Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.8
Istihza’ kedua: istihza’ kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wa salam.
c. Istihza’ berupa tulisan.
Kalau istihza’ model ini sudah ada sejak masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Hanya saja untuk saat ini versi/bentuknya agak sedikit berbeda. Seperti yang pernah terjadi beberapa tahun di Indonesia. Yaitu suatu tabloid yang membuat pollling tentang siapa junjungannya.
Nah di sana (tabloid itu) disebutkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berada pada urutan ke-16. Na’udzubillah!
Atau ada sebuah buku keluaran sekitar medio tahun 1980-an. Di buku itu disebutkan bahwa ada seratus orang yang dianggap sangat berpengaruh.
Memang di buku itu disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mendapatkan urutan pertama. Tetapi urutan kedua, ketiga dan seterusnya adalah orang-orang non muslim. baru kemudian sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq berada pada urutan ke-16 lalu diikuti sahabat Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhuma.
Dari kedua contoh kasus di atas ternyata kaum muslimin berbeda dalam menanggapinya.
Untuk kasus pertama di atas, maka kebanyakan kaum muslimin marah luar biasa. Hingga tabloid tersebut dibredel sedangkan pimpinan redaksinya dipenjara selama beberapa tahun.

Tetapi untuk kasus kedua, ternyata kaum muslimin sama sekali tidak beraksi. Miris memang. Padahal pada prinsipnya mereka telah melecehkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan kedua sahabatnya tercinta.
Betapa tidak?
Bukankah para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah suri tauladan kaum muslimin setelah beliau? Tetapi kenyataannya nama kedua sahabat mulia berada pada urutan ke-enam belas. Dengan begitu seakan urutan kedua sampai kelima belas adalah manusia yang mulia dibandingkan sahabat Abu Bakar yang sudah jelas dijamin msuk surga!
Selain itu masih ada lagi istihza’ yang dilakukan orang-orang kafir atau anti Islam yang sangat tidak diketahui kaum muslimin. Sehingga masih ditemukan gambar (yang sebenarnya istihza’ terhadap Rasulullah) itu tertempel pada dinding-dinding rumah kaum muslimin.
Gambar itu adalah: gambar kuda yang memiliki dua sayap di sebelah kiri dan kanannya dan kepalanya bukan kepala kuda. Melainkan berkepala manusia dengan wajah wanita cantik.
Lalu di mana letak istihza’nya?
Ketahuilah bahwa gambar kuda bersayap yang berkepala wanita cantik itu sebenarnya diilustrasikan sebagai burok.
Ya, burok. Yaitu suatu kendaraan yang dahulu bertugas sebagai alat tunggangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika beliau melakukan misi suci; isra’ dan mi’raj.
Nah di sinilah ketidak jelian kaum muslimin. Padahal sebenarnya burok yang digambarkan pelukis itu adalah bertujuan untuk istihza’ kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ya, si pelukis itu telah memberikan pesan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam amat sangat rakus terhadap wanita. Na’udzubillah.
Semoga mulai saat ini kaum muslimin sadar sehingga mereka tidak lagi memasang gambar burok yang diilustrasikan miring itu.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
