Tahukah bahwa hari ini begitu banyak manusia yang sangat menggandrungi pelawak. Apalagi jika lawakannya terlihat ‘natural’, wah sangat disenangi sekali pastinya. Tetapi ketahuilah bahwa para pelawak itu kelak akan berakhir tragis? Lho, kok bisa?
Bukankah para pelawak itu dalam lawakannya sering berdusta? Membuat olok-olokan agar terlihat ‘renyah’ lawakannya?
Padahal sudah jelas bahwa bahwa mengolok-olok dan berdusta itu dilarang dalam agama.
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang dzallim. Qs. Al Hujuraat 11.

Adapun lelucon itu sendiri sebenarnya lebih mengarah pada hal-hal yang sifatnya berdusta. Seperti, seseorang yang pura-pura gagap, atau tuli, atau justru malah menjatuhkan temannya dan satu lawakannya. Untuk apa semua itu mereka lakukan?
Tiada lain hanyalah agar bisa membuat para penggemar tertawa!
Maka jika semakin mampu membuat kebohongan yang menggelitik maka semakin banyaklah para penggemar tertawa terbahak-bahak. Jika sudah seperti itu pasti dianggapnya berhasil.
Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:
وَيْـلٌ لِـلَّـذِيْ يُـحَدِّثُ فَـيَـكْذِبُ لِـيُـضْحِـكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْـلٌ لَـهُ وَيْـلٌ لَـهُ.
“Celakalah orang yang menceritakan suatu cerita untuk membuat publik tertawa lantas dia berdusta. Celakalah dia dan celakalah dia!”. Terdapat pada Sunan Abu Daud 4990, Sunan Tirmidzi 2315 dan dia menetapkannya berderajat hasan. Al Albani juga menyatakan bahwa hadits ini berderajat hasan pada kitab At Targhiib 2944.
Pada hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
الْوَيْـلُ وَادِى فِى جَـهَـنَّـمِ.
“Al Wail adalah nama lembah di neraka Jahannam”. Terdapat pada Al Mustadrak Hakim, II/507, IV/596, dia menetapkannya berkedudukan shahih dan Dzahabi menyepakatinya.
Sebab perbuatan seperti ini akan menyeret pelakunya untuk membuat sekian banyak kedustaan terhadap sejumlah orang tertentu (penontonnya/penggemarnya) yakni berupa cerita-cerita tentang mereka. Padahal hal seperti itu seringnya banyak kedustaannya.
Ingatlah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terlah bersabda, “Hendaklah kalian menjauhi (perbuatan) dusta karena dusta itu akan menyeret pada kedurhakaan, dan keduanya itu berada di neraka”. Diriwayatkan Thabrani.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
