Dari Mu’adz bin Sa’id, dia berkata, ‘Saat kami bersama Atha’ bin Abi Rabah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berbicara tentang sebuah hadits, kemudian tiba-tiba ada laki-laki lainnya yang membantah hadits yang dibicarakan oleh laki-laki pertama tersebut.
Maka Atha’ pun berkata, “Maha Suci Allah (Subhaanallah)! Akhlak apa seperti ini? Akhlak apa seperti ini?”
“Aku mendengar sebuah hadits dari seseorang sementara aku lebih tahu darinya. Maka aku tunjukkan kepadanya bahwa seakan-akan aku sama sekali tidak lebih baik darinya”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 2/214.
Atha’ bin Abi Rabah adalah seorang mufti penduduk Makkah dan perawi mereka. Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa Atha’ bin Abi Rabah pernah bertemu dengan dua ratus sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Selain itu beliau adalah seorang ahli hukum yang dapat dipercaya dan berpengetahuan luas yang meriwayatkan banyak hadits.
Maka tidak heran bila para penyebar hadits dari Bani Umayyah sering berseru pada hari Mina, “Janganlah seorangpun mengeluarkan fatwa kepada orang-orang selama musim haji kecuali Atha’ bin Abi Rabah”.
Amboi. Begitu mulianya para ahli hadits. Selain rendah hati mereka juga selalu menjaga lisannya. Mereka tidak suka menonjolkan diri dihadapan orang lain, terutama orang yang belum mengenal dirinya. Tentu tiada lain tujuannya agar orang yang belum mengenalnya tersebut tidak dibuat malu atau malah justru berlebihan ketika menghormatinya.

Maka tidak heran Atha’ bin Abi Rabah merasa tersinggung ketika melihat ada seseorang yang sedang membacakan atau membahas tentang suatu hadits lalu tiba-tiba ada orang lain yang ‘mengganggunya’ dengan mengatakan bahwa hadits tersebut bla, bla, bla. Sebab status hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah nomor dua setelah Al Qur’an. Lalu bagaimana mungkin sesuatu yang kedudukannya di bawahnya langsung Al Qur’an dengan entengnya dibuat perbedatan?
Bukankah ada seorang alim dari kalangan tabi’in yang ketika hendak mengajarkan hadits, beliaunya selalu berwudhu’ terlebih dahulu? Apalagi Al Qur’an bukan? Hal itu tiada lain karena begitu menghormatinya hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Lalu bagaimana dengan orang yang suka memperdebatkan tentang hadits? Sementara dirinya belum sampai pada derajat ulama hadits?
Oleh karena itu hendaknya mencontohlah pada para tabi’in ini, terkhusus Atha’ bin Abi Rabah.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
