Kisah Imam Al-Baghawi: Ulama Tafsir, Hadits, dan Sang Penghidup Sunnah

Dalam pentas sejarah peradaban Islam, ulama ibarat bintang-gemintang yang menerangi gelapnya malam. Mereka adalah pewaris para nabi yang menjaga kemurnian agama ini dari generasi ke generasi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641, dinilai shahih oleh Al-Albani).

Salah satu bintang terang dalam sejarah keilmuan Islam adalah Imam Al-Baghawi rahimahullah. Nama beliau tidak asing lagi bagi para penuntut ilmu, khususnya dalam bidang tafsir, hadits, dan fiqih. Karya-karyanya menjadi rujukan utama lintas mazhab dan lintas zaman. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup, keteladanan, serta sumbangsih besar Imam Al-Baghawi bagi umat Islam.

Mengenal Nasab dan Latar Belakang Imam Al-Baghawi

Kisah Imam Al-Baghawi

Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ Al-Baghawi. Beliau lahir di sebuah kota kecil bernama Bagh (atau Baghshur), sebuah wilayah yang terletak di antara kota Herat dan Marw, di kawasan Khurasan (sekarang masuk dalam wilayah Afghanistan dan sekitarnya). Para ahli sejarah berselisih pendapat mengenai tahun pasti kelahirannya, namun mayoritas merujuk pada rentang tahun 433 H atau 436 H (sekitar abad ke-11 Masehi).

Nisbah “Al-Baghawi” diambil dari kota kelahirannya tersebut. Sementara itu, gelar “Al-Farra’” yang melekat pada namanya memiliki arti pembuat atau penjual pakaian berbulu (mantel). Meskipun demikian, sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa beliau sendiri tidak berprofesi demikian, melainkan gelar tersebut adalah nisbah kepada keluarganya atau sekadar sebutan yang sudah masyhur di masa itu.

Sejak usia belia, Imam Al-Baghawi telah menunjukkan kecerdasan dan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu agama. Tumbuh di lingkungan Khurasan yang saat itu merupakan salah satu pusat peradaban dan keilmuan Islam, membuat Al-Baghawi muda memiliki akses yang luas untuk berguru kepada ulama-ulama besar di masanya.

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Guru-Guru Beliau

Imam Al-Baghawi memulai perjalanan intelektualnya dengan menghafal Al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar ilmu agama di kampung halamannya. Setelah itu, beliau mulai melakukan rihlah ilmiah (perjalanan menuntut ilmu) ke berbagai kota di wilayah Khurasan, khususnya ke Marw ar-Rudh.

Di kota Marw ar-Rudh, beliau bertemu dengan guru utamanya, yaitu Al-Qadhi Husain bin Muhammad Al-Marwarudhi, seorang ulama besar bermazhab Syafi’i. Dari Al-Qadhi Husain, Imam Al-Baghawi mendalami ilmu fiqih mazhab Syafi’i hingga beliau menjadi salah satu pakar fiqih terkemuka. Kedekatan beliau dengan sang guru sangat luar biasa, hingga akhirnya kelak beliau dimakamkan bersebelahan dengan gurunya tersebut.

Selain Al-Qadhi Husain, Imam Al-Baghawi juga meriwayatkan hadits dan menimba ilmu dari banyak ulama terkemuka lainnya, di antaranya:

  • Abu Umar Abdul Wahid bin Ahmad Al-Malhi
  • Abu Al-Hasan Ali bin Yusuf Al-Juwaini
  • Abu Bakar Ya’qub bin Ahmad As-Sayrafi
  • Abu Ali Hasan bin Al-Muzaffar An-Naisaburi

Semangat belajarnya adalah manifestasi dari hadits Rasulullah ﷺ:

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699).

Gelar Kehormatan: Muhyis Sunnah dan Ruknud Din

Kedalaman ilmu dan dedikasi Imam Al-Baghawi dalam membela dan menyebarkan ajaran Islam yang murni membuat para ulama di zamannya memberikan gelar-gelar agung kepadanya. Dua gelar yang paling masyhur adalah:

  1. Muhyi as-Sunnah (Penghidup Sunnah): Gelar ini disematkan karena kegigihan beliau dalam mengumpulkan, menjelaskan, dan membela hadits-hadits Nabi ﷺ dari berbagai pemahaman yang menyimpang. Beliau menghidupkan sunnah di tengah masyarakat melalui karya-karyanya.
  2. Rukn ad-Din (Pilar Agama): Gelar ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan beliau sebagai rujukan umat dalam masalah fatwa, fiqih, dan aqidah.

Karya-Karya Fenomenal Sang Imam

Keberkahan umur Imam Al-Baghawi terlihat dari karya-karya tulisnya yang terus dibaca, dipelajari, dan dikaji hingga hari ini, lebih dari sembilan abad setelah kepergiannya. Di antara karya monumentalnya adalah:

1. Tafsir Ma’alim at-Tanzil (Tafsir Al-Baghawi)

Ini adalah karya magnum opus (karya terbesar) beliau di bidang tafsir. Tafsir ini sangat dipuji oleh para ulama karena kebersihannya dari riwayat-riwayat israiliyyat yang bathil, hadits-hadits palsu, dan pemahaman-pemahaman bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang tafsir mana yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau menjawab: “Tafsir Al-Baghawi adalah ringkasan dari Tafsir Ath-Tha’labi, namun Al-Baghawi telah membersihkannya dari hadits-hadits palsu dan pendapat-pendapat ahli bid’ah.” Tafsir ini mengedepankan metode tafsir bil ma’tsur, yakni menafsirkan ayat dengan ayat lain, dengan hadits, dan dengan perkataan para Sahabat serta Tabi’in.

2. Syarh as-Sunnah

Buku ini merupakan ensiklopedia hadits dan fiqih yang sangat berharga. Dalam kitab ini, Imam Al-Baghawi mengumpulkan hadits-hadits Nabi ﷺ yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, dan muamalah, lalu beliau syarah (jelaskan) maknanya secara bahasa, menyertakan hukum-hukum fiqih yang terkandung di dalamnya, serta menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ulama salaf.

3. Masabih as-Sunnah

Kitab ini merupakan kumpulan hadits-hadits yang diklasifikasikan berdasarkan bab-bab fiqih tanpa menyertakan sanad (untuk memudahkan hafalan). Kitab ini sangat populer, dan kelak disempurnakan oleh Imam Al-Khatib At-Tabrizi menjadi kitab Misykat al-Masabih, yang hingga kini menjadi kurikulum wajib di berbagai madrasah dan pesantren di seluruh dunia.

4. At-Tahdzib fi Fiqh Asy-Syafi’i

Karya beliau dalam bidang fiqih mazhab Syafi’i yang menjadi rujukan penting bagi para fuqaha (ahli fiqih) dalam menetapkan hukum-hukum syariat.

Keteladanan, Zuhud, dan Wara’ Imam Al-Baghawi

Tidak hanya unggul dalam kecerdasan dan hafalan, Imam Al-Baghawi adalah figur ulama yang mengamalkan ilmunya. Beliau dikenal sangat zuhud (meninggalkan kemewahan dunia) dan wara’ (sangat berhati-hati dari perkara yang syubhat atau haram).

Dalam catatan biografi (tarajum), disebutkan bahwa beliau memiliki kebiasaan memakan roti kering saja untuk bertahan hidup. Ketika beberapa murid atau rekannya menyarankan agar beliau memperbaiki gizinya demi kekuatan fisiknya, beliau hanya menambahkan sedikit minyak zaitun pada roti keringnya tersebut. Beliau tidak tertarik dengan kemegahan dinar dan dirham, serta menjauhi pintu-pintu penguasa pada masanya.

Ada satu kebiasaan mulia yang patut diteladani oleh setiap pendidik dan penuntut ilmu saat ini: Imam Al-Baghawi tidak pernah duduk untuk mengajar tafsir maupun hadits melainkan beliau dalam keadaan suci (memiliki wudhu). Beliau sangat mengagungkan ilmu agama, karena beliau sadar bahwa yang disampaikannya adalah Kalamullah dan sabda Rasulullah ﷺ.

Kesalehan beliau juga diakui oleh Imam Adz-Dzahabi yang menyifatinya sebagai: “Seorang imam, hafizh (ahli hadits), syaikhul islam, penghidup sunnah, orang yang ahli ibadah, zuhud, dan merupakan lautan ilmu.”

Wafatnya Sang Ulama

Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk belajar, mengajar, dan menulis, Imam Al-Baghawi menghembuskan napas terakhirnya pada bulan Syawal tahun 516 Hijriyah (sekitar tahun 1122 Masehi) di kota Marw ar-Rudh. Usia beliau saat wafat diperkirakan lebih dari 80 tahun.

Beliau dimakamkan di pemakaman At-Taliqan, bersebelahan dengan makam guru tercintanya, Al-Qadhi Husain. Meski jasadnya telah tiada ratusan tahun yang lalu, ilmu dan karya-karyanya tetap hidup, memberikan pahala jariyah yang aliran kebaikannya tidak pernah putus, sebagaimana janji Rasulullah ﷺ: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih.” (HR. Muslim).

Kesimpulan

Kisah Imam Al-Baghawi mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya keikhlasan dalam menuntut ilmu, urgensi membersihkan hati dari cinta dunia (zuhud), dan keberanian dalam menghidupkan kemurnian sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Dari kota kecil di Khurasan, cahaya ilmu beliau mampu menembus batas-batas geografis, menerangi ruang-ruang perpustakaan, masjid, dan majelis ilmu di seluruh penjuru dunia hingga detik ini.

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Al-Baghawi, meninggikan derajatnya di Surga Firdaus, dan menjadikan kita umat yang senantiasa bersemangat dalam mempelajari serta mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Meneladani Ulama dengan Memakmurkan Masjid

Salah satu cara kita meneladani para ulama salaf seperti Imam Al-Baghawi adalah dengan mencintai majelis ilmu dan memakmurkan masjid-masjid Allah. Masjid yang nyaman dan bersih akan membuat jamaah semakin khusyuk dalam beribadah, shalat berjamaah, maupun saat mengkaji kitab-kitab para ulama.

Bagi Anda para DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) atau donatur yang sedang berniat untuk meningkatkan kenyamanan fasilitas rumah Allah, memilih karpet masjid yang berkualitas adalah salah satu langkah yang tepat. Kami merupakan penyedia layanan jual karpet masjid dengan kualitas premium, tebal, dan lembut yang akan memberikan kenyamanan maksimal bagi para jamaah.

Anda tidak perlu khawatir mengenai anggaran, karena kami menawarkan harga karpet masjid yang sangat bersaing, transparan, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta luas ruangan masjid Anda. Mari bersama-sama meraih pahala jariyah dengan menghadirkan kenyamanan ibadah di rumah Allah. Hubungi kami sekarang juga untuk mendapatkan katalog lengkap dan penawaran terbaik!

Call Now Button