Aqidah Ahlu Sunnah Bag.6
4. (pen)Dewa(an).
Ini adalah rahasia dari para ahli kalam, filsafat dan orang/kelompok yang sefaham dengan keduanya. Yakni mereka meyakini bahwa sebenarnya ada ‘kepengurusan’ lain selain Allah Ta’ala. Walau di lisannya mereka menyangkal tentang itu. Tetapi secara perbuatan mereka meyakininya.
Di antaranya mereka membuat sesajen, melakukan ritual di luar ajaran Islam; seperti menyembelih hewan-hewan untuk dikorbankan pada tempat-tempat tertentu. Atau untuk pengusiran ruh halus –versi mereka tentunya- dan sebagainya. Tetapi mereka memasukkan doa-doanya dengan doa-doa yang diajarkan dalam Islam.
Bahkan ada juga suatu keyakinan yang beranggapan bahwa mendatangi suatu tempat tertentu selama beberapa periode ke tempat tersebut maka nilainya sama dengan ibadah haji ke Makkah. Dan anehnya –sekali lagi- di tempat tersebut mereka juga mengucapkan lafal-lafalnya dengan doa-doa yang diajarkan dalam Islam.
Nah hal seperti ini jelas namanya mencampur adukkan antara ajaran ke-Dewa-an dengan ajaran Islam. Ini jelas bentuk suatu penyesatan. Makanya para ulama salafush shalih melarang perbuatan seperti ini.
5. Supra natural.

Supra natural atau sering juga disebut metafisika. Ya, untuk faham yang satu ini juga sering dipaksakan seakan faham ini berasal dari Islam. Atau setidaknya berkesesuaian dengan Islam. Padahal sebenarnya faham/keyakinan supra natural atau metafisika bukan dari Islam, melainkan datang dari pemahaman filsafat, tasawuf, (ke)Dewa(an) dan sebagainya.
Sebagai contoh; seorang supra natural bisa menebak nasib seseorang. Atau memindahkan sesuatu yang jauh lalu mendatangkannya di tempat si supra natural itu berada. Atau melakukan sebuah atraksi dengan mengangkat suatu benda dari kejauhan tanpa tersentuh tangan. Dan masih banyak lagi suatu ‘keajaiban’ yang ditunjukkan kepada manusia.
Dan anehnya hal-hal seperti itu selalu diatas namakan sebagai bagian dari ajaran Islam. Padahal sebenarnya tidak ada ajaran tersebut dari Islam.
Sebagai contoh; Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bisa hanya sekedar menunjuk ke bulan lalu bulan saat itu terbelah. Tetapi perlu diingat bahwa perbuatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu hanya sekali atau dua kali saja. Dan itupun namanya mukjizat. Sedangkan mukjizat sendiri Allah berikan hanya ada pada diri para nabi dan rasul. Adapun manusia biasa maka tidak akan mungkin Allah berikan.
Tujuannya tiada lain hanya untuk memberikan hujjah (bukti) kepada umatnya yang sedang didakwahi lalu menujukkan bahwa mereka (para nabi dan rasul itu) benar-benar sebagai utusan Allah.
Tetapi apabila mukjizat itu sudah diperlihatkan kepada umatnya sekali atau dua kali maka berikutnya nabi dan rasul itu juga tidak bisa lagi melakukan hal serupa setelahnya.
Jadi sangat berbeda sekali dengan supra natural. Sebab mereka sering melakukan hal yang sama secara berulang-ulang.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

