Jujur, tidak bisa dimaknai hanya sekedar lugu dalam berucap. Melainkan jujur juga bermakna membenarkan apa saja yang datang dari Allah dan rasul-Nya. selain itu jujur juga bermakna pasrah hanya kepada Allah Ta’ala.
Dahulu para salafush shalih setiap kali hendak bepergian mereka selalu berdoa;
أَسْـتَوْدِعُ اللهَ دِيْـنَكَ وَ أَمَـانَـتَكَ وَخَـوَاتِـيْـمَ عَـمَلِـكَ.
Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan amal terakhirmu kepada Allah.
Ketika hendak safar, seorang mukmin ‘membekali’ keluarga yang ditinggalkan dengan doa:
زَوَّدَكَ التّـقْـوَى وَغَـفَـرَ ذَنْـبَـكَ وَيَـسَّـرَ لَكَ الْخَيْـرَ حَيْـثُ مَا كُـنْـتَ.
Semoga Allah membekalimu ketaqwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu di manapun kamu berada.
Ketika seorang mukmin bersafar dan kemungkinan besar akan bermukim di tempat safarnya, maka dia akan berdoa untuk keluarganya;
أَسْـتَـوْدِعُـكَ اللهَ الَّذِي لَا تَـضِيْـعُ وَدَائَـعُـهُ.
Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan (yang dititipkan kepada-Nya).

Maksud dari do’a-do’a di atas, selain disunnahkan, juga mengandung makna keluar dan masuk seseorang. Yakni masuk dan keluar yang benar, jujur. Tidak asal masuk dan keluar melainkan selalu menitik-beratkan pada sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam.
Sebagaimana di atas sudah disinggung bahwa; bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam keluar dari Makkah itu karena atas perintah Allah Ta’ala? Padahal saat itu sudah banyak sahabat beliau yang sudah berangkat hijrah dengan cara sembunyi-sembunyi, tetapi beliau sendiri belum berangkat. Hal itu bukan karena beliau takut atau ingin menghindar, tetapi memang beliau masih menunggu perintah dari Allah Ta’ala. Begitu ketika beliau masuk ke Madinah.
Bukankah sebenarnya beliau sudah –hampir- sampai? Tetapi beliau tidak langsung masuk ke Madinah disebabkan menunggu perintah Allah Ta’ala. Maka kemudian ketika beliau singgah dahulu di Quba, beliau mendirikan masjid –sebagi sentral kegiatan umat-.
Adapun ucapan do’a itu sendiri adalah bagian dari bentuk pujian kejujuran seseorang kepada AllahTa’ala dan bentuk kepasrahannya sebagai seorang hamba. Yakni diri jujur bahwa selama dalam safarnya itu tentu dirinya tidak bisa maksimal dalam membina keluarganya. Oleh karenanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkannya seperti itu.
Yakni memasrahkan keluarga yang ditinggalkan kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb yang mengatur segalanya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
