Pendidikan Para Sahabat Bag.9

Pendidikan Para Sahabat Bag.9

7. Menghiasi jati diri dengan taqwa.

Sudah jamak dimaklumi bahwa sebuah kesuksesan itu dilihat dari sisi materi dan kepangkatan di pundak atau titel yang menambah panjang pada nama seseorang.

Begitu sebaliknya seseorang dianggap gagal atau tidak sukses ketika tidak terlihat kepangkatan di pundaknya, materi yang menempel pada anggota tubuh an sebagainya.

pendidikan para sahabat nabi

Ya, begitulah kondisi saat ini. Hal itu sangat berbeda dengan cara pendidikan yang Rasulullah terakan pada para sahabat.

Makanya tidak salah apabila Hasan Basri rahimahullah menjawab pertanyaan muridnya tentang sahabat Rasulullah berkaitan dengan surat Al Fath 29;

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Hasan Basri ditanya mengenai ayat di atas, khususnya yang berbunyi; tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Hasan Basri menjawab bahwa kalian pasti akan beranggapan mereka (para sahabat) gila.

Sebab dari sisi penampilan maka para sahabat sangat jauh dengan penampilan manusia pada zamannya Hasan basri, apalagi penampilannya manusia saat ini.

Betapa tidak? Batisnya Abdullah bin Mas’ud saja di mata Allah bila dibandingkan dengan gunung Uhud maka jauh lebih berat betisnya Abdullah bin Mas’ud.

Ya, pakaian Abdullah bin Mas’ud lusuh hingga menampakkan betisnya yang kecil. Hal itu mengundang tawa yang mengandung cemooh dari banyak orang.

Tetapi ketika Rasulullah mengatakan bahwa betisnya jauh lebih berat timbangannya di mata Allah, maka seketika orang yang tertawapun terdiam.

Suatu ketika Bilal dan Shuhaib berjalan melewati Abu Sufyan. Lalu Bilal sambil memegang pedangnya berkata pelan kepada Shuhaib, “Demi Allah, pedang ini telah memeanggal banyak leher manusia kecuali leher orang itu”. Kata Bilal sambil melirik Abu Sufyan.

Melihat itu Abu Sufyanpun marah. Lalu mengadukan hal itu kepada Abu Bakar Ash Shiddiq. Tetapi Abu Bakar tidak memberi solusi ataupun memarahi.

Karena tidak ada solusi maka Abu Bakar dan Abu Sufyan menghadap Rasulullah, demi mendapatkan keadilan. Akan tetapi justru Rasulullah bersabda kepada Abu bakar,

“Wahai Abu Bakar, apakah kamu memarahi keduanya (Bilal dan Shuhail)? Jika kamu memarahi keduanya maka Allah akan marah kepadamu”. Diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya.

Kenapa derajat Bilal sampai seperti itu? Sebab di saat manusia disibukkan oleh keduniaan ternyata keduanya justru bersama Rasulullah sibuk dengan menyeru manusia lain kepada Islam. Sebagaimana firmanNya:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Qs. Al Kahfi 28.

Pada saat yang lain, ketika kas baitul maal berlebih, khalifah Umar membagi-bagikan kain kepada masyarakat Madinah. Masing-masing mendapatkan jatah satu kain, namun ternyata Usamah bin Zaid mendapat jatah agak berlebih.

Ketika anaknya Umar (Abdullah bin Umar) bertanya, kenapa kok jatahnya Usamah lebih banyak?

Umar menjawab, “Sebab bapaknya Usamah lebih mencintai Rasulullah daripada bapakmu. Dan Usamah lebih dipercaya Rasulullah daripada dirimu”.

Ya, sebab Zaid bin Haritsah rela mengabdi menjadi budaknya Rasulullah bertahun-tahun. Dan setelah merdekapun Zaid masih rela mengabdi di rumah Rasulullah. Sedangkan Usamah bin Zaid adalah satu-satunya anak muda yang pernah diangkat Rasulullah memimpin pasukan untuk melawan Romawi.

Mari kita teladani Rasulullah dengan cara menghiasi diri kita dengan taqwa.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet

Call Now Button