama pakar hadits, termasuk Imam Ibnu Al-Jauzi dan Syaikh Al-Albani (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah no. 3183), menilai bahwa sanad kisah ini Sangat Lemah (Dha’if Jiddan) bahkan dinilai Palsu (Maudhu’) oleh sebagian ulama. Hal ini disebabkan adanya perawi bernama Fa’id Abu Al-Warqa’ yang disepakati oleh para ulama hadits sebagai perawi yang Matruk (ditinggalkan haditsnya/tertuduh berdusta).
- Kesimpulan: Meskipun pesan moral untuk berbakti kepada orang tua (Birrul Walidain) itu sangat benar dan disyariatkan dalam Islam, kita tidak boleh menyandarkan sebuah kisah yang sanadnya rapuh atau palsu kepada Rasulullah ﷺ.
Pelajaran Penting (Ibrah) dari Kehidupan Alqamah bin Qais
Mempelajari sejarah hidup ulama salaf seperti Alqamah bin Qais memberikan banyak suntikan motivasi bagi umat Islam di era modern. Beberapa hikmah yang dapat kita ambil antara lain:
- Pentingnya Bersanad dalam Ilmu dan Akhlak: Alqamah tidak belajar agama secara otodidak. Beliau menempel ketat pada sosok guru yang kredibel (Ibnu Mas’ud), sehingga tidak hanya menyerap ilmunya, tetapi juga mewarisi ketenangan jiwa dan akhlaknya. Di era digital saat ini, penting bagi umat Islam untuk mencari guru yang jelas sanad keilmuan dan akhlaknya.
- Menghindari Penyakit Popularitas (Syuhrah): Kehebatan sesungguhnya bukan diukur dari seberapa terkenal seseorang, melainkan dari seberapa besar manfaat keilmuannya dan seberapa ikhlas niatnya. Alqamah bin Qais membuktikan bahwa keikhlasan akan membuat nama seseorang abadi dalam catatan sejarah emas Islam, meskipun ia sendiri menghindarinya semasa hidup.
- Validasi Informasi (Tabayyun): Dengan memahami sejarah Alqamah bin Qais, kita belajar untuk selalu kritis dan melakukan tabayyun (cek dan ricek) terhadap kisah-kisah populer di masyarakat yang belum tentu memiliki keabsahan riwayat (shahih).
Kesimpulan
Kisah Alqamah bin Qais An-Nakha’i adalah potret ideal seorang pelajar dan ulama dalam Islam. Beliau merepresentasikan kecerdasan spiritual dan intelektual dari generasi Tabi’in yang mengabdi sepenuhnya pada agama Allah. Keilmuannya dalam Fiqih dan Al-Qur’an menjadikannya rujukan bagi para Sahabat Nabi sekalipun, sementara ketawadhuannya menjadikannya teladan sepanjang masa.
Mengenal Alqamah yang sesungguhnya—sang ulama pewaris Ibnu Mas’ud—jauh lebih berharga secara keilmuan daripada sekadar larut dalam kisah populer nir-sanad yang sering salah disematkan pada namanya. Semoga kita semua mampu meneladani kegigihan, keikhlasan, dan akhlak mulia dari sosok Tabi’in agung ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.
Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
