Dusta adalah penyakit ruhani yang sangat mematikan. Yang apabila seseorang terserang penyakit ini maka dia seperti orang yang mengenal rokok. Awalnya mungkin terasa pahit namun karena rasa penasaran tinggi dan biar tidak dianggap kurang pergaulan; akhirnya lama kelamaan dia menikmatinya. Bahkan kecanduan! Sehingga dia lebih siap untuk menahan lapar dan dahaga daripada berhenti dari rokok. Ada juga yang mengatakan; perokok itu apabila seusai makan kok tidak merokok maka seperti seseorang yang mandi tanpa sabun. Rasanya seperti ada yang kurang.
Nah ini (dusta) juga sama. Awalnya mungkin dirinya juga merasa asing ketika dia berdusta. Tetapi kenyataannya orang lain ‘mempercayainya’. Sehingga lama kelamaan –karena merasa bahwa kedustaannya itu ternyata dipercayai- dia merasa enjoy dengan kedustaannya.
Nah di sinilah letak penyakitnya. Yakni dia merasa nyaman dengan kedustaannya.

Mungkin dimulai dari hal-hal yang terkecil –dalam dustanya-, misal; saat jajan di warung makan. Dia ambil kerupuk tiga tapi ngakunya dua, sehingga bayarnya lebih ringan. Atau ketika diberi amanah berupa uang agar disampaikan kepada seseorang lalu dia bilang bahwa tadi dirinya dirampok di tengah jalan. Atau ketika dia berjanji dengan orang lain untuk bertemu di suatu tempat, dia tidak menghadirinya. Sebenarnya dia takut bertemu dengan seseorang karena dia memiliki tanggungan yang belum dia tunaikan –misalkan- tetapi dia beralasan bahwa dia tidak tahu tempat yang sudah ditentukan tersebut. Dan masih banyak lagi contoh lain yang membuat orang tersebut menjadi ‘keranjingan’ untuk menjadi seorang pendusta.
Dan bila hal itu erus dibiarkan maka lama kelamaan ‘candunya’ menjadi bertambah. Yakni bila hanya sekedar berdusta seperti tadi maka diibaratkan seperti kecanduan rokok, maka bila terus menerus dirinya merasa aman dan nyaman dengan kedustaannya maka candunya akan meningkat. Yakni seperti dari candu rokok menuju candu narkoba. Bukankah narkoba lebih mudah ‘masuknya’ lewat rokok?
Lihat saja Abdullah bin Ubay bin Salul. Berawal dari kekecewaannya karena dia tidak diangkat menjadi tokoh setelah hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya yang dari Makkah. –Padahal sebelumnya dia termasuk dianggap pemuka- lalu kekecewaan berikutnya; ketika Abdullah bin Ubay dipersaudarakan dengan sahabat yang dianggapnya tidak populer.
Kemudian diawali dengan ‘uji coba’ menggerogoti mental kaum muslimin ketika hendak berangkat berjihad di perang Uhud. Ternyata Abdullah bin Ubay mampu ‘menggembosi’ tiga ratus pasukan Rasulullah. Sehingga ke-tiga ratus pasukan itu pulang, tidak jadi ikut berperang bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Dan ternyata di perang Uhud ini pasukan Islam mengalami banyak kerugian. Maka semakin semangatlah Abdullah bin Ubay dalam menggembosi kaum muslimin. Yakni dia mengatakan bahwa sejak awal dirinya lebih setuju bertahan di Madinah, tidak perlu keluar kota (ke Uhud).
Begitulah, pengkhianatan-pengkhianatan terus dilakukan Abdullah bin Ubay bin Salul. Ya, padahal berawal dari hanya sekedar; apabila berbicara selalu berdusta. Akhir meningkat; apabila diberi amanah selalu berkhainat dan apabila berjanji malah justru mengingkari.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
