Perjalanan Kematian Bag.28

Perjalanan Kematian Bag.28

Orang lain selain Rasulullah mendengar suara-suara orang yang disiksa atau bentuk lainnya.

Mungkin ada sebagian dari manusia yang selalu membicarakan tentang adanya beberapa dari mereka yang mengatakan pernah mendengar atau “merasakan” adanya orang-orang yang disiksa di dalam kubur mereka. Adapun orang-orang yang mengatakan pernah mendengar atau “merasakan” itu adalah orang-orang yang bisa dipercaya dan mereka juga bagus agamanya serta amanah terhadap agamanya (hanif= tidak neko-neko dalam beragama).

fitnah kubur

Benarkah hal itu terjadi?

Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah berkata, “Sudah banyak saat ini yang mencoba mengungkap tentang teka teki siksa kubur di zaman kita ini. Lalu mereka mencoba “mencari bukti”. Dan hal ini ternyata banyak ditemui”. Lihat MAJMU’ FATAWA Ibnu Taimiyah 24/376.

Dari pernyataan Ibnu Taimiyah di atas ternyata bukan sekedar isapan jempol. Sebab sudah banyak kejadian (walaupun kejadiannya tidak secara tiba-tiba) terjadi di beberapa tempat.

Di antaranya saat terjadinya banjir di Saudi Arabia. Tepatnya di pekuburan Baqi’. Di sana disebutkan bahwa ditemukan jasad yang masih utuh yang diperkirakan jasadnya pahlawan perang Uhud, Hamzah, pamannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Padahal Hamzah sudah dikuburkan sekitar empat belas abad yang lalu. Padahal biasanya; manusia yang sudah meninggal lalu dikuburkan empat tahun silam saja apabila digali kuburnya maka yang tersisa hanya tulang belulangnya saja. Itupun terkadang tidak utuh.

Juga pada zamannya Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau beberapa kali bertemu dengan seseorang (sebut saja kemudian sebagai murid Ibnul Qayyim) yang sering berkonsultasi. Lalu dalam konsultasinya si murid ini memiliki teman laki-laki yang selalu memakai burdah (cadar/penutup muka). Kemudian si murid bercerita mengenai sebab musabab temannya laki-laki ini yang selalu memakai burdah.

Dalam ceritanya si murid mengatakan bahwa temannya bercadar disebabkan adanya ‘bekas’ di wajahnya. Sedangkan bekasnya sendiri dikarenakan adanya peristiwa yang memalukan.

Orang yang bercadar (teman dari gurunya Ibnul Qayyim) itu pekerjaannya adalah sebagai penggali kubur dan penjaga pekuburan. Sehingga dia sangat tahu apabila ada orang yang meninggal dan dikuburkan di sebelah mana dikuburkannya.

Tetapi ada satu keburukan ‘sampingan’ dari pekerjaan dia sebagai penjaga dan penggali kubur. Yaitu jika pada siang hari ada seseorang yang meninggal dan dikuburkan di tempat yang dia jaga maka pada malam harinya dia akan menggali kubur yang siangnya sudah diisi oleh orang yang sudah meninggal. Tujuannya?

Dia mencuri kain kafan pembungkus si mayit. Kemudian dia mencucinya lalu keesokan harinya dia jual ke pasar.

Tetapi pada suatu ada seorang gadis shalihah yang meninggal dan siang itu segera si gadis yang meninggal itu dikuburkan.

Dan saat itulah si tukang penggali kubur itu mendapatkan batunya. Yakni mayat gadis shalihah itu tahu-tahu menampar pipinya hingga membekas. Ditambah lagi si tukang penggali kubur itu mendengar suara yang mengatakan bahwa dirinya sudah disucikan dan akan menghadap Allah hanya dengan kain kafan yang melekat ditubuhnya. Tetapi kenapa mau dicuri juga.

Sejak kejadian itulah akhirnya si penjaga kuburan dan pengali kubur itu selalu menggunakan cadar. Hal itu dia lakukan agar orang-orang tidak mengetahui wajahnya yang membekas akibat tamparan dari si mayit gadis shalihah itu.

Begitu mendengar cerita dari muridnya itu, kemudian Ibnul Qayyim menyuruh muridnya untuk menanyakan temannya yang bercaar itu tentang wajah para ulama yang telah dikuburkan lalu malam harinya kain kafannya dicuri?

Setelah muridnya Ibnul Qayyim menanyakan kepada si penjaga dan penggali kubur tentang posisi wajahnya para ulama yang kain kafannya yang sudah dicuri.

Ternyata jawabannya sangat mengejutkan; yakni wajah para ulama itu membelakangi kiblat. Padahal sebelumnya seluruh tubuh dan wajahnya dikuburkan oleh masyarakatnya menghadap ke kiblat. Tetapi anehnya seluruh tubuhnya masih menghadap ke kiblat dan hanya wajahnya saja yang membelakangi kiblat.

Lalu bertanyalah sang murid kepada Ibnul Qayyim. Lalu Ibnul Qayyim menjawab bahwa wajah sang ulama itu berubah saat digali itu disebabkan semasa hidupnya sang ulama itu tidak pernah mengamalkan segala yang dia ucapkan.

Semoga Allah selalu menjaga kaum muslimin dari siksa kubur.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Lanjutan: Perjalanan Kematian Bag.29

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button