Nasihat Luqman Kepada Anaknya Bag.5
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Qs. Lukman 15.

Poin berikutnya dalam mendidik anak didiknya adalah; pendidikan akhlak. Terutama Allah lalu kepada kedua orang tuanya.
Sebagaimana ayat sebelumnya disebutkan agar anak didiknya berbakti kepada kedua orang tuanya. Lalu bagaimana jika orang tuanya musyrik atau mungkin menyuruhnya untuk berbuat kemaksiatan?
Ternyata di ayat ini telah dijawab. Sebab terkadang ada juga seorang anak yang shalih/shalihah memilliki orang tua yang buruk perilakunya atau bahkan kafir.
Hal itu pernah terjadi pada diri seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sahabat itu bernama Mus’ab bin Umair.
Ya, ketika di awal Islam datang, Mus’ab bin Umair termasuk salah seorang pemuda yang masuk Islam secara sembunyi-sembunyi.
Tetapi lama kelamaan keislaman Mus’ab bin Umair ini ketahuan juga oleh ibundanya tercinta. Maka murkalah ibundanya kepada Mus’ab bin Umair.
Sang ibu secara terus menerus menyuruh Mus’ab bin Umair radliyallahu ‘anhu agar Mus’ab bin Umair kembali kepada agama nenek moyangnya. Namun Mus’ab bin Umair tetap teguh pada keimanannya.
Hingga sang ibu mengekuarkan ancaman. Yakni berupa tidak mau makan!
Dan ketika ancamannya itu benar-benar dijalani, Mus’ab bin Umairpun tetap pada pendiriannya, dalam keimanan. Tetapi Mus’ab bin Umair tetap saja berbakti kepada ibundanya, yakni selalu meyiapkan makanan untuk ibundanya.
Sampai pada batas tertentu sang bunda pingsan. Maka Mus’ab bin Umairpun menolongnya.
Setelah siuman Mus’ab bin Umair dengan tegas, tegas tetapi tetap santun dan sopan mengatakan kepada ibundanya bahwa seandainya ibundanya memiliki nyawa seribu sekalipun. Lalu nyawa itu satu persatu keluar dari tubuhnya karena tidak makan, maka Mus’ab bin Umair akan tetap pada keislamannya.
Ya, begitulah Mus’ab ibn Umair. Beliau telah mengamalkan mengamalkan ajaran Islam secara benar. Yakni berbakti kepada kedua orang tuanya, khususnya ibundanya. Walaupun ibundanya masih kafir dan secara terus menerus memaksanya untuk kembali kepada agama nenek moyangnya. Mus’ab bin Umair tetap pada keislamannya dan beliau juga tetap berbuat baik kepada ibundanya.
Maka apabila saat ini ada yang berani melawan orang tuanya hanya karena orang tuanya sering menyuruhnya membeli rokok, tidak mau shalat jamaah di masjid dan mungkin tidak sefaham dengan pemikirannya.
Sungguh sangat aneh orang semacam ini. Sebab dia mengaku sebagai seorang aktifis tetapi kepada orang tuanya sangat tidak hormat atau menyepelekan.
Coba lihat Mus’ab bin Umair di atas. Orang tuanya (ibundanya) bahkan secara terus menerus menyuruhnya kembali kepada agama nenek moyang (murtad) saja beliau tetap masih hormat.
Mus’ab bin Umair hanya tidak melaksanakan perintah kembali kepada agama nenek moyangnya (murtad) tetapi untuk urusan lainnya Mus’ab bin Umair masih tetap hormat kepada ibundanya.
Jadi inilah aplikasi dari pendidikan Lukman dalam surat Lukman ayat 15.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Lanjutan: Nasihat Luqman Kepada Anaknya Bag.6
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
