3. Terpuruk ketika menghadapi berbagai cobaan.
Seseorang yang pongah biasanya dia akan melalaikan dari tazkiyatun nafs (kebersihan hati/jiwa). Sehingga dia akan mudah jatuh ketika menghadapi berbagai macam kesulitan yang dihadapinya.
Ya, ketika seseorang sudah lalai dengan tazkiyatub nafs maka dirinya beranggapan bahwa dirinya seakan mampu segala-galanya. Nah karena merasa mampu segala-galanya itulah akhirnya dia ketika melakukan suatu tindakan dia tidak pernah memikirkan akibat di belakang harinya. Sehingga –seandainya- ketika di belakang hari ternyata dia mengalami kendala dirinya akan kebingungan.
Sebab sejak awal dirinya sudah merasa mampu dari segala-galanya tetapi kenyataannya berbeda. Yakni dirinya mengalami suatu masalah ternyata dirnya tidak mampu mengatasinya.
Kalau sudah seperti ini biasanya egonya ditinggikan. Sehingga mau minta tolong kepada orang lain pun juga enggan.

Tetapi justru ketika semakin enggan dan semakin ‘memperbesar’ rasa gengsinya untuk meminta pertolongan kepada orang maka semakin bertambah payahlah persoalan yang dihadapinya.
Lihat saja Fir’aun, ketika dia dikalahkan nabi Musa ‘alaihi salam, dia tetap tidak mau menerima kekalahannya. Dia justru semakin kalap dan hendak menghabisi nabi Musa ‘alaihi salam. Dan justru dengan ambisi ingin menghabisi nabi Musa-lah kahirnya dia malah tenggelam oleh kesombongannya.
Padahal seandainya dia mau menerima kekalahannya lalu mau menerima dakwahnya nabi Musa ‘alaih salam tentu ceritanya berbeda.
4. Dibenci dan dijauhi orang lain.
Bila seseorang bersikap meremehkan orang lain maka dia akan dibenci dan dijauhi oleh orang lain.
Ya, begitulah hukum kausalitas, yaitu hukum sebab akibat. Siapa memukul pasti (akan dibalas) dipukul. Siapa mencaci pasti akan dicaci balik. Siapa yang menyayangi pasti juga akan disayangi, dan seterusnya.
Bahkan Allah saja ‘memberikan izin’ kepada kaum muslimin ketika mereka secara terus menerus dianiaya. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”. Qs. Al Hajj 39.
5. Adzab dan pembalasan; baik cepat ataupun lambat.
Orang yang bersikap ujub akan mendapat hukuman di dunia; paling tidak dia akan dilanda kegelisahan dan keresahan jiwa. Atau bahkan amalnya bisa terhapuskan sedangkan di akhirat, adzab yang akan pasti akan menunggunya.
Jangan dikira bahwa kegelisahan itu bukan adzab. Lalu dari mana kegelisahan itu muncul?
Bukankah setiap manusia itu memiliki kekurangan? Entah sedikit ataupun banyak. Nah karena memiliki kekurangan itulah seharusnya manusia itu memiliki sikap saling tolong menolong. Allah pun juga memerintahkan begitu, yakni agar manusia saling tolong menolong dalam kebaikan dan melarang saling tolong menolong dalam kemungkaran.
Lalu bila dirinya telah merasa sempurna kemudian selalu meremehkan dan merendahkan orang lain, lalu tiba-tiba dirinya memenukan suatu kendala yang –sebenarnya dirinya sadar- dirinya tidak mampu menanganinya.
Ketika dia mau meminta pertolongan pada orang lain dirinya gengsi tetapi bila tidak, padahal dirinya sangat membutuhkannya. Maka dari sinilah kegelisahan muncul. Lalu bagaimana kelak bila di akhirat?
Wallahu a’lau bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
