Harapan Bag.3

c. Menolak ghibah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya yang sedang digunjingkan maka merupakan hak Allah untuk membebaskannya dari api neraka”. Diriwayatkan Ahmad, dalam Shahiihul Jaami’ no. 6240.

Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mendengarkan gunjingan (ghibah) serta ridha atau senang terhadapnya, maka dia telah ikut melakukan dosa, sebagaimana juga orang yang membela kehormatan saudaranya yang digunjing. Maka dia juga mendapatkan pahala yang besar dan merupakan hak Allah untuk membebaskannya dari neraka.

Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adhim rahimahullah mengundang orang-orang dalam sebuah jamuan. Tatkala mereka duduk dihadapan hidangan, mereka justru asyik membicarakan seseorang. Maka berkatalah Ibrahim bin Adhim, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita, mereka memakan roti kemudian baru makan daging. Namun kalian kini memulai dengan memakan daging (sindiran untuk menggunjing) sebelum makan roti”.

Maka selayaknya setiap muslim bersikap cemburu terhadap agamanya, yakni dengan bersikap tidak rela jika ada seseorang yang melakukan ghibah dihadapannya. Karena kalau sampai rela, maka dia telah bersekutu dalam dosa dengan si penggunjing. Kalau sekiranya tidak mampu melakukan pembelaan atau menghentikannya maka sebaiknya meninggalkan tempat tersebut.

Demikian pula harus berhati-hati dari melakukan ghibah dengan alasan untuk meluruskan orang lain dan maslahat dakwah. Sebab terkadang ini merupakan tipu daya setan yang sering menjerumuskan manusia. Di mana ghibah yang mereka lakukan mereka kira sebagai bentuk maslahat ataupun nasehat. Kalau toh itu benar-benar sebagai nasehat, maka juga harus diperhatikan penerapannya. Sebab terkadang hal tersebut menjadi pemicu atas terjadinya sesuatu yang tidak pernah diprediksikan sebelumnya.

menjauhi perbuatan ghibah

Di sini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari media yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebarkan benih-benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat? Tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi  yang datang dari orang fasik. Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukan (beritanya).

Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. Qs. Qaaf 18. 

Sehingga sikap yang terbaik dari seorang muslim seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat yang dipelihara oleh Allah saat tersebarnya isu yang mencemarkan nama baik ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma. Yakni mereka tetap berbaik sangka terhadap sesama muslim dan senantiasa berwaspada terhadap orang fasik. Apalagi terhadap musuh Allah yang jelas-jelas memang menginginkan perpecahan dan perselisihan di tubuh kaum muslimin.

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu; “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. Qs. An Nuur 16.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button