Akhlak Para Salaf Bag.55a

A. Tidak ujub dengan amalnya.

Ujub, bahasa mudahnya; ta’ajub dengan dirinya sendiri. Ini berbeda dengan sombong. Kalau sombong, biasanya lebih dominan kepada pamer kemudian cenderung pada meremehkan orang lain. Tetapi ujub ini lebih pada merasa ta’ajub dihadapan orang agar orang lain (juga) ta’ajub lalu memujinya. 

Walau begitu, antara sombong dan ujub sama-sama dilarang dalam Islam. Dan ujub sendiri malah bisa menghapus amalnya. Bagaimana tidak? Sebab dia seakan mempunyai kelebihan. Padahal yang memiliki kelebihan itu hanyalah Allah Ta’ala. Dan hal itulah yang terkadang (dari ujub itu) membuat orang bisa terkagum-kagum. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: 

وَإِذَا رَأَيْـتَـهُـمْ تُـعْجِبُـكَ أَجْسَامُهُـمْ، وَإِن يَـقُوْلُوْا تَسْـمَعْ لِقَوْلِـهِـمْ. 

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Qs. Al Muanafiqun 4. 

sebab ujub

Itulah sifat yang Allah sebutkan tentang munafik pada surat Al Munafiqun. Yaitu bahwa tekadang ujub itu bisa membuat orang terkagum-kagum. Tetapi ternyata ketika orang lain terkagum dengan dirinya (karena amal-amalnya itu) tidak membuat dirinya semakin tawadhu’ melainkan justru semakin berbangga diri. Hal itulah yang akhirnya membuat amalnya bisa hilang sia-sia. 

Untuk itulah Mathruf bin Abdullah memberikan peringatan tentang ujub, katanya, “Seseorang yang tidur terlelap (semalam suntuk) lalu dia terbangun dengan penyesalan akan dosanya, lebih aku sukai daripada seseorang yang melakukan shalat tahajjud (qiyamul lail) semalam suntuk, namun ketika pagi hari, muncul perasaan ujub (bangga diri) di dalam hatinya atas ibadah tersebut”.  

Yang lebih menarik lagi, Wuhaib bin Al Ward dalam kitab At Tawwaabiin (h. 121) karya Ibnu Qudamah pernah mendapatkan cerita menarik mengenai masalah ujub. Dikisahkan bahwa suatu hari nabi Isa ‘alaihi salam sedang melakukan perjalanan dengan salah saru sahabat dekat serta pejuang dakwahnya (Al Hawariyun), lalu keduanya melihat pencuri di atas benteng. Ketika pencuri itu melihat nabi Isa ‘alaihi salam dan sahabatnya, rupanya Allah memasukkan ke dalam hatinya kesadaran untuk berubah menjadi manusia baik. 

Setelah terjadi perdebatan di dalam hatinya apakah akan melanjutkan untuk mencuri ataukah bertaubat akan kesalahannya. Dia pun akhirnya mengambil jalan taubat dan turun untuk menemui keduanya sebagai bentuk pertaubatannya. 

Ketika hendak mendekat kepada keduanya, hati kecilnya berkata, “Benarkah bahwa engkau hendak berjalan bersama mereka berdua? Sungguh tidak pantas pencuri sepertimu lebih pantas berjalan di belakangnya bukan di sampingnya”. 

Pencuri itu akhirnya mengambil keputusan untuk berjalan mengikuti nabi Isa ‘alaihi salam dan sahabatnya dari belakang. Namun secara tidak sengaja aksinya dilihat oleh sahabat nabi Isa ‘alaihi salam. Sahabat itu tersadar ternyata sejak tadi mereka telah oleh seorang pendosa (pencuri). Dalam kondisi demikian, dia membatin dengan nada meremehkan, ‘Ih,, lihat ini seorang pendosa sedang berjalan di belakang kita’. 

Wallahu a’lamu bish shawaab. 

Insya Allah berlanjut. 

Wallahu a’lamu bish shawaab. 

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button