Bukan Sekedar Istri Biologis Bag.2
2. Najmuddin
Contoh kedua ini adalah sosok seorang anak keturunan bangsawan penguasa Tikrit. Najmuddin namanya. Sebagai seorang bangsawan tentunya amat sangat mudah bila dia mencari pasangan, seharusnya.
Namun kenyataannya hingga pada usia hampir separuh baya, Najmuddin masih menjomblo ria. Tentunya kejombloannya ini membuat keluarga besarnya risau.
Sebab bukannya seluruh keluarga diam dengan sikap jomblonya ini. Sudah lama keluarga besarnya menawarkan beberapa wanita yang –menurut pandangan keluarga- layak untuk diperistri.
Tetapi Najmuddin selalu saja menolak. Salah satu contoh adalah saat Najmuddin ditanya pamannya (bernama Asaduddin), mengenai hal ini.

Jawaban Najmuddin hanya menjawab bahwa Najmuddin belum menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan istri. Lalu Asaduddin coba menawarkan putri Malik Syah.
Sultan Muhammad bin Malik Syah, yang merupakan raja Bani Saljuk. Selain itu, sang paman juga mengajukan putri Nidzamul Malik, anak seorang menteri dari para menteri agung pada kekhilafahan Abbasiyah.
Namun lagi-lagi Najmuddin memberikan jawaban katanya, “Mereka juga tidak cocok denganku”. Jawaban Najmuddin tentu saja membuat Asaduddin bingung dengan kriteria calon istri yang diinginkan keponakannya itu.
Padahal para wanita yang ditawarkan kepadanya itu merupakan wanita-wanita terpandang keluarganya. Bibit, bebet dan bobotnya juga berkwalitas.
Tetapi karena para wanita ini dianggap tidak cocok untuk Najmuddin, maka Asaduddin pun mengajukan pertanyaan, “Lantas wanita seperti apa yang kamu kehendaki?”
Seketika Najmuddin menjawab pelan tapi tegas, “Aku menginginkan istri shalihah yang kelak bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anakku lalu dia didik dengan baik hingga menjadi pemuda ksatria yang kelak mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin”.
Asaduddin terkesima mendengar jawaban keponakannya. Asaduddin menyadari bahwa keponakannya ini memiliki sifat yang teguh dalam pendirian jikalau sudah punya ketetapan hatinya.
“Di mana kamu bisa mendapatkan wanita yang seperti itu?” tanya Asaduddin setengah tidak percaya. “Barangsiapa yang ikhlas dengan niat karena Allah maka akan mengkaruniakan pertolongan, “jawab Najmuddin mantap.
Selang beberapa hari kemudian Najmuddin duduk bersama seorang syaikh di sebuah masjid di Tikrit dan berbincang-bincang dengan syaikh.
Di tengah perbincangannya itu tiba-tiba datanglah seorang wanita muslimah yang menegur syaikh dari balik tabir dan melakukan perbincangan.
Secara tidak sengaja -di balik perbincangannya ini- Najmuddin mendengar pertanyaan syaikh yang ditujukan kepada si wanita muslimah ini.
“Kenapa engkau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?” tanya syaikh. Wanita muslimah itu menjawab, “Duhai syaikh, dia adalah sebaik-baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan. Tetapi dia tidak cocok untukku”.
Mendengar jawaban si wanita muslimah itu syaikh keheranan. Lalu kembali bertanya lebih menyelidik, “Lalu pemuda seperti apa yang engkau inginkan?”.
Dengan tetap menjaga kesopanan sang wanita muslimah itu menjawab, “Saya ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anaknya.
Dan anaknya kelak menjadi seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepangkuan kaum muslimin”.
Najmuddin langsung tersentak begitu mendengar jawaban sang wanita muslimah itu. Seakan ada magnet yang begitu kuat untuk melakukan suatu tindakan terhadap wanita itu.
Sebab jawabannya itu sama persis dengan jawaban diri terhadap pamannya, Asaduddin, yang menanyakan tentang kriteria wanita yang menjadi harapannya kelak. Allahu akbar!!
Sebuah kejadian yang seakan mustahil terjadi kecuali atas campur tangan Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ.
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Qs. Ath Thalaaq 2-3.
Najmuddin langsung berdiri dan mendekati syaikh lalu mengutarakan hendak menikahi wanita muslimah itu. Kata Najmuddin kepada syaikh, “Saya ingin menikahi wanita muslimah ini.
Sebab wanita seperti inilah yang saya idamkan. Istri shalihah yang akan menggandeng tangan saya ke surga dan dari rahimnya akan melahirkan anak saya yang kelak akan dia didik menjadi seorang ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin”.
Dan ternyata sang wanita muslimah itupun setuju.
Akhirnya syaikh pun memediasi hhubungan mereka berdua hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.
Dan dari hasil pernikahan mereka berdua lahirlah seorang lelaki perkasa yang sesuai dengan harapan kedua orang tuanya yang memang sengaja mereka menikah hanya bertujuan untuk itu.
Anak lelaki perkasa itu bernama Shalahuddin Al Ayyubi. Sang penakluk Baitul Maqdis dan mengembalikannya ke tangan kaum muslimin.
Jadi, siapakah generasi hari ini yang siap untuk melakukan misi mulia ini demi izzul Islam wal muslimin?
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim


