Al Hasan menceritakan bahwa Ziyad bin Abihi mengutus Al Hakam bin Amru ke Khurasan. Lalu Allah memenangkan (menaklukkan) wilayah itu dan mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) yang begitu besar dan banyak. Kemudian Ziyad bin Abihi menulis surat kepada Al Hakam bin Amru, katanya (dalam surat tersebut):
“Amma ba’du. Sesungguhnya amirul mukminin telah menulis surat kepadaku agar memilah-milahkan (emas) yang kuning dan putih untuknya. Emas dan perak jangan dibagi-bagikan kepada pasukan”.
Maka Al Hakam membalas suratnya Ziyad, “Salamun ‘alaik. Amma ba’du. Sungguh engkau telah menulis surat (aturan) yang didapatkan dari amirul mukminin. Sementara saya mendapatkan surat (aturan) dari Allah sebelum munculnya aturan dari amirul mukminin. Dan sesungguhnya, demi Allah. Seandainya tujuh langit dan bumi menjadi pengikat bagi seorang hamba dan dia bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan menjadikannya kemudahan dan jalan. Was salaamu ‘laika”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 1/672.
Inilah amar ma’ruf dan nahi mungkar yang ditegakkan di tengah kalangan para salafush shalih. Suatu tradisi yang sangat bagus untuk diikuti oleh kaum muslimin. Yang kesemuanya (hatinya) telah tersinari oleh ilmu dan iman. Sehingga ketika ada seorang tokoh (pimpinan atau bahkan sekelas amirul mukminin) tergelincir pada hubbud dunya (cinta dunia) maka bawahan berani melakukan nahi mungkar atau ‘membangkang’ karena saat itu posisi pimpinan memang salah dan perlu diluruskan.

Dan yang terpenting adalah bahwa bawahannya sendiri ketika melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu didasari rasa cintanya kepada syariat serta komitmen terhadap Al Haq. Jadi bukan karena unsur kebencian atau ingin dipuji dan karena kepentingan lainnya.
Sementara itu sebagai seorang pemimpin dia harus menyadari bahwa dirinya adalah seorang manusia yang terkadang juga melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Sebab para pendahulu dari salafush shalih sendiri telah memberikan contoh yang luar biasa. Yakni tentang keterbukaan seorang khalifah pertama dalam Islam, Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu.
Ya, dalam pidato pertamanya sebagai seorang khalifah, beliau mengatakan bahwa beliau diangkat karena atas pillihan kaum muslimin. Tetapi bukan berarti bahwa beliau adalah orang yang terbaik dari kaum muslimin lainnya.
Namun begitu di sana beliau menandaskan bahwa seandainya dalam pemerintahannya, beliau memerintah dengan berdasarkan pada kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam maka beliau meminta seluruh rakyat agar mendukungnya, membantunya dan bahkan membelanya.
Tetapi apabila dalam mengendalikan pemerintahannya kelak ternyata beliau menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah maka beliau meinta agar umat meluruskannya.
Sungguh ini suatu perbuatan yang sangat bijak dan benar-benar menjadi teladan bagi umat Islam setelahnya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
