Dahsyatnya Hati
Setiap orang (pada dasarnya) apabila melakukan suatu perbuatan maka sebenarnya dia telah mengikuti kata hatinya. Baik perbuatan ma’ruf ataupun mungkar.
Hanya saja ketika perbuatan yang dilakukannya sebuah kebaikan maka sesungguhnya hatinya akan merasa puas dan senang. Sebaliknya; apabila perbuatan yang dikerjakannya adalah suatu keburukan maka sesungguhnya hatinya merasakan kegundahan. Baik disadari atau tidak, entah diakui atai tidak.
Tetapi bila ternyata suatu perbuatan yang dilakukannya adalah sebuah kemungkaran dan dia sama sekali tidak ada rasa kegundahan dan penyesalan, maka sesungguhnya hati orang tersebut telah sakit atau bahkan mati.
Lalu bagaimana sebenarnya hati itu? Atau bagaimana sebenarnya untuk mengetahui tentang hati itu sehat atau sakit atau bahkan mati

Dalam kitab IGHATSAYUL LAHFAN Ibnul Qayyim membagi kondisi hati menjadi tiga:
- Pertama: hati yang bersih
Dalam hal ini beliau mensitir surat Asy Syu’ara;
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (88) إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Qs. Asy Syu’araa: 88-89.
Yang dimaksud dengan hati bersih (qalbun salim) adalah yang selalu dihiasi dengan ketaatan kepada Allah. Yaitu hati yang terhendari rasa dengki, sombong, sum’ah (hatinya suka dipuji), dendam dan lain sebagainya.
Seandai hati ini marah maka marahnya karena Allah, dan seandainya senangpun senangnya karena Allah.Maka bergembiralah bagi orang yang memiliki hati yang bersih ini.
- Kedua: Hati yang mati
Keadaan hati yang kedua yang sangat kontras dengan hati yang pertama. Namanya juga mati. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah hati yang tidak mengenal Allah, tidak mengenal Rasulullah, tidak mengenal Islam dan tidak mengenal ajaran Islam secara benar.
Sehingga semua perilakunya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Bisa jadi orang seperti ini akan sewot terhadap orang yang suka melakukan kema’rufan.
- Ketiga: Hati yang sakit
Kelompok ketiga ini boleh dibilang berada di tengah tengah. Yaitu antara hati yang sehat dengan hati yang mati. Hanya saja yang membedakan dengan hati yang sehat adalah bahwa pada dasarnya pada diri pemilik hati ini tahu tentang Allah, Rasulullah dan Islam.
Akan tetapi nafsunya telah mengalahkannya. Sehingga dia akan lebih condong atau bahkan memilih kemaksiatan dari pada ketaatan. Dengan begitu maka perilakunya jelas lebih banyak maksiatnya.
Wallahu a’lam
Oleh: Abu Ibrahim

