Iblispun Bertauhid
Sering dijumpai slogan atau tulisan atau bahkan anggapan bahwa penyelamat dari semua krisis saat ini adalah tauhid. Atau ketika melihat ada seseorang yang nyleneh sikpanya maka biasanya akan divonis dengan tauhidnya rusak, dan sebagainya.
Memang anggapan di atas tidak sepenuhnya salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Oleh karenanya agar mengetahui di mana letak salah dan benarnya maka alangkah baiknya bila mengetahui terlebih dahulu tentang tauhid itu sendiri.
Pada prinsipnya tauhid adalah mengESAkan Allah. Dalam kitab AL SHULUTS TSALATSAH karya Muhammad bin Abdul Wahab disebutkan; tauhid adalah mengESAkan Allah dalam (hal) beribadah.

Tetapi apabila menelisik lebih dalam diketahui bahwa tauhid itu sendiri, menurut pandangan para ulama, terbagi tiga: tauhid asma wa sifat, tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.
Tauhid asma wa sifat: merupakan bagian dari mentauhidkan (mengESAkan) Allah dalam aqidah Islam. Tauhid ini merupakan bentuk penerapan pengesaan dari makhluk terhadap Allah mengenai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang mana nama-nama dan sifat-sifat-Nya ini telah disematkan oleh diri-Nya sendiri.
Tauhid Rububiyah: meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat, menolak segala madlorot. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah berfirman: Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. Al Ikhlas 1-4.
Tauhid uluhiyah: mengESAkan segala bentuk peribadatan kepada Allah; seperti berdo’a, meminta, tawakkal, takut, berharap, menyembelih, nadzar, cinta dan selainnya dari segala jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dhalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.
Tetapi bila ingin lebih mudah memahaminya justru datang dari Ibnu Taimiyah. Beliau berpendapat (meringkas) tauhid itu menjadi dua: tauhid ilmu dan tauhid amal.
Adapun penjabarannya adalah bahwa tauhid ilmu itu ringkasan dari tauhid asma wa sifat dan tauhid rububiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah adalah tauhid amal (pengamalannya dalam dunia nyata).
Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengakui atau mengESAkan Allah dalam rububiyah dan asma wa sifat saja belum cukup. Sebab itu baru memasuki tauhid ilmu, belum masuk pada tauhid amal. Padahal yang dituntut adalah semua tauhid (asma wa sifat, rububiyah dan uluhiyah) harus diamalkan menjadi satu kesatuan. Tidak boleh dipisah-pisah. Sebab bila dipisah-pisah maka hal itu tidak jauh berbeda dengan iblis.
Lho, apakah iblis juga bertauhid? Jawabannya adalah: iya. Iblis juga bertauhid, tetapi iblis hanya sampai pada tauhid asma wa sifat dan tauhid rububiyah saja. Iblis tidak mau dengan tauhid uluhiyah.
Hal itu sudah Allah abadikan dalam Al Qur’an di banyak ayat, di antaranya:
1. Ketika iblis diperintahkan sujud kepada Adam
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Al A’raaf 12.
2. Iblis meminta jaminan kepada Allah dihidupkan sampai akhir zaman
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Al A’raaf 14.
Kesimpulan:
Ternyata iblis juga bertauhid tetapi hanya sebatas tauhid ilmu saja, belum sampai pada pengamalan. Yaitu ditunjukkannya bahwa iblis mengakui sebagai makhluk ciptaan Allah. Hanya saja iblis merasa lebih bagus daripada Adam, manusia. Dan dari situlah alasannya iblis menolak mentaati perintah Allah agar bersujud kepada Adam.
Nah, pelaksanaan sujud inilah sebenarnya yang masuk dalam area tauhid uluhiyah. Dan itu ditolah oleh iblis. Sehingga iblis disebut sombong dan kafir, lalu iblis diusir dari surga.
Tetapi sekali lagi, ilbis menunjukkan ‘ketauhidan’nya, namun hanya sebatas tauhid rububiyah. Yaitu iblis memohon agar usianya dipanjangkan hingga hari Kiamat. Hal bertujuan agar iblis bisa menggelincirkan manusia dari jalan Allah.
Walaupun mungkin bisa saja‘ Permohonan’ iblis ini disebut sebagai doa, tetap ternyata doa yang buruk untuk dirinya sendiri.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Baca Juga: Kunci Surga
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
