Dalam lembaran sejarah Islam, generasi Tabi’in (generasi setelah para Sahabat Nabi) dikenal sebagai generasi emas yang mewarisi ilmu, adab, dan ketakwaan secara langsung dari para Sahabat Rasulullah ﷺ. Di antara deretan ulama besar Tabi’in, ada satu nama yang bersinar terang berkat kedalaman ilmunya, ketegasan sikapnya di hadapan penguasa, dan kezuhudannya yang luar biasa. Beliau adalah Thawus bin Kaisan rahimahullah.
Kisah Thawus bin Kaisan bukan sekadar biografi sejarah, melainkan teladan hidup tentang bagaimana seorang ulama memposisikan dirinya di dunia—tidak tergiur oleh harta, tidak tunduk pada kekuasaan selain Allah, dan mengabdikan seluruh napasnya untuk ilmu dan ibadah.
Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup, keteladanan, serta kisah keberanian Thawus bin Kaisan yang tercatat abadi dalam literatur Islam yang tepercaya.
Siapakah Thawus bin Kaisan?

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdurrahman Thawus bin Kaisan al-Yamani. Secara etimologi, kata “Thawus” berarti burung merak. Beliau dijuluki demikian karena keindahannya dalam membaca Al-Qur’an dan kedudukan ilmunya yang menonjol di antara para ulama di zamannya, sehingga beliau sering disebut sebagai Thawus al-Qurra (Burung Meraknya para Ahli Al-Qur’an).
Thawus lahir pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu atau di akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau berasal dari Yaman dan memiliki darah keturunan Persia dari kelompok Al-Abna’ (keturunan tentara Persia yang menetap di Yaman lalu memeluk Islam).
Beliau tumbuh di lingkungan yang dipenuhi oleh para ulama dan sahabat Nabi, yang membentuk karakter dan kapasitas keilmuannya menjadi sangat mumpuni.
Perjalanan Ilmu: Berguru pada 50 Sahabat Nabi
Sebagai seorang yang haus akan ilmu, kisah Thawus bin Kaisan dalam menuntut ilmu sangatlah menginspirasi. Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala mencatat bahwa Thawus sempat bertemu dan berguru langsung kepada sekitar 50 Sahabat Nabi ﷺ.
Beberapa guru utama beliau di antaranya adalah:
- Aisyah radhiyallahu ‘anha
- Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
- Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma
Namun, guru yang paling berpengaruh dalam hidup beliau adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma (Ibnu Abbas), sepupu Rasulullah ﷺ sekaligus ulama pakar tafsir di kalangan sahabat. Thawus bermulazamah (menyertai dengan intens) kepada Ibnu Abbas dalam waktu yang sangat lama.
Kehebatan Thawus diakui langsung oleh gurunya. Ibnu Abbas pernah memuji muridnya tersebut dengan perkataan yang sangat masyhur:
“Aku sungguh berharap Thawus termasuk ke dalam golongan penghuni surga.”
Bahkan, Qais bin Sa’ad pernah berkata, “Thawus bin Kaisan di tengah-tengah kami (para ulama Tabi’in) kedudukannya sama seperti Ibnu Sirin di Bashrah.” Hal ini menunjukkan betapa tingginya otoritas keilmuan Thawus dalam bidang hadits, fiqih, dan tafsir.
Kisah Ketegasan Thawus bin Kaisan di Hadapan Penguasa
Salah satu aspek yang paling menonjol dari kisah Thawus bin Kaisan adalah ketidakpeduliannya terhadap gemerlap dunia dan ketegasannya di hadapan para khalifah atau pejabat negara. Beliau adalah representasi ulama yang independen, yang ilmunya tidak bisa dibeli.
Kisah yang paling masyhur adalah pertemuannya dengan Khalifah Bani Umayyah, Hisham bin Abdul Malik, ketika sang Khalifah sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah. Kisah ini diriwayatkan dalam banyak kitab Tarikh (sejarah) dan Tabaqat.
Diceritakan bahwa saat Hisham berada di Makkah, ia meminta pengawalnya untuk mendatangkan seorang ulama yang pernah bertemu dengan para Sahabat Nabi untuk memberinya nasihat. Pengawal tersebut akhirnya membawa Thawus bin Kaisan.
Saat memasuki ruangan Khalifah, Thawus melakukan tindakan yang di luar kebiasaan protokoler kerajaan pada masa itu:
- Beliau tidak melepaskan sandalnya sampai berada di dekat permadani Khalifah.
- Beliau tidak menyapa Hisham dengan gelar Amirul Mukminin (Pemimpin Pemimpin Umat Islam), melainkan sekadar salam Islami biasa.
- Beliau memanggil nama Khalifah secara langsung tanpa basa-basi: “Bagaimana kabarmu wahai Hisham?”
- Beliau langsung duduk di sebelah Khalifah tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Melihat perlakuan tersebut, Hisham bin Abdul Malik sangat marah hingga wajahnya memerah. Ia membentak Thawus, “Wahai Thawus, apa yang mendorongmu melakukan kelancangan ini kepadaku?!”
Dengan tenang dan penuh kewibawaan, Thawus menjawab pertanyaan tersebut satu per satu:
- “Adapun soal aku tidak melepas sandal, aku melakukannya setiap hari lima kali di hadapan Tuhanku (saat shalat), dan Dia tidak pernah marah kepadaku.”
- “Adapun aku tidak memanggilmu Amirul Mukminin, karena faktanya tidak semua kaum muslimin ridha dengan kepemimpinanmu. Aku takut berbohong jika menyebutmu pemimpin ‘semua’ orang beriman.”
- “Aku memanggil namamu langsung, karena Allah saja memanggil nama para nabi-Nya dan kekasih-Nya secara langsung dalam Al-Qur’an seperti ‘Wahai Yahya’, ‘Wahai Musa’, namun Allah memanggil musuh-Nya dengan julukan seperti Abu Lahab.”
- “Dan aku langsung duduk, karena aku pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkata: ‘Jika engkau ingin melihat calon penghuni neraka, maka lihatlah seorang laki-laki yang duduk sementara orang-orang di sekelilingnya berdiri (untuk menghormatinya)’.”
Mendengar ketegasan argumen yang berlandaskan syariat tersebut, Hisham seketika terdiam, menundukkan kepala, dan menyadari kelemahannya. Hisham kemudian berkata, “Nasihatilah aku wahai Thawus!” Thawus pun memberikan nasihat yang tajam tentang keadilan dan azab Allah bagi pemimpin yang zalim, hingga membuat Hisham menangis.
Sifat Zuhud dan Ibadah yang Luar Biasa
Selain tegas, Thawus bin Kaisan dikenal sebagai ahli ibadah (Abid) sejati. Kesibukannya menuntut dan menyebarkan ilmu tidak membuatnya melalaikan ibadah ritual.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Thawus telah menunaikan ibadah haji sebanyak 40 kali. Setiap kali berada di Makkah, beliau menghabiskan malam-malamnya di Masjidil Haram. Beliau sangat jarang tidur di atas ranjang yang empuk. Jika malam tiba, beliau sering membentangkan sajadahnya, lalu ketika rasa kantuk datang, beliau terbangun dan berkata pada dirinya sendiri:
“Mengingat panasnya api neraka Jahanam akan menghilangkan tidur dari mata orang yang ahli ibadah.”
Beliau menolak keras hadiah-hadiah dari para pejabat negara (umara). Baginya, menerima hadiah dari penguasa bisa menjadi pintu gerbang hilangnya objektivitas dan keikhlasan dalam menyampaikan kebenaran agama. Ketika seorang gubernur mengirimkan sekantung dinar emas ke rumahnya, Thawus mengembalikannya utuh tanpa disentuh sedikit pun.
Akhir Hayat Sang Ulama di Tanah Suci
Thawus bin Kaisan mengabdikan seluruh usianya untuk beribadah dan mengajarkan Islam. Doa beliau untuk wafat di tanah suci akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.
Beliau wafat di Kota Makkah pada malam hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) atau sehari sebelum wukuf di Arafah, bertepatan dengan tahun 106 Hijriah (ada pula ulama yang berpendapat 105 H). Usia beliau saat wafat diperkirakan lebih dari 90 tahun.
Meninggalnya Thawus bertepatan dengan musim Haji di mana jutaan umat Islam sedang berkumpul. Jenazah beliau dishalati oleh lautan manusia. Begitu besarnya kerumunan orang yang ingin menshalati dan mengantar jenazahnya, hingga Khalifah Hisham bin Abdul Malik—yang kebetulan sedang menunaikan haji di tahun tersebut—harus memerintahkan aparat keamanannya untuk membuka jalan agar keranda jenazah Thawus bisa dibawa ke pemakaman.
Ini adalah bukti nyata bagaimana Allah memuliakan orang yang tulus dalam beragama, baik ketika hidup maupun ketika wafat.
Pelajaran (Ibrah) dari Kisah Thawus bin Kaisan
Bagi umat Islam modern, menelaah biografi Thawus bin Kaisan bukan sekadar membaca romantika sejarah, tetapi mengambil mutiara hikmah yang bisa diterapkan, di antaranya:
- Kemuliaan Diraih dengan Ilmu dan Adab: Thawus membuktikan bahwa kedudukan seseorang tidak diukur dari keturunan atau harta, melainkan dari kedalaman ilmu agama dan ketakwaannya.
- Ulama Harus Independen: Sikapnya yang menjauhi pintu-pintu penguasa memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga muruah (kehormatan) agama agar tidak dijadikan alat untuk kepentingan politik praktis.
- Berani Mengatakan Kebenaran: Keberanian Thawus menegur khalifah adalah implementasi dari hadits Nabi bahwa “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
- Keseimbangan Ilmu dan Amal: Thawus tidak hanya pandai berbicara soal hadits dan fiqih, tetapi beliau sendiri adalah praktisi ibadah malam dan puasa yang luar biasa. Ilmu yang dimilikinya membuahkan amal nyata.
Kesimpulan
Kisah Thawus bin Kaisan adalah monumen sejarah yang mengingatkan kita tentang profil ulama Rabbani. Dedikasinya dalam menjaga autentisitas keilmuan Islam, kezuhudannya terhadap dunia, serta keberaniannya, menjadikan nama Thawus bin Kaisan al-Yamani harum melintasi zaman. Semoga kita dapat meneladani akhlak mulia beliau dan menjadikannya inspirasi dalam mengarungi kehidupan di era modern ini. Wallahu a’lam bish-shawab.
Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
