Dalam sejarah keemasan Islam, generasi setelah para Sahabat Nabi (Tabi’in) memegang peranan yang sangat krusial. Mereka adalah jembatan emas yang menyambungkan wahyu dan sunnah dari generasi pertama kepada generasi-generasi berikutnya. Salah satu bintang paling terang di era tersebut adalah seorang ulama besar dari kota Nabi, yakni Abu Bakar bin Abdurrahman.
Artikel ini akan mengupas tuntas kisah Abu Bakar bin Abdurrahman, perjalanan intelektualnya, hingga keteladanannya dalam beribadah yang membuatnya dijuluki sebagai “Rahib Quraisy”. Sebagai seorang muslim, mengenal biografi ulama salaf bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menyerap energi spiritual dan kompas moral untuk kehidupan kita saat ini.
Siapakah Abu Bakar bin Abdurrahman?

Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah Al-Makhzumi Al-Quraisy. Beliau berasal dari kabilah Bani Makhzum, salah satu cabang dari suku Quraisy yang sangat dihormati dan memiliki kedudukan tinggi di Makkah.
Ayah beliau, Abdurrahman bin Al-Harits, adalah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang mulia. Kakeknya, Al-Harits bin Hisyam, juga merupakan seorang sahabat besar dan saudara kandung dari Abu Jahl, namun Al-Harits memilih jalan hidayah dan memeluk Islam pada peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Makkah).
Tumbuh dan berkembang di kota Madinah Al-Munawwarah pada abad pertama Hijriah, Abu Bakar bin Abdurrahman (rahimahullah) hidup di lingkungan yang dipenuhi oleh para sahabat besar. Lingkungan inilah yang membentuk karakter, keilmuan, dan ketakwaannya sejak usia dini.
Julukan “Rahib Quraisy”: Puncak Keteladanan dalam Ibadah
Salah satu hal yang paling menonjol dalam kisah Abu Bakar bin Abdurrahman adalah intensitas ibadahnya yang luar biasa. Di kalangan ulama Tabi’in, beliau dikenal dengan julukan “Rahib Quraisy” (Pendeta suku Quraisy).
Dalam tradisi Islam, kata “Rahib” di sini sama sekali tidak merujuk pada praktik kependetaan agama lain yang menjauhi dunia secara ekstrem. Sebaliknya, julukan ini adalah bentuk kiasan (majaz) yang diberikan oleh masyarakat pada masa itu untuk menggambarkan kekhusyukan, banyaknya shalat malam (qiyamul lail), serta rutinitas puasanya yang tidak kenal lelah.
Ibnu Sa’ad dalam kitab monumentalnya, Ath-Thabaqat Al-Kubra, mencatat kesaksian para ulama sezamannya yang menyatakan bahwa Abu Bakar bin Abdurrahman adalah sosok yang sangat takut kepada Allah ﷻ. Beliau sering kali menangis karena takut kepada Allah, dan menghabiskan sebagian besar waktu malamnya untuk berdiri di hadapan Sang Pencipta. Keteladanan ini menjadi pengingat bagi umat Islam modern, bahwa keilmuan yang tinggi harus selalu diiringi dengan ibadah yang mendalam.
Kedudukan Keilmuan dan Perannya sebagai Fuqaha Madinah
Di bidang keilmuan Islam, nama Abu Bakar bin Abdurrahman tidak bisa dipisahkan dari sejarah perumusan fiqih Islam. Beliau termasuk dalam jajaran kehormatan “Fuqaha As-Sab’ah” atau Tujuh Ahli Fiqih Madinah.
Tujuh Fuqaha Madinah adalah majelis ulama paling otoritatif di Madinah pasca-wafatnya para sahabat senior. Mereka bertugas mengeluarkan fatwa, mengajarkan agama, dan merumuskan hukum-hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Ketujuh ulama tersebut antara lain:
- Sa’id bin Al-Musayyab
- Urwah bin Az-Zubair
- Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar
- Kharijah bin Zaid bin Tsabit
- Abu Bakar bin Abdurrahman
- Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah
- Sulaiman bin Yasar
Sebagai salah satu dari pilar fatwa di Madinah, Abu Bakar mengambil ilmu langsung dari sumber-sumber utama. Beliau meriwayatkan hadits dari banyak sahabat besar, seperti Abu Hurairah, Ammar bin Yasir, dan yang paling istimewa adalah dari istri-istri Nabi ﷺ (Ummul Mukminin), yakni Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma.
Bukti Validitas Ilmu: Riwayat Hadits Shahih
Untuk melihat kualitas keilmuan beliau, kita dapat merujuk pada salah satu peristiwa periwayatan hadits shahih yang sangat masyhur terkait hukum puasa.
Dalam Shahih Al-Bukhari (Hadits no. 1926) dan Shahih Muslim (Hadits no. 1109), terdapat sebuah riwayat yang mengisahkan semangat Abu Bakar bin Abdurrahman dalam mencari kebenaran hukum agama:
Abu Bakar bin Abdurrahman menceritakan bahwa suatu ketika, Gubernur Madinah saat itu, Marwan bin Hakam, mendapatkan pertanyaan mengenai hukum orang yang mendapati waktu Subuh dalam keadaan junub (belum mandi wajib). Apakah puasanya sah?
Abu Bakar bin Abdurrahman dan ayahnya kemudian berinisiatif untuk mencari jawaban langsung dari sumber yang paling mengetahui keseharian Nabi ﷺ di dalam rumah. Mereka mendatangi Aisyah dan Ummu Salamah.
Abu Bakar menceritakan:
“Aku dan ayahku pergi menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu Aisyah berkata: ‘Nabi ﷺ pernah mendapati waktu fajar (Subuh) dalam keadaan junub bukan karena mimpi (melainkan karena berhubungan suami istri), kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa.’ Kemudian kami pergi menemui Ummu Salamah, dan beliau pun mengatakan hal yang sama.”
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Abu Bakar dan ayahnya kembali kepada Marwan untuk meluruskan hukum tersebut. Hadits ini menjadi landasan fiqih yang mutlak (ijma’) hingga hari ini bahwa orang yang masuk waktu Subuh dalam keadaan junub, puasanya tetap sah dan ia hanya perlu mandi wajib untuk melaksanakan shalat Subuh.
Kisah ini menyoroti metodologi ilmiah Abu Bakar bin Abdurrahman yang sangat ketat: melakukan tabayyun (verifikasi), merujuk pada sumber ahli, dan menyampaikan kebenaran dengan lugas.
Ujian Kehidupan: Kehilangan Penglihatan dan Kesabaran
Seperti halnya para nabi dan orang-orang saleh, kehidupan Abu Bakar bin Abdurrahman juga tidak lepas dari ujian. Di masa tuanya, beliau diuji oleh Allah ﷻ dengan kehilangan penglihatannya (kebutaan).
Meskipun matanya tidak lagi bisa melihat dunia, mata hatinya (bashirah) justru semakin tajam. Kehilangan penglihatan sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk terus mengajarkan ilmu hadits dan fiqih di Masjid Nabawi. Beliau tetap menjadi rujukan umat, menghabiskan sisa usianya dalam keadaan ridha atas ketetapan Allah, bersabar, dan terus memperbanyak dzikir. Sikap ini mengajarkan kepada kita makna dari sabda Nabi ﷺ bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya.
Wafatnya Sang Ulama Besar (Tahun Para Fuqaha)
Perjalanan panjang sang “Rahib Quraisy” di dunia ini berakhir pada tahun 94 Hijriah. Tahun tersebut dikenang dalam lembaran sejarah Islam sebagai Sanatul Fuqaha (Tahun Para Ahli Fiqih).
Mengapa disebut demikian? Karena pada tahun 94 H tersebut, umat Islam di Madinah ditimpa kesedihan yang bertubi-tubi dengan wafatnya sejumlah besar ulama fikih terkemuka, termasuk di antaranya Sa’id bin Al-Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, dan Abu Bakar bin Abdurrahman (rahimahumullah). Wafatnya mereka adalah sebuah musibah besar bagi ilmu pengetahuan, sebagaimana perumpamaan bahwa wafatnya seorang ulama adalah hilangnya sebagian dari ilmu itu sendiri.
Hikmah dan Pelajaran yang Bisa Diambil
Mempelajari kisah Abu Bakar bin Abdurrahman memberikan kita beberapa hikmah praktis yang bisa diaplikasikan dalam strategi kehidupan kita saat ini:
- Pentingnya Menyeimbangkan Ilmu dan Amal: Memiliki gelar atau pengetahuan agama yang luas tidak lantas membuat seseorang meremehkan ibadah. Abu Bakar bin Abdurrahman membuktikan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang (sebagai salah satu Fuqaha), harusnya semakin takut ia kepada Allah (tercermin dalam julukan Rahib Quraisy).
- Ketelitian dalam Menggali Informasi (Tabayyun): Di era digital saat ini, di mana hoaks dan misinformasi tersebar luas, kita harus meniru metode Abu Bakar yang rela berjalan mendatangi istri-istri Nabi hanya untuk memastikan kebenaran sebuah hukum satu persoalan (hukum puasa bagi yang junub). Merujuklah pada ahlinya.
- Kesabaran Menghadapi Ujian Fisik: Kebutaan di masa tua bukan alasan bagi beliau untuk pensiun dari berdakwah dan menebar manfaat. Ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering mengeluh meski memiliki fisik yang sempurna.
Semoga Allah merahmati Abu Bakar bin Abdurrahman, menempatkannya di surga tertinggi bersama para Nabi, Syuhada, dan orang-orang saleh, serta menjadikan kisah hidupnya sebagai mercusuar petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Amin.
Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
