Ibrahim bin Ishaq Al Harbi berkata, ‘Bahwa Atha’ bin Abi Rabah adalah seorang budak berkulit hitam dari seorang kalangan seorang wanita Makkah. Hidungnya seperti kacang kapri. Sulaiman bin Abdul Malik, amirul mukminin, datang menemui Atha’ bin Abi Rabah bersama kedua putranya untuk meminta fatwanya Atha’, bin Abi Rabah. Mereka duduk di sampingnya saat Atha’ bin Abi Rabah sedang shalat.
Ketika selesai shalat, mereka bertanya kepada Atha’ bin Abi Rabah tentang tata cara haji. Atha’ bin Abi Rabah menjawab pertanyaan khalifah, Sulaiman, dan kedua putranya dengan cara membelakangi mereka.
Kemudian khalifah, Sulaiman, sang khalifah, berkata kepada kedua putranya, “Bangunlah”.
Maka merekapun berdiri, lalu Sulaiman, sang khalifah, berkata, “Wahai anakku! Janganlah kalian malas dalam mencari ilmu. Yakni janganlah engkau bermalas-malasan dan lalai dalam mencari ilmu. Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan yang kamii terima di tangan budak berkulit hitam ini”. Terdapat pada Shiffatush Shafwah 2/212.

Sebenarnya ini adalah gambaran yang umum bila melihat sejarah pada masa keemasan kekhilafahan Islam. Yakni dua sikap yang berbeda dan terkadang sikap mereka seperti mur dan baut. Bahkan terkadang hubungan mereka terkadang mesra tetapi terkadang juga renggang.
Seperti kasus di atas, yakni bagaimana Atha’ bin Abu Rabah yang bersikap acuh terhadap sang khalifah dan anaknya yang bertanya tentang suatu persoalan. Ini menunjukkan bahwa seorang ulama itu (yang bersih hatinya) tidak mau berdekatan dengan para penguasa, meskipun penguasa itu telah melaksanakan syariat sebagai hukum di negerinya. Bahkan negeri itu di bawah naungan kekhilafahan.
Tujuannya agar sang ulama itu tidak bisa dibeli oleh penguasa. Sebab ditakutkan bila sang ulama bisa dibeli maka fatwa-fatwanya akan berubah, yakni fatwa-fatwanya nanti akan berpihak pada penguasa. Padahal seharusnya sesuai dengan kehendak AllahTa’ala.
Sementara itu sang penguasa, khalifah Sulaiman, juga tahu diri. Sehingga khalifah Sulaiman tidak murka hanya karena sikapnya Atha’ bin Abi Rabah ini. Bahkan sang khalifah sendiri justru tetap menganjurkan putranya agar tetap giat dalam mencari ilmu agama.
Ya, begitulah bila sang penguasa memiliki dan memelihara adab dan sopan santun terhadap para ulama. Sehingga meskipun dirinya tersinggung tapi tetap saja beliau menyuruh anaknya agar tetap belajar ilmu agama. Tujuannya agar kelak putranya pun ketika mengurus negara yang menggunakan ilmu agama.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
