Jaga Diri Dan Keluarga Bag.2

Jaga Diri Dan Keluarga Bag.2

Jika di ayat pertama di surat At Tahriim berkaitan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang berjanji untuk tidak lagi memakan dan minum yang disajikan oleh Maria Al Qibtiyah. Lalu turunlah ayat ini, sebagai bentuk teguran Allah Ta’ala kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Jaga Diri Dan Keluarga

Maka sebenarnya ayat itu bukan sekedar untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam saja. Tetapi ini justru sebagai warning bagi setiap kaum muslimin yang terkadang karena cintanya kepada keluarganya (istri dan anak-anaknya) lalu dia akan menghalalkan terhadap yang telah Allah haramkan ataupun sebaliknya.

Karenanya Allah juga mengingatkan pada ayat lainnya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. Qs. At Taghaabuun 15-16.

Dari ayat ini sebenarnya Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa istri-istri dan anak-anak yang kita cintai itu kelak bisa jadi akan menjadi musuh kita jika kita tidak mampu mengelola cinta kita terhadap mereka.

Kalau kita salah dalam mengelola cinta maka istri-istri dan anak-anak kita akan menjadi musuh kita, baik di dunia maupun akhirat. Tetapi apabila kita benar dalam mengelola cinta kita terhadap istri-istri dan anak-anak maka mereka akan menjadi “qurrata a’yun” atau yang menyenangkan apabila dipandang.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Qs. Al Furqan 74.

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Qs. As Sajdah 16-17.

Apabila melihat kedua ayat di atas rasanya sejuk sekali. Dan tentunya setiap muslim mengimpikan seperti itu. Tetapi perlu diingat bahwa menempa jiwa setiap istri dan anak itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Makanya kemudian Allah memberikan contoh gambaran kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam mengelola cinta beliau kepada seluruh istri-istrinya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلا.

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu kesenangan lalu aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Qs. Al Ahzaab 28.

Tidak dibayangkan bagaimana saat ayat ini turun. Seorang nabi yang sangat terhormat lalu tiba-tiba mendapatkan harta ghanimah yang begitu luar biasa banyaknya. Dalam riwayat ada yang menyebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mendapat bagian ghanimah satu setengah ton emas murni!

Menggiurkan bukan?

Maka tidak mengheran apabila istri-istri beliau menginginkan hanya “sekedar” perhiasan emas itu. Tetapi justru yang terjadi turun ayat ini.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam lebih memikirkan nasib umatnya ketimbang keluarganya. Hal ini bukan berarti bahwa Rasulullah tidak cinta kepada keluarganya. Melainkan beliau ingin agar umatnya lebih sejahtera terlebih dahulu. Sedangkan keluarganya maka beliau sudah memberinya dengan kesederhanaan.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Lanjutan: Jaga Diri Dan Keluarga Bag.3

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button