Bila ada orang yang tidak beriman tetapi memiliki perilaku yang baik dan suka berkata jujur tetapi tidak disebut sebagai orang jujur. Lalu siapa sebenarnya yang jujur itu?
Pertanyaan yang sangat bagus sekali.
Seseorang dikatakan jujur apabila telah memenuhi tiga kriteria berikut ini:
• Jujur dalam perkataan.
Yang dimaksud dengan jujur dalam perkataan; dia mengatakan melalui lisannya bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhammad dalah rasul dan hamba-Nya Allah Ta’ala.
• Jujur dalam perbuatan.
Bila seseorang telah beriman secara lisan (mengucapkan dua kalimat syahadat), kemudian diiringi dengan perbuatannya yang berkesesuaian dengan dua kalimat syahadat tersebut.
• Jujur dalam situasi dan keadaan apapun.

Dalam situasi dan kondisi apapun; terutama ketika seseorang (yang menyatakan dirinya beriman) dihadapkan dengan yang sesuatu yang harus dipilih secara cepat dan tepat. Maka di sana akan terlihat benar dan tidaknya keimanan seseorang.
Contoh, seseorang yang telah memahami secara benar tentang “Allah Yang Maha Melihat”. Nah ketika dalam kondisi kepepet atau dalam kondisi yang sangat banyak peluang untuk melakukan maksiat, maka dia sama sekali tidak mau melakukannya. Sebab dia telah menyadari bahwa dengan cara apapun –seandainya melakukan kemaksiatan- diri menutup-nutupi kemaksiatannya maka Allah pasti Melihatnya.
وَقُـل رَّبِّ أَخِـلْـنِى مُدْخَـلَ صِدْقٍ وَ أَخْـرِجْـنِى مُـخْـرَجَ صِدْقٍ وَ اجْعَـلْ لِى مِن لَّدُنْـكَ سُلْـطَانًـا نَصِيْـرًا.
Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Qs. Al Israa’ 80.
Pertanyaannya adalah; mungkinkah ketiga kriteria memang bisa dilengkapi oleh manusia atau ini hanya sekedar sebuah ‘ilusi’?
Jawabnya: Ya ada. Lihatlah sosok Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu.
Beliau adalah simbol dari sebuah produk kejujuran, sehingga beliau mendapatkan gelar khusus; Ash Shiddiq. Ya, beliau membenarkan risalah kenabian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika saat itu banyak manusia yang mencerca Rasulullah dan dakwahnya. Bahkan beliau-lah yang berani mengatakan, “Kalau dari Rasulullah, lebih dari itu pun saya percaya”.
Ya, peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah bercerita mengenai beliau selesai melakukan perjalanan ruhani, Isra’ dan Mi’raj. Padahal sebenarnya cerita Rasulullah akan dijadikan sebagai bahan untuk melemahkan iman kaum muslimin waktu itu. Tetapi kenyataannya ucapan Abu Bakar seperti itu. Jadi ya musyrikin Quraisy gigit jari.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
