Kedudukan Jujur Bag.6

Hakekat kejujuran dari kelima perkara tersebut adalah sebuah kebenaran yang pasti tersambung kepada Allah Ta’ala; dilakukan dengan cara yang benar dan demi kebenaran, baik dalam ucapan dan perbuatan sebagai balasan di dunia dan akhirat.

Oleh karenanya; orang yang jujur itu pasti akan memikirkan bagaimana mencari, cara mendapatkan dan menyalurkannya. Begitu juga ketika keluar dan masuknya suatu pekerjaan atau amalan. 

Sebab orang-orang yang jujur (imannya) itu tidak melulu hanya jujur seperti orang-orang yang lugu. Melainkan mereka memikirkan bagaimana kelima perkara yang selalu diamalkannya itu benar-benar bisa diterima Allah Ta’ala sebagai amal shalih bagi dirinya.

Hal itu berbeda dengan para pendusta. Mereka tidak memikirkan bagaimana mencari, cara mendapatkan dan menyalurkannya. Tidak jauh berbeda juga; ketika masuk dan keluarnya suatu perkerjaan atau amalan. 

hakikat kejujuran

Sebab para pendusta itu tidak ppernah berfikir apakah pekerjaan dan amalnya itu bisa bernilai dihadapan Allah atau tidak? Bisa diterima Allah atau tidak. 

Bagi mereka; yang penting dirinya sudah ‘menggugurkan’ kewajiban. Untuk masalah nilai maka mereka sama sekali tidak memikirkannya alias acuh.

Maka di sinilah perlunya menggosok masalah ketulusan atau keikhlasan dalam beramal, hanya kepada dan diperuntukkan (hanya) kepada Allaha Ta’ala semata. 

Lihatlah bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam saat keluar dari Makkah (untuk hijrah) kemudian masuk ke Madinah. Ya, beliau keluar dari Makkah akrena atas perintah Allah, lalu masuk kota Madinah juga atas perintah Allah.

Makanya ketika belum ada perintah Allah, beliau mampir dahulu di pinggir kota Madinah lalu mendirikan masjid dahulu di sana. 

Sementara itu pasukan sekutu (Ahzab) mereka berencana memasuki kota Madinah tetapi mereka gagal karena kedustaannya kepada Allah dan rasul-Nya. Bahkan Allah mengabadikannya dalam firman-Nya:

يَـآ أَيُّـهَـا الَّذِيْـنَ آمَنُوا اذْكُـرُوْا نِـعْـمَةَ اللهِ عَـلَيْـكُـمْ إِذْ جَـاءَتْـكُـمْ جُـنُوْدٌ فَـأَرْسَـلْـنَـا عَـلَيْـهِـمْ رِيْـحًـاوَجُـنُوْدًا لَّـمْ تَـرَوْهَـا، وَكَـانَ اللهُ بِـمَـا تَـعْمَـلُوْنَ بًـصِيْـرًا.

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taupan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Qs. Al Ahzab 9. 

Bisa dibayangkan bukan? Pasukan sekutu yang berjumlah sepuluh ribu prajurit –kesemuanya- ingin menyerang kota Madinah. Ingin menghancurkan kotanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam –Madinah Al Munawwarah-. 

Wal hasil, justru mereka yang dihancur leburkan dan dicerai beraikan pasukannya. Bahkan sesama internal pasukan mereka sendiri saling curiga.

Itu disebabkan mereka ingin masuk ke Madinah bukan karena kejujurannya menerima risalah Islam, melainkan justru ingin memadamkan cahaya Islam. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button