Faqih dalam Agama Bag.2

Ini adalah suatu pesan untuk para talibil ilmi (pencari/penuntut ilmu). Dan pesannya sangat mendalam sebenarnya. Yakni agar mengikhlaskan niat hanya kepada Allah Ta’ala semata. Jangan sampai menuntut ilmu syar’i namun diiringi keinginan agar kelak diacungi jempol karena banyak ilmunya. Atau menuntut ilmu karena untuk membalas dendam disebabkan pernah ‘dijatuhkan’ saat berdebat. Na’udzubillah!

Ini juga pesan bagi para ahli ilmu yang kurang bijak dalam dakwahnya. Yakni yang tidak ‘siap’ dengan suatu perbedaan. Terkhusus masalah khilafiyah. 

Oleh karenanya hendaknya memperhatikan pesan dari salah seorang salafush shalih berikut ini:

Dari Nu’aim, kami mendapat kabar dari Ahmad bin Ja’far bin Salam, kami mendapatkan kabar dari Ahmad bin Abaar, kami mendapatkan kabar dari Manshur bin Abi Muzahim, kami mendapat kabar dari ‘Anbasah Al Khas’ami, beliau adalah termasuk dari orang-orang yang baik. Beliau berkata, saya mendengar Ja’far bin Muhammad berkata:

إِيَّـاكُـمْ وَالْخُـصُوْمَـةُ فِى الدُّيْـنِ، فَـإِنَّـهَـا تُـشْغِـلُ الْقَـلْبَ وَتُـوْرِثُ النِّـفَـاقَ.

“Waspadalah diri kalian dari perselisihan dalam agama, karena dia (perselisihan itu) akan menyibukkan hati dan (akan) mengarah pada kemunafikan”. 

Ingatlah bahwa terkadang apabila mencari ilmu agama diniatkan bukan untuk dakwah kepada Allah maka yang terjadi justru yang ada hanyalah masalah. Bukan maslahat dakwah. 

niat yang benar dan lurus

Lihatlah bagaimana imam Ahmad ketika disodorkan empat puluh pertanyaan; ternyata hanya tiga pertanyaan saja yang dapat beliau jawab dengan baik. Adapun selebihnya (37 pertanyaan) dijawabnya dengan kata LAA ADRI (لَا أَدْرِر/saya tidak tahu). 

Bisa dibayangkan bukan?

Seorang ulama besar, ketika diuji oleh beberapa ulama lainnya dengan menyodorkan 40 pertanyaan, namun karena ilmu yang dimilikinya hanya ‘sebatas’ itu ya beliau jawab dengan apa adanya, yakni tiga jawaban saja. Dan beliau merasa tidak malu. 

Sungguh yang dimaksud dengan tidak malu itu bukan berarti itu akan menjatuhkan harga diri beliau tetapi justru akan menambah bibawa beliau. Sebab beliau jujur!

Kenapa harus dipaksakan bila memang tidak tahu?

Sungguh luar biasa sekali beliau. 

Coba seandainya dalam diri beliau terbetik rasa ‘untuk menjaga image’ lalu beliau jawab dengan mereka-reka atau asal-asalan lalu di belakang hari dijadikan oleh umat sebagai ‘suatu pegangan ajaran’, misalkan. Ini kan bisa berabe. Dan tentu efeknya ke beliau sendiri kelak di akhirat. Yaitu ketika banyak umat yang mengikuti beliau sementara beliau tidak memiliki ilmunya tentang itu.

Ya, inilah watak para salafush shalih. Mereka sangat gantle mengatakan tidak tahu bila memang hal itu benar-benar beliaunya tidak tahu. Sehingga tidak menimbulkan kehebohan di belakang hari.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button