Wabah Tha’un Dan Penyelesaiannya
Dalam sebuah hadits disebutkan dari Hafshah binti Sirin bahwa dia mengatakan Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu pernah bertanya kepadaku,“Yahya meninggal karena apa?” Aku katakan karena Thaun (penyakit menular).
Anas berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Thaun adalah kesyahidan bagi setiap Muslim.” (HR Al Bukhari 2830, 5732,Muslim 1916, Ahmad 3/150).
Sementara tha’un itu sendiri memiliki ciri-ciri sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qayyim Al Jauzi dalam kitabnya yang berjudul Ath-Thibb an-Nabawi, secara bahasa, thaun adalah sejenis wabah penyakit, demikian disebutkan dalam ash-Shihah.

Sementara itu, di kalangan medis, thaun adalah pembengkakan parah yang mematikan, menimbulkan rasa haus dan dahaga yang amat parah dan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya menjadi hitam, hijau, atau abu-abu.
Selanjutnya, nanah akan muncul. Biasanya, thaun menyerang tiga lokasi di tubuh, yaitu ketiak, bagian belakang telinga, dan ujung hidung. Di samping itu, thaun terdapat di bagian daging tubuh yang lunak.
Penyakit ini pernah berjangkit pada zaman kekhalifahan Umar bin Khaththab radliyallahu‘anhu. Tepatnya di wilayah (propinsi) Syam dengan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai gubernurnya. Dan wabah ini menelan korban jiwa sebanyak 20.000 orang.
Karena begitu banyaknya korban yang meninggal disebabkan wabah ini, maka Abu Ubaidah bin Jarrah berwudlu lalu pergi ke tanah lapang dan shalat dua rakaat.
Selesai shalat beliau mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Allah, seandainya wabah tha’un ini hanya bisa hilang dengan nyawaku maka ambillah”.
Begitu selesai berdoa, Abu Ubaidah bin Jarrah terjatuh dan meninggal. Dan anehnya begitu Abu Ubaidah bin Jarrah meninggal maka hilanglah wabah tha’un itu dari negeri Syam.
Pertanyaannya; adakah pemimpin hari ini yang siap berdoa dan menyerahkan nyawanya kepada Allah demi hilangnya wabah covid 19 dari negeri ini?
Wallahu a’lam
Oleh: Abu Ibrahim

