Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.28

Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.28

Istihza’ kedua: istihza’ kepada Hukum-hukum Allah. (lanjutan).

h. Berlebihan terhadap wali Allah.

Berbicara masalah wali maka akan muncul setidaknya dua persepsi di tengah masyarakat.

Pertama: sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa wali (Allah) itu memiliki kekuatan supranatural yang datang dan didapatkan dari Allah Ta’ala

Kedua: sebagian (lagi) masyarakat yang memahami bahwa wali Allah adalah seorang muslim yang memperjuangkan agama Allah dengan segenap tenaga, pikiran dan hartanya di jalan Allah. Dan dia tidak pernah surut dalam memperjuangkan agama Islam walau terjepit dan kalah sekalipun.

Wali wali Allah

وَكَـأَيِّـن مِّنْ نَّـبِـيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّـيُّوْنَ كَـثِيْـرٌ فَمَـا وَهَـنُوْا لِمَـا أَصَابَـهُمْ فِى سَبِـيْلَ اللهِ وَمَا صَعُـفُوْا وَمَا اسْتَـكَانُوْا، وَاللهُ يُـحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Qs. Ali Imran 146.

Lalu mana wali Allah yang benar?

Ya jelas pemahaman yang kedua. Sebab sebenarnya para nabi dan rasul itulah wali Allah. Mereka tidak pernah berbuat dan melakukan segala macam yang dianggap supranatural kecuali ayng telah diperintahkan Allah Ta’ala. Seperti nabi Musa ‘alaihi salam yang memukulkan tongkatnya ke tanah –ketika terdesak karena dikejar oleh Fir’aun dan pasukannya. Sehingga dengan dipukulkannya tongkat itu maka terbelahlah lautan menjadi dua. Kemudian nabi Musa ‘alaihi salam memerintahkan umatnya agar segera menyeberangi lautan yang sudah terbelah itu supaya tidak terkejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya.

Juga ketika nabi Musa ‘alaihi salam diadu dengan para tukang sihir kerajaan.

Sebenarnya waktu itu nabi Musa ‘alaihi salam sama sekali tidak tahu tentang bagaimana cara melawan tukang sihir kerajaan itu. Apa lagi setelah tukang sihir itu mampu merubah tali-tali mereka menjadi ular-ular kecil yang berjalan menuju kepada nabi Musa ‘alaihi salam.

Nah di saat takut itulah akhirnya Allah Ta’ala memerintahkan nabi Musa ‘alaihi salam agar melemparkan tongkat.

Setelah dilempar maka berubahlah tongkat itu menjadi ular raksasa yang langsung memakan ular-ular kecil milik tukang sihirnya Fir’aun.

Jadi itulah wali Allah dan sekaligus nabi. dan mu’jizat para nabi itu (salah satunya ton gkatnya nabi Musa ‘alaihi salam) tidak bisa digunakan semana-mena dan kapan saja para nabi itu mau.

Adapun para wali Allah yang bukan dari nabi dan rasul maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak memiliki ‘mu’jizat’ sebagaimana yang dimiliki para nabi dan rasul. Dan mereka juga tidak memiliki ‘sesuatu’ yang istimewa.

Dengan begitu berarti berbeda dengan pemahaman yang pertama bukan?

Wallahu a’lamu bish shawaab. (insya Allah berlanjut).

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button