Hari ini banyak orang yang tertipu dengan melihat hanya dari satu sisi saja. Seperti masalah keilmuan, misalnya. Karena memang dalam Islam, yang namanya orang faqih itu tidak hanya dilihat dari sisi keilmuannya saja melainkan dilihat dari banyak sudut.
Kalau hanya melihat dari sisi keilmuan saja maka sebenarnya pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di Makkah pun sebenarnya bisa dibilang zaman modern dan memiliki peradaban. Namun kenyataannya hari ini kaum muslimin menyebutnya sebagai zaman Jahiliyah alias zaman kebodohan.
Ya, sebab waktu itu Makkah setidaknya dijadikan sebagai pusat ‘peradaban’ di jazirah Arab. Yakni setiap tahunnya banyak orang yang berdatangan ke Makkah dalam rangka melakukan ritual ibadah haji. Akan tetapi hajinya saat itu juga disebut HAJI JAHILIYAH. Sebab tata cara pelaksanaannya tidak sama dengan tata cara yang dilakukan oleh para jamaah haji dewasa ini.
Yakni mereka diwajibkan memakai pakaian ihram yang terbuat dari Makkah. Dan itu harganya sangat mahal. Lalu bila tidak anggup membelinya maka mereka diharuskan melakukan tawaf dengan cara telanjang!
Hari ini juga sama; sangat banyak hari ini orang yang terpelajar tetapi yang mengherankan; kemaksiatan masih saja lancar jaya.

Zina, misalnya. Semua orang tahu bahwa HIV/AIDS itu berasal dari perzinaan. Dan seluruh para pelajar memahami itu. Tetapi anehnya mereka tetap ingin melestarikan budaya perzinaan itu dengan cara membuat sarung (baca: kondom). Alasannya agar saat berzina bisa aman dari serangan virus yang mematikan; HIV/AIDS.
Jadi pengetahuan mereka itu ternyata tidak bisa dipakai untuk menggapai ridha ilahi.
Maka benarlah apa yang disampaikan sahabat Amru bin ‘Ash seperti riwayat di bawah ini:
Sufyan bin Uyainah berkata, Amru bin ‘Ash berkata, “Bukanlah orang berakal itu yang hanya mengetahui hal-hal yang baik dari yang jahat (buruk) saja. Tetapi orang yang berakal adalah dia yang mengetahui yang lebih baik dari dua keburukan”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/74.
Jadi orang alim, bijak dan pandai itu ukurannya bukan hanya terletak pada (karena) banyaknya ilmu melainkan dia yang bisa mengetahui kebaikan dari dua keburukan. Misal; seperti yang terjadi pada seorang ahli ibadah pada zaman Yahudi dahulu. Yakni saat dia dijebak oleh seorang wanita nakal. Sang hali ibadah sudah terjebak masuk ke dalam rumah wanita nakal. Kemudian wanita nakal itu memintanya untuk melayaninya. Sang wanita itu mengancam bila tidak mau maka dia akan berteriak dan akan mengatakan bahwa dirinya akan diperkosa oleh si ahli ibadah ini.
Akhirnya setelah diputar otaknya, sang ahli ibadah ini menemukan cara, yakni di meminta izin ke belakang dengan alasan kebelet. Setelah diizinkan maka sang ahli ibadah ini segera ke belakang dan langsung menuju ke septic tank. Di sana dia langsung (tanpa merasa jijik) mengambil tinja lalu melumuri sedikit ke badannya.
Setelah itu barulah dia kembali ke rumah dan mendekat ke wanita nakal tersebut. Dan alangkah kagetnya si wanita nakal ini. Dan segeralah si wanita nakal langsung mengusir sang ahli ibadah untuk segera keluar. Dan dengan begitu terbebaslah sang ahli ibadah dari jebakan wanita itu.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
