Sebab Sebab Turunnya Ayat Al Quran
Memang benar bahwa ayat-ayat Allah itu ada yang turun melalui penyebab tetapi juga ada yang tanpa sebab. Berikut ini di antara sahabat yang menjadi penyebab turunnya ayat:
Pertama; surat Al Mujaadalah.

Surat ini turun berkaitan dengan sahabiyah Khaulah binti Tsa’labah. Sedangkan Khaulah sendiri adalah seorang sahabiyah yang mulia. Beliau berasal dari kaum Anshar. Khaulah adalah seorang istri dari seorang sahabat bernama Aus bin Shamit radliyallahu anhu, saudara dari sahabat Ubadah bin Shamit radliyallahu anhu.
Khaulah radliyallahu anha terkenal dengan kesabaran dan keimanannya. Selain itu beliau adalah salah satu dari wanita yang menguasai balaghah (keindahan tata bahasa) dan fashahah (kefasihan dalam berbicara) dan cantik.
Khaulah hidup miskin bersama suaminya tetapi Khaulah merasa bahagia dan ridha dengan apa yang telah diberikan oleh Allah.
Suatu hari saat dia sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba suaminya datang lalu memeluknya. Khaulah berusaha menghindar (tidak merespon) dari pelukan suaminya lantara ketika itu Khaulah masih dalam posisi shalat.
Mengetahui hal tidak ada respon dari Khaulah maka Aus pun tersinggung, lalu keluarlah kalimat, “Kedudukanmu bagiku sama dengan punggung ibuku”.
Sungguh kalimat seperti di atas dikenal pada masa Jahiliyah menunjukkan sebagai bentuk talak paling keras. Di mana seorang suami tidak mungkin lagi bisa rujuk kepada istrinya; yang dalam hukum fikh disebut dengan dzihar.
Khaulahpun kaget dan sedih mendengar ucapan suaminya seperti itu. Maka Khaulah segera mendatangi rumah Rasulullah untuk mengadukan perkara ini. Kata Khaulah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Sesungguhnya Aus menikahiku ketika aku masih gadis yang menarik. Tetapi setelah aku memasuki masa tua dan melahirkan anak banyak, dia menjadikanku seperti ibunya. Sementara aku memiliki banyak anak yang masih kecil-kecil darinya.
Jika dia yang mengambil hak asuhnya maka anak-anak akan terlantar, tetapi jika aku yang mengambilnya maka mereka akan kelaparan. Dia telah memakan hartaku dan telah menghabiskan masa mudaku sampai ketika aku sudah menjadi tua dan masuk masa menopause diapun mendziharku”.
‘Aisyah berkata, “Dan dia terus saja mengeluh kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sampai-sampai aku pun menangis dan begitu juga ahlu bait yang hadir mendengar karena kasihan dan iba terhadap Khaulah.
Ketika dia masih dalam keadaan seperti itu di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, tiba-tiba turunlah wahyu kepada Rasulullah.
Begitu tahu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mendapatkan wahyu nyawa Khaulah seakan-akan mau keluar karena takut wahyu itu turun untuk memisahkan dirinya dengan suaminya dan menetapkan tentang perintah untuk jatuhnya talak.
Setelah wahyu turun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan kabar gembira kepada Khaulah sembari tersenyum, beliau bersabda, “Wahai Khaulah! Allah telah menurunkan wahyu berkaitan dengan urusanmu dan suamimu”. Lalu Rasulullah membacakan firman Allah yang baru saja turun yang berkaitan dengan Khaulah;
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ. الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلا اللائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ. وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ. فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. Qs. Al Mujaadalah 1-4.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Lanjutan: Sebab Sebab Turunnya Ayat Al Quran Bag.2
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
