Dari Ibnu Abi Uwais, dari ayahnya, dari Walid bin Daud bin Muhammad bin ‘Ubadah bin Shamit, dari anak pamannya (sepupu) ‘Ubadah bin Walid, berkata, Bahwa pernah ‘Ubadah bin Shamit bersama Mu’awiyah, suatu hari dia mengumandangkan adzan, lalu ada seorang khatib yang berdiri dan memuji-muji Mu’awiyah.
Maka “Ubadah bin Shamit berdiri dengan menggenggam tanah di tangannya dan hampir-hampir memasukkan tanah itu ke dalam mulut si khatib.
Melihat itu Muawiyah marah (membela si khatib). Maka Muawiyah berkata kepada sang khatib, “Sesungguhnya kamu belum pernah bersama kami, ketika kami berbaiat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di (baiat) Aqabah untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan kami suka maupun dalam keadaan tidak suka, baik dalam keadaan malas, baik dalam keadaan pemimpin tidak menunaikan hak kami. Dan tidak melepaskan dari orang yang berhak ditaati (pemimpin). Dan harus menegakkan kebenaran (Al Haq) sekemampuan kami, dan kami tidak pernah memiliki rasa takut (selama) di jalan Allah ini walaupun banyak orang yang mencelanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
إِذَا رَأَيْـتُـمُ الْمَدَّاحِيْـنَ فَاحْـثُـوْا فِى وُجُـوْهِـهِمْ التُّـرَابَ.
“Jika engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya”. Diriwayatkan Muslim no. 3002. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 2/7.

Ya, sekilas perbuatan ‘Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu sangat tidak beretika dan amoral. Namun bila mau menelisik lebih jauh ternyata perbuatan ‘Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu ini jauh lebih menyelamatkan dua belah pihak sekaligus; Muawiyah dan si khatib. Lho kok bisa?
1. Mu’awiyah, dalam hal beliau sebagai seorang pemimpin.
Sudah berapa banyak orang yang karena seringnya dipuji akhirnya orang yang sering dipuji tersebut menjadi sombong dan jumawa. Sebab banyak orang memujinya tentu dia akan memiliki perasaan bahwa semua yang dilakukannya pasti benar.
Nah dari sinilah akhirnya orang yang sering dipuji itu semakin jauh dari kebenaran. Dan andaipun masih tetap pada jalur kebenaran namun hatinya akan terkikis dengan haus pujian dari orang lain.
2. Si khatib.
Bagi si khatib, karena suka memuji-muji pemimpin, bisa saja dia akan mendapatkan job yang menyenangkan. Tetapi ingatlah bahwa jika job itu sebenarnya tidak sesuai dengan bidangnya maka yang akan terjadi justru sebuah musibah.
Dan yang pasti pemimpin sendiri juga memiliki banyak pembantu. Lalu seandai dari sekian banyak pembantu itu yang ternyata sama-sama menginginkan job tersebut, tentu sebenarnya telah terjadi ‘perebutan’ job secara terselubung.
Dan bila hal itu terjadi kemuliaan si khatib tentu akan tercabut dari dirinya, sebagaimana yang terjadi pada diri Bal’abin Ba’ura.
Dan memang terkadang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu terasa pahit.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
