Bukan Sekedar Istri Biologis
Hampir rata-rata manusia bila ditanya tentang tentang istri idaman maka mereka akan menjabarkan; yang cantik wajahnya, tinggi, semampai, anak orang kaya, terpelajar dan seterusnya.
Maka tidak heran apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu hartanya, martabatnya, kecantikannya dan agamanya. (Maka) pilihlah perempuan yang baik agamanya niscaya engkau akan beruntung”. HR. Bukharino. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah.

Jadi tidak heran bila ada suatu pernikahan karena satu di antara empat sebab di atas. Hanya pernikahan yang sangat ideal menurut Rasulullah adalah pemilihan seorang wanita untuk dinikahi karena agamanya.
Nah agar memiliki keberuntungan yang berlipat maka alangkah lebih baiknya apabila menikahnya tidak sekedar menikahi wanita yang baik agamanya, tetapi juga diniatkan untuk sebuah cita-cita mulia. Sebagaimana contoh berikut:
1. Zaid bin Haritsah
Semua tahu bahwa Zaid bin Haritsah dahulunya sering disebut dengan nama Zaid bin Muhammad. Sampai suatu peristiwa pun terjadi. Yakni Rasulullah menikahi mantan (janda) istrinya Zaid.
Sontan saat itu kota Madinah secara khusus menjadi heboh. Sebab waktu itu anak yang sudah diangkat menjadi anak angkat ya dianggap sama seperti halnya dengan anak kandung.
Namun ternyata kegaduhan itu tidak lama. Sebab Allah langsung menurunkan ayatNya;
مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ. ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs. Al Ahzaab 4-5
Sejak turunnya ayat ini maka penyebutan nama Zaid bin Muhammad berubah menjadi Zaid bin Haritsah.
Tidak lama setelah peristiwa Rasulullah menikahi mantan istri Zaid, Zainab binti Jahsy, Rasulullah bersabda: “Siapa yang senang menikah dengan wanita surga, hendaklah ia menikah dengan Ummu Aiman”.
Begitu mendengar sabda Rasulullah maka Zaid langsung menawarkan diri untuk menikahinya. Padahal apabila dilihat dari perbedaan usia maka sunggah sangat jauh sekali. Sebab Ummu Aiman adalah ibu asuh Rasulullah sejak beliau lahir.
Sedangkan Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Rasulullah. Yang itu maknanya bahwa usia Zaid jauh lebih muda dari Rasulullah.
Jadi ini adalah pernikahan dengan usia yang sangat jauh. Yakni yang lelaki seumuran dengan usia anaknya Rasulullah sedang yang wanita seumuran dengan usia ibundanya Rasulullah.
Tetapi karena menikahnya didasari pada sabda Rasulullah (“Siapa yang senang menikah dengan wanita surga, hendaklah ia menikah dengan Ummu Aiman”) maka Zaid tidak peduli dengan jarak usia yang begitu jauh.
Walhasil dari pernikahannya ini lahirlah sosok manusia hebat bernama Usamah bin Zaid.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim


