Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.12
Istihza’ kedua: istihza’ kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wa salam.
g. Istihza’ dengan para sahabat radliyallahu ‘anhum.
Para sahabat Rasulullah shalallahu adalah orang-orang yang sangat beliau cintai. Beliau tidak membeda-bedakan antara sahabat yang satu dengan sahabat lainnya. Meskipun ada di antara mereka yang sangat dekat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan ada yang jauh.
Dekat dalam arti karena tali persaudaraan darah, tali perkawinan ataupun dekat karena dari sisi domisili. Adapun yang jauh lebih dikarenakan domisili.
Oleh karena (begitu) dekatnya itulah akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tahu betul kebutuhan para sahabatnya.
لَـقَدْ جَاءَكُـمْ رَسُوْلٌ مِّنْ أَنْـفُسِكُـمْ عَزِيْزٌ عَـلَيْهِ مَا عَنِـتُّـمْ حَرِيْصٌ عَـلَيْكُـمْ بَالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْـم
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Qs. At Taubah 128.

Sudah tahu kalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam begitu dekat dengan para sahabatnya, tapi kenapa ada saja orang yang melakukan istihza’ kepada para sahabatnya? Jelas sekali bukan bahwa sebenarnya mereka melakukan istihza’ karena ingin istihza’ terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Bahkan dalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabatku. (Sebab) seandainya kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud pun kalian tidak akan mampu menyamainya atau hanya sekedar menyamai setengahnya dari para sahabat”.
Padahal jika ada orang atau sekelompok ada yang berani melakukan istihza’ terhadap para sahabat maka bisa dipastikan bila orang atau kelompok tersebut akan tersesat.
Lihat saja orang/kelompok yang membela khalifah Ali bin Abi Thalib dan menyalahkan Mu’awiyah ketika di antara mereka terjadi konflik. Maka orang/kelompok tersebut akhirnya menjadi kelompok syi’ah yang sesat dan menyesatkan.
Begitu juga sebaliknya, orang/kelompok yang membela Mu’awiyah dan menyalahkan khalifah Ali bin Abi Thalib atau bahkan mereka menyalahkan keduanya. Maka mereka jug akhirnya tersesat menjadi kelompok khawarij.
Dan kedua kelompok itu sama-sama –di akhirnya- mengkafirkan sebagian besar para sahabat radliyallahu ‘anhum ajma’in.
Nah perbuatan mengkafirkan sahabat inilah yang masuk dalam katagori istihza’. Bukankah Allah telah firman bahwa seluruh para sahabat telah Allah ridlai di masa hidup dan matinya?
وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّـبَعُوْهُـمْ بِـإِحْسَانٍ رَّضِـيَ اللهُ عَنْـهُمْ وَرَضُوْا عَنْـهُ وَأَعَـدَّ لَهُـمْ جَنَّـاتٍ تَجْرِى تَحْـتَهَـا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْـهَا أَبَدً، ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ.
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti (jejak) mereka dengan baik, Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla terhadap Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. Qs. At Taubah 100.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
