Dari Said Al Jariri, dari Abil ‘Alaa’, ada seorang laki-laki berkata, ‘Saya datang kepada Tamim Ad Daari dan kami berbincang-bincang hingga saya mengenalnya (lebih dekat).
Maka saya tanyakan (kepadanya), “Berapa banyak pahalamu?”.
Beliau menjawab (dengan nada marah), “Barangkali engkau termasuk orang yang membaca Al Qur’an pada suatu malam, lalu pada pagi harinya berkata, ‘Saya telah membaca Al Qur’an pada suatu malam (Demi yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya)”.
Beliau melanjutkan, “Saya akan shalat nafilah tiga rakaat lebih saya sukai daripada membaca Al Qur’an pada malam hari, kemudian pada esok paginya saya mengkabarkan kepada manusia tentang amalan saya (yang tadi malam)”.
Seusai beliau membuat marah saya, saya berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya engkau adalah sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan siapapun yang masih tersisa di antara kalian, kalian berhak untuk diam, dan karena ketidak tahuan kalian lalu kalian menegur siapapun yang bertanya kepadamu”.

Ketika beliau melihat saya marah, beliau juga ikut marah dan berkata, “Apakah saya (terlihat) tidak mau berbicara denganmu, saudaraku? Bagaimana jika saya seorang mukmin yang kuat sedangkan kamu seorang mukmin yang lemah? Jadi kamu menanggung kekuatanku melawan kelemahanmu, sehingga akan muncul (tunas) kekuatan (baru), ini tidak bisa”.
“Atau kamu lihat, jika kamu adalah seorang mukmin yang kuat sedangkan saya adalah seorang mukmin yang lemah (maka ketika saya menanggung kekuatanmu melawan kelemahan saya, saya tidak mampu). Tetapi ambillah dari dirimu sendiri untuk agamamu dan dari agamamu untuk dirimu sendiri. Hingga diluruskan bagimu masalah ibadah yang dapat engkau tanggung”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 2/446.
Dari pembicaraan di atas setidaknya dapat diambil pelajaran bahwa antara sahabat dan tabi’in sama sekali tidak pernah ada sesuatu yang mengganjal kecuali segera mereka selesaikan sendiri. Agar tidak berlarut-larut hingga akan menimbulkan gesekan di antara mereka atau bahkan bisa lebar ke yang lainnya.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu tika kamu dahulu (di masa Jahiliyah) saling bermush-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. Qs. Ali Imran 103.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
