Dahsyatnya Istighfar Bag.2

Keutamaan Istighfar & Dahsyatnya Istighfar Bag.2 (Lanjutan)

dahsyatnya istighfar

Setelah tahu tentang dahsyatnya efek positif dari istighfar, tentunya setiap muslim tidak akan pernah meninggalkannya. Tetapi mengenai istighfar ini ternyata ada sesuatu yang sangat menarik. Yaitu bahwa ternyata Rasulullah sendiri selalu mengucapkan istighfar sebanyak 70 kali dalam sehari. Subhaanallah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari).

Nah, kalau Rasulullah saja yang notabenenya sudah mendapatkan kepastian akan masuk surgaNya tanpa hisab dan dosa-dosanya saja sudah pasti diampuni. Lalu bagaimana dengan umat Islam saat ini? Tentunya harus selalu beristighfar melebihi Rasulullah yang sehari semalam sebanyak 70 kali.

Apalagi dalam hadits lainnya beliau juga bersabda: يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

Berikut ini adalah sekelumit kisah yang berkaitan dengan istighfar:

Al Jauzi mengkisahkan dalam bukunya tentang Imam Ahmad yang hendak pergi ke negeri Syam. Ketika sudah dalam perjalanan, imam Ahmad ternyata tidak memiliki tujuan pasti ke negeri Syam ini.

Sesampainya di Syam imam Ahmad berhenti dan masuk masjid melaksanakan shalat dhuhur. Di masjid itu tidak seorangpun yang mengenalinya. Selesai shalat dhuhur beliau sambil duduk-duduk untuk istirahat, karena beliau dari Baghdad, tentunya sangat capek. Hingga waktu asar pun masuk dan beliau shalat berjamaah bersama penduduk setempat.

Kembali lagi, karena kepergiannya ke Syam ini beliau tidak memiliki agenda tertentu maka selesai shalat asapun beliau habiskan waktunya dengan membaca Al Qur’an sembari menunggu maghrib dan isya’.

Setelah malam tiba, rencana imam Ahmad hendak istirahat di masjid itu, namun tiba-tiba datang seorang penjaga masjid menegurnya dan tidak mengizinkan beliau istirahat di masjid tersebut.

Imam Ahmad sebenarnya sudah mengutarakan bahwa dirinya seorang musafir, tetapi sang penjaga masjid itu tetap saja melarangnya. Bahkan imam Ahmad didorong sampai ke jalanan.

Tidak tahunya, imam Ahmad yang didorong sampai ke jalanan itu diketahui seorang pedagang roti. Lalu pedagang roti itu memanggil imam Ahmad dan menawarkan untuk istirahat di tokonya.

Pedagangn roti itu berkata, “Rumahku tidak jauh dari sini, ini toko roti ku, dibelakang sana, ada ruangan untuk beristirahat. Beristirahatlah malam ini dan besok pagi engkau bisa melanjutkan perjalanan lagi”.

Di dalam toko itu imam Ahmad memperhatikan aktivitas sang pedagang roti itu. Dari pengamatan beliau, ada sesuatu paling menarik perhatian dari sang pedagang ini. Yaitu sang pedagang selalu beristighfar tanpa putus; sejak awal dia memulai aktivitas memulai membuat adonan roti hingga usai.

Kemudian imam Ahmad mendekat seraya bertanya, “Sejak kapan anda selalu istighfar tana henti seperti ini?” “Sudah lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi”, jawab pedagang roti. “Lalu apa yang dihasilkan dari mambaca istighfar ini”, tanya imam Ahmad menyelidik.

“Allah selalu mengkabulkan semua permintaanku”, jawabnya ringan. “Lalu adakah permintaanmu yang belum dikabulkan Allah?”, tanya imam Ahmad yang mulai penasaran.

Dengan suara mantap pedagang roti itu menjawab, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah imam Ahmad bin Hanbal”.

Lalu imam Ahmad berucap, “Allahu Akbar! Karena istighfarmu lah Allah Ta’ala mendatangkan saya ke kotamu ini tanpa alasan yang jelas. Dan karena istighfarmu lah marbot masjid itu melarang saya tidur di maasjid. Dan karena istighfarmu lah akhirnya saya istirahat di rumahmu ini. Sayalah Ahmad bin Hanbal itu”.

Subhaanallah. Semoga kisah di atas mampu menginspirasi kita untuk selalu istighfar setiap harinya.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Call Now Button