Para salafush shalih itu ramah, berjiwa tenang, berwibawa dan sedikit bicara.
Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu berkata, “Puncaknya seorang hamba itu pada usia dua puluh dua tahun, puncak akalnya pada usia dua puluh delapan tahun dan apa yang datang setelah hingga akhir hayatnya hanyalah praktek”.
Sepintas ucapan Ali bin Abi Thallib radliyallahu ‘anhu seakan membingungkan, tetapi apabila dicermati ternyata ada pelajaran di sana. Yakni puncak masa kekanak-kanakan itu akan berakhir pada usia dua puluh dua tahun dan puncak pendewasaan seseorang itu akan muncul pada usia dua puluh delapan tahun.
Maknanya bahwa bila ada seseorang yang berusia di bawah dua puluh dua tahun dia masih terlihat kekanak-kanakan, maka hal itu masih dianggap wajar. Dan pada usia dua puluh delapan itu adalah usia mulai matang dalam berfikir. Karenanya di usia berikutnya hingga akhir hayatnya, orang tersebut memulai ‘melukis karya’ kehidupannya.
Oleh karena itu jika melihat dari usia seseorang yang di bawah –sebagaimana yang disebutkan Ali bin Abi Thalib- dan ternyata masih belum memenuhi kedewasaannya, kematangannya dalam berfikir dan jiwanya tidak stabil, maka itu lumrah. Tetapi apabila usia sudah melebihi dari ambang batas yang disebutkan sahabat Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu dan ternyata belum memenuhi kedewasaannya, kematangannya dalam berfikir dan jiwanya tidak stabil maka orang tersebut pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Qatadah berkata, “Manusia itu terbagi menjadi tiga jenis, manusia sempurna, manusia setengah sempurna, dan bukan apa-apa. Manusia sempurna adalah orang yang memiliki pendapat dan meminta nasehat. Manusia setengah (manusia) adalah orang yang tidak memiliki pendapat dan meminta nasehat, manusia yang bukan apa-apa adalah orang yang tidak memiliki pendapat dan tidak meminta pendapat serta tidak meminta nasehat”.
Ini juga seharusnya menjadi pijakan bagi para pengikut salafush shalih. Yakni seharusnya dia segan-segan meminta nasehat dari orang lain. Sebab para salaf pun dahulu sellau meminta nasehat kepada orang lain, bahkan orang sekelas imam Syafi’i dan imam Ahmad. Dan keduanya juga memiliki pendapat, bukan? Yang terkadang mereka sendiri juga berselisih pendapat tetapi bukan berarti mereka bermusuhan hanya karena selisih pendapat.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Binatang yang paling baik tidak akan bisa hidup tanpa cambuk, wanita yang paling suci tidka dapat hidup tanpa suami, dan pria yang paling bijaksana tidak dapat hidup tanpa nasehat dari orang bijak”.
Kalau dalam peribahasa Indonesia disebutkan; tidak ada gading yang tak retak. Ya, sebab manusia itu tidak ada yang sempurna dan Allah-lah Yang Maha Sempurna dari segala kekurangan.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
