B. Ketakutan mereka yang besar terhadap gangguan keburukan terhadap ilmu dan amal mereka.
Kenapa imam Ahmad ‘terlalu jujur’ ketika diuji?
Sebab beliau sadar bahwa bila beliau menjawab asal-asalan maka implikasinya sangat fatal. Meskipun saat itu nama beliau mungkin akan melejit. Orang-orang yang hadir akan kagum akan ‘kecerdasan’ beliau dalam ilmu agama.
Tetapi ingat bahwa bila beliau jawab asalasalan demi menjaga gengsi maka umat hari ini tentu tidak akan mengetahui Islam yang benar. Bahkan Islam akan menyimpang jauh sebagaimana ajaran samawi lainnya; Yahudi dan Nasrani.
Bukankah pada kedua agama itu mengatakan bahwa Uzair dan Isa adalah anak Allah?
Itulah salah satu penyimpangan, yang disebabkan oleh para ulamanya yang serampangan ketika menyampaikan masalah agama dan selalu mengatas namakan agama serta mereka selalu ingin menjaga gengsinya dihadapan umatnya.

Padahal seandainya para alim (orang-orang yang mengetahui ilmu agama) tahu bahwa kelak semua yang disampaikannya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah, niscaya mereka tidak akan berani senekad itu. Lho?
Ya iyalah. Bukankah ketika seorang alilm itu mengajarkan suatu ajaran lalu mengatas namakan agama, kemudian diikuti oleh umat lalu umat tersebut mengerjakan dan mengajarkannya kepada orang yang lagi. dan secara terus menerus beruntun seperti itu. Tentu ini akan menjadi dosa jariyah bagi dirinya bukan?
Maka inilah yang ditakuti para salafush shalih. Setidaknya dua perkata dari Abdurrahman bin Abi Laili dan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahumallah bisa dijadikan sebagai pegangan.
Abdurrahman bin Abi Laili rahimahullah berkata, “Saya bertemu dengan seratus dua puluh sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan mereka sama sekali tidak pernah membuat suatu bid’ah atau ajaran yang baru kecuali mereka (justru) mencela orang yang membuat sesuatu ajaran yang baru (bid’ah)”.
Sementara itu Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Menafkahkan dinar untuk manusia itu lebih aku sukai daripada menafkahi hadits untuk manusia, dan itu lebih mudah bagiku”.
Fudhail bin ‘Iyadh adalah salah seorang ulama tabi’in, beliau juga salah seorang imam masjidil Haram, namun beliau sangat takut untuk ‘membuat’ suatu hadits, atau ngomong sesuatu lalu omongannya itu dikatakan sebagai sebuah hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Apabila disuruh memilih beliau maka beliau akan lebih memilih menafkahi manusia dengan memberikan dinar daripada harus berdusta dengan mengatas namakan hadits lalu beliau mendapatkan dinar dari manusia.
Sebab jika menafkahi manusia dengan dinar itu bisa saja uangnya dinafkahkan sekali langsung habis, tetapi jika beliau harus membuat suatu perkataan yang kemudian diatas namakan suatu hadits maka neraka jahannam telah menantinya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
Insya Allah berlanjut.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
