Jangan dikira bahwa dipuji itu membanggakan. Bila tidak menjaga hati maka pujian manusia itu bisa berubah menjadi bencana. Oleh karena itu hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1. Orang yang memuji. Bisa saja dia mengatakan apa yang sebenarnya tidak ada, tanpa mau mengecek terlebih dahulu, seperti perkataannnya, “Dia adalah orang yang wara’ dan zuhud”. Dia terlalu berlebihan dalam memuji, sehingga berakhir dengan kedustaan. Bahkan boleh jadi dia memuji orang yang sebenarnya sangat layak untuk dicela.
Al Hasan berkata, “Barangsiapa mendoakan orang dhalim agar panjang umurnya, berarti dia suka mendurhakaiAllah”.
2. Orang yang dipuji. Pujian ini bisa membuatnya tabakur dan ujub, dua sifat yang merusak. Karea itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda tatkala mendengar seseorang yang memuji orang lain, “Celaka engkau, karena engkau telah memenggal leher rekanmu”. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Kami meriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, “Suatu kali Umar bin Khaththab radliyallahu a’nhu sedang duduk-duduk bersama beberapa orang yang di dekatnya ada susu. Lalu ada seseorang yang berkata saat Al Jarud datang ke tempat itu. “Ini adalah tuannya Rabi’ah”.

Semua orang yang ada di tempat itu mendengarnya, begitu pula Al Jarud. Setelah mendekat, Umar menimpukkan air susu kepada Al Jarud.
“Apa masalahku dan masalahmu, wahai Amirul Mukminin?”, tanya Al Jarud.
“Apa masalahku dan masalahmu? Apakah engkau tidak mendengar perkataan itu tadi?”, tanya Umar.
“Aku mendengarnya”, jawab Al Jarud, lalu dia bertanya, “Lalu ada apa?”.
Umar berkata, “Aku khawatir kata-kata itu mempengaruhi hatimu, sehingga engkau suka (senang) jika aku mengangguk-anggukkan kepala kepadamu. Di samping itu, jika manusia itu dipuji dengan suatu kebaikan, biasanya dia ridha terhadap dirinya, dan dia mengira telah sampai kepada apa yang diinginkannya, lalu di lalai beramal. Karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Engkau telah memenggal leher temanmu”.
Jika pujian tidak menimbulkan dampak seperti ini, maka boleh saja dilakukan. Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga pernah memuji Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar dan yang lainnya dari kalangan sahabat radliyallahu ‘anhum.
Orang yang dipuji harus mawas diri, jangan sampai terkena bencana takabur, ujub dan lalai beramal. Tidak ada yang bisa selamat dari bencana ini kecuali orang yang mengenali diri sendiri dan berfikir bahwa jika orang yang memujinya tahu apa yang ada pada dirinya, tentu dia tidak akan memujinya.
Diriwayatkan bahwa salah seorang di antara orang-orang yang dikenal shalih dipuji sesorang. Maka dia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya dia tidak mengetahui diriku, sedangkan Engkau mengetahui diriku”.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
