Abdullah bin Al-Mubarak: Ulama, Saudagar, dan Mujahid yang Menyatukan Ilmu dan Amal

Dalam sejarah peradaban Islam, jarang ditemukan sosok yang mampu menyatukan empat keutamaan sekaligus: kedalaman ilmu, ketekunan ibadah, kedermawanan harta, dan keberanian di medan jihad. Salah satu figur langka tersebut adalah Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, seorang muhaddits besar yang namanya harum hingga kini karena keteladanannya yang menyeluruh.

Nasab dan Kelahiran

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzhali Al-Marwazi. Beliau lahir pada tahun 118 H/736 M di kota Merv, wilayah Khurasan. Mengenai asal-usul orang tuanya, sebagian riwayat menyebutkan sang ayah berasal dari Turki dan ibunya dari Khawarizmi, sementara riwayat lain menyebut ibunya berasal dari Persia. Yang disepakati para ahli sejarah adalah bahwa Ibnul Mubarak tumbuh di lingkungan yang mencintai ilmu, meski beliau sendiri kemudian dikenal sebagai saudagar yang sukses sekaligus penuntut ilmu yang luar biasa gigih.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Salah satu keistimewaan Abdullah bin Al-Mubarak adalah kegigihannya dalam mengembara mencari hadits. Beliau memulai perjalanan keilmuannya sejak usia dua puluh tahun dan melakukan rihlah ilmiah ke berbagai negeri seperti Yaman, Mesir, Syam, Bashrah, Kufah, Haramain, dan Irak.Dalam sejarah tercatat beliau pernah melakukan perjalanan ke Haramain, Syam, Mesir, Irak, Khurasan dan negeri lainnya.

Ketekunannya dalam menimba ilmu benar-benar luar biasa. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Ishaq Al-Bunani bahwa Ibnul Mubarak pernah berkisah bahwa ia telah belajar dari sekitar 4.000 guru dan meriwayatkan hadits dari sekitar 1.000 ulama. Bahkan, ketika Al-Abbas bin Mush’ab meneliti lebih jauh guru-guru beliau dalam periwayatan hadits, ditemukan sekitar 800 ahli hadits yang menjadi sumber ilmunya. Di antara guru-guru besar beliau adalah Sulaiman At-Taimi, Ashim Al-Ahwal, Humaid Ath-Thawil, Hisyam bin Urwah, Al-A’masy, Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik, Al-Laits bin Sa’d, dan Imam Abu Hanifah.

kisah Abdullah bin Al-Mubarak

Karena keluasan ilmunya, tidak mengherankan jika murid-murid beliau kemudian menjadi ulama besar yang disegani. Di antara murid senior beliau adalah Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, Hibban bin Musa, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Utsman bin Abi Syaibah, Ahmad bin Mani’, Ahmad bin Jamil, Al-Husain Al-Maruzi, dan Hasan bin Arafah, selain masih banyak ulama besar lainnya yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

Pujian Para Ulama

Kedudukan keilmuan dan keutamaan akhlak Abdullah bin Al-Mubarak diakui oleh para ulama sezamannya maupun generasi setelahnya. Ibnu Mahdi rahimahullah menyebutkan bahwa pemimpin agama pada masanya ada empat, yaitu Malik, Ats-Tsauri, Hammad bin Zaid, dan Ibnul Mubarak, bahkan Ibnu Mahdi memuliakan Ibnul Mubarak melebihi Ats-Tsauri. Imam Ahmad bin Hambal juga memberikan pujian tinggi, menyatakan belum ada orang sezamannya yang lebih rajin dalam menuntut ilmu melebihi Ibnul Mubarak.

Sementara itu, murid-murid beliau pernah berkumpul untuk mengenang keutamaan gurunya. Hasan bin Isa bin Masirjis menuturkan bahwa dalam diri Ibnul Mubarak terkumpul ilmu, fikih, adab, nahwu, bahasa, sifat zuhud, keberanian, syair, kefasihan berbicara, kebiasaan rajin bertahajud, ibadah, haji, perang, kepiawaian menunggang kuda, sifat diam untuk hal yang tidak penting, keadilan, dan jarang berselisih dengan orang di sekitarnya. Adapun Ibnu Ma’in menyebut beliau sebagai ulama yang tsiqah (terpercaya) dan kuat hafalannya, dengan karya hadits yang memuat sekitar 20.000 hadits.

Imam Adz-Dzahabi, ulama besar ahli sejarah dan hadits, turut menuliskan kekagumannya. Beliau menyatakan mencintai Ibnul Mubarak karena Allah dan berharap kebaikan darinya, sebab Allah telah menganugerahkan kepadanya ketakwaan, kerajinan beribadah, keikhlasan, semangat jihad, ilmu yang luas, serta ketelitian dalam ilmu.

Zuhud, Kedermawanan, dan Perniagaan

Salah satu aspek yang membedakan Ibnul Mubarak dari zahid-zahid lain adalah caranya memadukan zuhud dengan dunia perniagaan. Beliau adalah seorang saudagar kaya yang aktif berdagang, namun hartanya tidak pernah membuatnya lalai dari akhirat. Justru sebaliknya, kekayaannya menjadi sarana untuk bersedekah dalam jumlah besar. Disebutkan bahwa setiap tahunnya beliau menginfakkan sekitar 100.000 dirham kepada fakir miskin, sebuah angka yang sangat besar pada masanya.

Semangat berbagi ini mencerminkan pemahaman mendalam Ibnul Mubarak terhadap hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan sedekah dan menafkahkan harta di jalan Allah. Beliau memahami bahwa perniagaan yang halal dan diiringi kedermawanan bukanlah penghalang bagi kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya, melainkan justru dapat menjadi ladang pahala yang luas jika diniatkan dengan benar dan ditunaikan zakat serta sedekahnya.

Keberanian dalam Jihad

Selain dikenal sebagai ulama dan saudagar, Abdullah bin Al-Mubarak juga masyhur sebagai seorang mujahid. Beliau kerap bolak-balik antara aktivitas menuntut ilmu, berdagang, menunaikan haji, dan berjihad fi sabilillah. Semangat jihadnya begitu tinggi sehingga banyak riwayat yang menceritakan keteguhan hatinya menghadapi musuh-musuh Islam di medan perang, khususnya dalam peperangan melawan pasukan Romawi di wilayah perbatasan.

Puncak dari kehidupan penuh berkah ini terjadi ketika beliau wafat justru dalam perjalanan pulang dari medan jihad. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat sejarah, Ibnul Mubarak wafat di kota Hit, sebuah kota kecil di tepi Sungai Eufrat, Irak, saat kembali dari perang melawan Romawi, pada bulan Ramadan tahun 181 Hijriah, dalam usia 63 tahun Wafat dalam kondisi demikian dipandang oleh banyak ulama sebagai tanda husnul khatimah bagi seorang hamba yang telah menghabiskan usianya untuk ilmu, ibadah, harta, dan jiwa di jalan Allah.

Karya Tulis yang Ditinggalkan

Warisan keilmuan Abdullah bin Al-Mubarak tidak berhenti pada masa hidupnya saja. Beliau meninggalkan berbagai karya tulis yang menjadi rujukan generasi setelahnya, di antaranya adalah kitab Tafsir Al-Qur’an serta beberapa kitab lain seputar zuhud, jihad, dan adab yang hingga kini masih dikaji di berbagai lembaga pendidikan Islam. Karya-karya ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu yang dibangun di atas keikhlasan akan terus memberi manfaat meski penulisnya telah lama tiada.

Teladan yang Relevan Sepanjang Zaman

Kisah hidup Abdullah bin Al-Mubarak mengajarkan bahwa seorang muslim tidak harus memilih antara dunia dan akhirat secara ekstrem. Beliau membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi ulama besar, pedagang sukses, dermawan yang murah hati, sekaligus pejuang di jalan Allah dalam waktu yang bersamaan. Kuncinya terletak pada niat yang lurus dan pengelolaan waktu serta harta yang penuh perhitungan akhirat.

Bagi umat Islam masa kini, teladan Ibnul Mubarak dapat menjadi inspirasi bahwa kesuksesan duniawi—baik dalam berdagang, bekerja, maupun berkarya—semestinya diarahkan untuk kemaslahatan umat, termasuk dalam hal memakmurkan rumah-rumah Allah. Salah satu bentuk kontribusi nyata yang bisa dilakukan setiap muslim adalah turut serta memenuhi kebutuhan sarana ibadah di masjid, misalnya dengan menyediakan karpet yang nyaman untuk shalat berjamaah. Bagi pengurus masjid atau donatur yang ingin jual karpet masjid demi kenyamanan jamaah, penting untuk memilih bahan yang berkualitas dan tahan lama. Sementara itu, bagi yang sedang mencari informasi seputar harga karpet masjid, disarankan untuk membandingkan beberapa penyedia agar mendapatkan kualitas terbaik sesuai anggaran, sehingga masjid dapat menjadi tempat ibadah yang nyaman sebagaimana semangat kedermawanan yang dicontohkan oleh Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Call Now Button