Dusta, baik dengan cara mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakekat dan kenyataannya, maupun perkataan yang menyelisihi dengan batin, maka balasannya diterapkan terhadap orang yang sengaja melakukannya. Apalagi dengan beraninya mengatas namakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri tidak pernah mengatakan tentang apa yang disebutkan.
Misal, tentang nikah mut’ah. Yakni bila mengatakan bahwa nikah mut’ah itu ajaran dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, maka dia telah diancam dengan neraka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَنْ كَـذَبَ عَـلَيَّ مُتَـعَـمِّدًا فَـلْيَـتَـبَوَّأْ مَقْـعَدَهُ مِنَ النَّـارِ.
“Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka”. Shahih Bukhari 110.

Adapun bagi orang-orang kafir yang tidak menyelisihi keyakinannya dalam hal ketuhanannya; yakni (menurut mereka) adanya Tuhan selain Allah. Maka orang seperti ini bukan berarti disebut sebagai pembohong atau pendusta, melainkan cukup orang seperti ini disebut sebagai kafir.
Pertanyaannya; Apakah masih ada dosa sesudah kekafirannya itu?
Jawab: Iya, dia berdusta atas Allah dan menjadikan untuk-Nya sekutu.
Sebagaimana jujur dan dusta itu dapat terjadi pada omongan, maka keduanya juga dapat terjadi pada perbuatan. Yakni kadang-kadang seseorang bisa bertindak jujur pada ekspresi tindakan mereka, tetapi kadan-kadang mereka juga berdusta. Yakni apabila ekspresi tindakan mereka itu sesuai penunjukannay kepada hakekat dan kenyataannya maka hal itu disebut sebagai perbuatan yang jujur. Tetapi apabila hal itu tidak sesuai maka itu menjadi perbuatan dusta.
Tetapi terkadang ada orang yang melakukan suatu kedustaan dengan dua perbuatan sekaligus: ucapan dan (barang) bukti palsu. Sebagaimana yang terjadi pada kasus saudaranya nabi Yusuf yang dibadaikan Allah dalam Al Qur’an.
Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya`qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan”. Qs. Yusuf 16-17.
Tangisan mereka ada perbuatan dusta. Dengan perbuatan itu mereka bermaksud mengungkapkan ‘kesedihan’ mereka kepada bapak mereka atas hilangnya Yusuf yang diterkam serigala, sebagaimana klaim mereka. Padahal kenyataannya, merekalah yang membuat jahat atas Yusuf, ketika mereka mencampakkannya ke sumur.
Kisah mereka yang mereka beritakan adalah kisah rekaan mereka sendiri. Serigala terbebas dari tuntutan darah saudara mereka. Maka penuturan mereka tentang kisah itu adalah perkataan dusta. Sementara tindakan mereka melumuri baju Yusuf dengan darah kambing yang mereka sembelih untuk menyamarkan kevalidan klaim merekabahwa Yusuf diterkam serigala itu adalah perbuatan dusta. Sebab, darah itu bukan darah Yusuf, bahkan itu adalah darah dusta.
Begitulah mereka melakukan berbagai dusta, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, untuk menyembunyikan kejahatan yang mereka lakukan terhadap saudaranya
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
