Ada beberapa perkataan dari orang yang mengatakan bahwa orang yang melakukan pekerjaan amar makruf dan nahi mungkar itu adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan.
Sungguh perkataan seperti itu salah besar. Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُـمْ مُنْكَـرًا فَـلْيُـغَـيّـِرُبـيَدِهِ، فَـإِنْ لَـمْ يَـسْتَـطِعْ فَـبِـلِسَانِـهِ، فَـإِنْ لَـمْ يَـسْتَـطِعْ فَـبِـقَلْـبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَـافُ الْإِيْـمَـانِ.
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegahnya dengan tangannya, apabila tidak sanggup maka cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak sanggup maka hendaknya dia mencegahnya dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman”. Riwayat Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasaa’i dan Ibnu Majah.
Pernah suatu saat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Wahai Rasulullah! Haruskah kami melakukan amar makruf dan mencegah kemungkaran? Meskipun sudah tidak ada lagi kemungkaran?”.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “(Teruslah) beramar makruf meskipun dirimu tidak melaksanakan (kemakrufan tersebut), dan cegahkah kemungkaran meskipun kemungkarannya tidak berhenti sama sekali”.
Bisa dibayangkan bukan? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tetap menyuruh umatnya agar selalu melakukan amar makruf sekalipun dirinya sendiri belum melaksanakannya secara maksimal, dan menyuruh agar mencegah kemungkaran sekalipun belum ada perubahan yang berarti.
Kenapa begitu?
Sebab jika memang benar-benar perintah Rasulullah itu dilaksanakan maka di akhirat kelak Allah tidak akan meminta pertanggung jawabannya. Sebab telah melaksanakan meskipun kemaksiatan masih saja berjalan.
Hal itu berbeda bila dirinya tidak pernah melakukan amar makruf dan nahi mungkar, maka dia akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Allah Ta’ala.
Ingatlah bahwa Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu pernah berkata, “Barangsiapa yang melarang kemungkaran, membenci kemungkaran, dan marah ketika hukum-hukum Allah dilanggar, maka Allah akan mengharamkan murka atas dirinya”.
Ketahuilah jika amar makruf dan nahi mungkar ini ditinggalkan maka efek dominonya akan kembali juga kepada kaum muslimin, meskipun dari kalangan orang alimnya sekalipun. Sebagaimana perkataanya Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu, “Akan datang suatu masa pada manusia, di mana orang yang paling shalih di antara mereka adalah orang yang tidak memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. (Lalu) orang-orang berkata, ‘Kami tidak melihat kebaikan darinya kecuali dia tidak marah karena Allah’.
Subhaanallah! Martabatnya seorang alim akan tergelincir manakala dia sudah tidak mau lagi melakukan amar makruf dan nahi mungkar.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
