Fenomena acuh terhadap hukum yang disunnahkan dan menutup mata terhadap perkara yang dianggap makruh itu kini telah mulai menggurita di tengah-tengah masyarakat. Sungguh ini adalah fenomena tentang indikasi lemahnya iman di tengah-tengah masyarakat. Hal itu terbukti setidaknya dari pertanyaan mereka (masyarakat) tentang perbuatan kebajikan, melainkan bertanya, “Perbuatan ini sampai derajat berdosa ataukah tidak?”. “Apakah perbuatan ini bernilai haram ataukah makruh semata?”.
Prinsip seperti ini sebenarnya akan menjerumuskan mereka pada perangkap jaring-jaring perkara syubhat dan makruh, yang suatu hari kelak mengantarkan mereka terjatuh kepada perkara-perkara yang haram. Orang seperti ini tidak memiliki halangan apapun yang mencegahnya dari melakukan perbuatan makruh atau perkara syubhat, selama belum masuk kategori haram.
Sikap seperti ini sebenarnya telah dijelaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam sabdanya:
وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُـهَـاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِـى يَـرْعَى حَوْلَ الْحِـمَى، يَـوْشِكُ أَنْ يُـرْتَعَ فِيْـهِ.
“Barangsiapa terjatuh dalam perkara-perkara syubhat niscaya akan terjatuh dalam perkara yang haram, bagaikan seorang pengembala hewa ternak yang menggembalakan hewan-hewan piaraannya di sekitar tanah larangan, suatu saat pasti hewan-hewan piaraannya itu akan menerjang ke dalam tanah larangan tersebut”. Riwayat Bukhari no. 52, Muslim no. 1599 dari Nu’man bin Basyir radliyallahu ‘anhu, dengan lafal Muslim.

Bila sudah begini, baisanya bila ada orang yang bertanya tentang suatu hukum perkara dijawab bahwa hukumnya haram, maka dia pasti akan menyeletuk, “Apakah derajat keharamannya berat atau ringan?”. “Seberapa beratkah dosa yang diakibatkan oleh perbuatan haram ini?”.
Oleh akrena itu hendaknya merenungi hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berikut ini:
“Sungguh aku benar-benar mengetahui beberapa kelompok dari umatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa amal-amal kebajikan seperti pegunungan Tihamah yang putih cemerlang, kemudian Allah menjadikannya debu yang beterbangan”.
Tsaubah Maula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bertanya, “Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami sifat mereka! Jelaskanlah kepada kami sosok mereka, agar kami tidak termasuk golongan mereka tanpa kami sadari!”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kalian juga dan mereka memiliki warna kulit yang sama dengan kalian. Mereka juga melakukan shalat malam sebagaimana kalian melakukan shalat malam. Hanya saja, saat mereka dalam keadaan sendirian, mereka berani untuk melanggar perkara-perkara yang diharamkan Allah”. Riwayat Ibnu Majah no. 4245.
Wallahua’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
