Ujian Ibrahim

Kisah Nabi Ibrahim

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى.

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. Qs. Al Baqarah 125.

Apabila melihat ayat di atas seharusnya setiap muslim memahami sisi-sisi kesejarahan dahulu yang pernah dilalui nabi Ibrahim alaihi salam beserta istri dan anaknya tercinta, Ismail.

Kisah Nabi Ibrahim

Atau setidaknya ayat ini menunjukkan bahwa Allah sebenarnya mengingatkan perjuangannya nabi Ibrahim alaihi salam yang benar-benar terjadi kepada seorang yang telah mengamalkan ayat:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ.

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Qs. Al An’aam 162-163.

Yaitu sebuah ketundukan nabi Ibrahim alaihi salam beserta keberhasilan sang istri, Hajar, dalam mendidik anak kandungnya tercinta, Ismail alaihi salam.

Ya, rangkaian ketundukan dan keberhasilan pendidikan sebuah keluarga itu terangkum dalam sebuah ibadah yang besar; haji.

Sebuah peribadatan yang membutuhkan fisik, mental dan materi.

Berawal dari nabi Ibrahim yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak. Padahal nabi Ibrahim sangat mendambakan sekali kehadiran seorang yang kelak akan menjadi penerus perjuangan dakwahnya kepada Allah.

Sementara itu sang istri, Sarah, karena belum juga hamil akhirnya merelakan suaminya, nabi Ibrahim, menikahi wanita mulia bernama Hajar.

Dan dalam waktu singkat, setelah pernikahannya, Hajar hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki mungil nan menggemaskan. Lalu diberikanlah nama bayi itu dengan nama Ismail.

Tidak lama setelah bayi Ismail itu lahir tiba-tiba Allah memerintahkan nabi Ibrahim untuk pergi ke suatu lembah dengan jarak tempuh perjalanan yang amat sangat panjang.

Sebagai seorang hamba yang patuh dan mengamalkan surat Al An’aam 162-163 maka nabi Ibrahimpun berangkat bersama istri keduanya, Hajar, dan bayi mungilnya Ismail.

Ini sungguh berat sebenarnya. Sebab istrinya sendiri masih lemah (pasca melahirkan). Di samping itu bayi kecilnya juga masih sangat lemah sekali bukan?

Tetapi itulah nabi Ibrahim, beliau (dengan penuh ketundukan hati) sama sekali tidak membantah apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Sebab beliau yakin bahwa dibalik perintah Allah itu pasti tidak akan ada yang membahayakan bagi dirinya, istri dan bayi kecilnya.

Subhaanallah. Begitu luar biasanya keimanan nabi Ibrahim alaihi salam.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Lanjutan: Kisah Nabi Ibrahim Bag.2

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button