Awal Tahun Hijriah Bag.2
2. Dokter yang menangani pasien.
Pada contoh kasus ini; seorang atau beberapa dokter di suatu rumah sakit yang menangani kasus pasien yang menderita sakit yang sudah masuk stadium akhir.
Setelah melalui upaya, ikhtiar dan proses yang sangat panjang kemudian ketika para dokter ditanya oleh keluarga pasien. Biasanya dengan rendah hati para dokter akan mengatakan bahwa mereka telah berusaha maksimal, adapun hasil maka diserahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan hanya memohon keajaiban akan datang.
Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya menurut perhitungan para dokter bahwa secara keilmuan (yang mereka miliki) maka si pasien tidak akan berumur lama. Tetapi dokter yang bijak dan memiliki iman tetap mereka mau mendahului takdir.

Yakni tidak akan mungkin mereka akan mengatakan bahwa pasien sebentar lagi akan meninggal. Melainkan mereka akan mengatakan seperti perkataan di atas.
Yaitu bahwa mereka telah berusaha semaksimal mungkin (sesuai dengan ilmu mereka) tetapi hasil dan keputusan ada di tangan Allah. Dan tinggal menunggu keajaiban.
Maknanya adalah terkadang dari upaya para dokter itu memang si pasien tidak lama kemudian meninggal, tetapi tidak sedikit juga setelah berupaya semaksimal itu hasilnya si pasien justru sehat dan segar.
Maka hal itu menunjukkan bahwa dokter yang seperti ini mereka tetap menyerahkan hasil kepada sang Maha Kuasa, Allah Ta’ala.
Jadi mereka tidak berani gegabah memvonis bahwa si pasien pasti akan gagal dan meninggal, atau justru bersikap jumawa. Bahwa mereka akan sanggup menyelamatkan nyawa pasien.
3. Kisah Ali bin Abu Thalib Radhiallahu anhu dengan baju besinya.
Kisah ini sudah masyhur. Yakni kasus baju besinya Ali bin Abu Thalib yang dicuri orang Yahudi.
Kasus ini bermula ketika Ali melihat baju besinya dibawa orang Yahudi. Lalu Ali mendekat dan mengatakan bahwa baju besi itu miliknya Ali. Namun orang Yahudi itu menolaknya. Bahwa dia mengklaim bahwa baju besi yang dibawanya adalah miliknya.
Karena semuanya sama-sama ngotot kemudian keduanya sepakat menghadap ke pengadilan.
Dalam persidangan itu Ali diminta menunjukkan tanda-tanda dari baju besi yang diklaim miliknya. Namun sayang, Ali (saat itu sudah menjadi seorang khalifah) tidak menunjukkan tentang ciri-ciri khusus dari baju besi yang disengketakan itu.
Dan ketika giliran orang Yahudi diminta menunjukkan tentang ciri-ciri khusus dari baju besi yang disengketakan. Ternyata oran Yahudi itu bisa menunjukkan ciri-ciri khusus yang ada pada baju besi itu.
Nah karena orang Yahudi yang bisa menunjukkan tanda ciri-ciri yang ada pada baju besi yang disengketakan sedangkan Ali tidak bisa. Maka sang hakim mengetok palu dengan membuat keputusan bahwa baju besi yang disengketakan itu milik orang Yahudi.
Sementara Ali, walaupun sebagai seorang khalifah, menerima keputusan hakim dengan lapang dada.
Nah dari ketiga ilustrasi dan kisah sahabat Ali bin Abu Thalib di atas kiranya bisa diambil pelajaran dalam hal penentuan awal bulan. Khususnya di bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Tentunya dengan semangat ingin menjaga ukhuwwah Islamiyah antar sesama umat Islam.
Dalam hal ini bagi kelompok yang mengambil hisab sebagai jalan untuk menentukan awal bulan hijriyah. Hendaknya mereka memberikan hasil hisabnya kepada kelompok rukyatul hilal.
Lalu kedua kelompok ini bersama-sama membuktikan hasil menghitungan hisapnya dengan cara mendatangi tempat-tempat tenggelamnya matahari. Atau tempat-tempat untuk melihat hilal.
Jadi nanti semua mata akan tertuju pada satu titik yang sudah diinfokan oleh kelompok penghitung hisab. Yaitu pada lintang sekian, bujur sekian, jam sekian dan seterusnya.
Bukankah dengan cara sama halnya dengan contoh ilustrasi dan kasusnya Ali bin Abu Thalib dengan baju besinya yang hilang di atas?
Yakni pembuktiannya di sidang pengadilan.
Dan masing-masing pihak memberikan argumen, bukti dan alibi lainnya. Sedangkan para dokter (dalam ilustrasi di atas) juga sudah bekerja secar maksimal, lalu hasilnya diserahkan kepada Allah.
Nah untuk hal ini juga sama. Jadi seandainya semua mata sudah tertuju pada satu titik yang sudah diinfokan dari pihak penghitung hisab. Lalu apabila pada titik lintang, bujur dan jam yang sudah diinfokan kok terlihat hilal, maka besok berarti sudah jatuh bulan baru. Tetapi bila tidak terlihat maka besok masih bulan lama.
Dengan begini diharapkan ukhuwwah Islamiyah bia tetap terjaga dan ilmu perngetahuan tentang hisab dan rukyat juga bisa dilestarikan.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

