Dalam lembaran sejarah Islam, ilmu tafsir Al-Qur’an menempati posisi yang sangat agung. Memahami firman Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah tugas yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tongkat estafet pemahaman Al-Qur’an diteruskan oleh para Sahabat, dan kemudian diwariskan kepada generasi Tabi’in. Di antara deretan bintang gemerlap ulama Tabi’in, ada satu nama yang sangat masyhur ketika kita berbicara tentang tafsir. Beliau adalah Mujahid bin Jabir.
Artikel ini akan mengupas tuntas kisah Mujahid bin Jabir, biografi singkatnya, dedikasinya dalam menuntut ilmu, hingga bagaimana ia diakui sebagai salah satu rujukan utama dalam ilmu tafsir oleh para ulama ahli hadits di seluruh dunia Islam.
Siapakah Mujahid bin Jabir? (Biografi Singkat)

Nama lengkap beliau adalah Abu Al-Hajjaj Mujahid bin Jabir Al-Makki. Beliau lahir pada tahun 21 Hijriyah, bertepatan dengan masa kekhalifahan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Secara nasab, Mujahid adalah seorang Maula (mantan budak yang telah dimerdekakan) dari kabilah Bani Makhzum, salah satu kabilah paling berpengaruh di Quraisy.
Dalam tradisi Islam, status sosial atau nasab bukanlah penentu kemuliaan seseorang, melainkan ketakwaan dan ilmunya. Hal ini dibuktikan oleh Mujahid. Meski berstatus sebagai Maula, beliau berhasil mengangkat derajatnya hingga menjadi Imam besar di Masjidil Haram, Makkah, tempat di mana ribuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang untuk menuntut ilmu.
Prinsip Emas dalam Menuntut Ilmu: Menjauhi Rasa Malu dan Sombong
Kisah Mujahid bin Jabir dalam menuntut ilmu sangat inspiratif dan patut dijadikan teladan bagi para penuntut ilmu masa kini. Beliau dikenal memiliki semangat pantang menyerah, tidak mudah puas dengan sedikit ilmu, dan selalu kritis dalam memahami setiap ayat Al-Qur’an.
Salah satu petuah emas yang paling terkenal dari Mujahid bin Jabir dan sering dikutip oleh para ulama adalah perkataannya mengenai penghalang ilmu. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Al-Ilmu) mengutip perkataan Mujahid Rahimahullah:
“Dua orang yang tidak akan pernah mendapatkan ilmu: Orang yang pemalu dan orang yang sombong.”
Prinsip ini yang membawa Mujahid berkelana dan bertanya tentang banyak hal. Beliau tidak malu untuk bertanya jika tidak paham, dan tidak pernah sombong merasa diri sudah cukup ilmu meski telah menghafal Al-Qur’an dan banyak hadits.
Menjadi Murid Emas Abdullah bin Abbas
Jika berbicara tentang biografi Mujahid bin Jabir, kita tidak bisa melepaskan nama besar gurunya, yakni Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Abbas adalah sepupu Rasulullah yang didoakan langsung oleh Nabi agar menjadi orang yang faqih dalam agama dan ahli dalam takwil (tafsir).
Mujahid menyadari betapa berharganya lautan ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Abbas. Oleh karena itu, ia mendampingi Ibnu Abbas layaknya bayangan. Dedikasi Mujahid dalam mempelajari tafsir terekam dalam sebuah atsar (riwayat) yang sangat masyhur dan shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafsir-nya, Mujahid berkata:
“Aku menyetorkan (membaca) Al-Qur’an kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga kali, mulai dari surat Al-Fatihah hingga an-Naas. Aku menghentikannya pada setiap ayat, dan aku bertanya kepadanya tentang ayat tersebut (kapan turunnya dan apa maknanya).”
Bayangkan tingkat ketelitian beliau! Membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir, berhenti di setiap ayat, lalu bertanya tentang Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat), hukum-hukum di dalamnya, serta makna bahasanya. Hal ini dilakukan bukan hanya sekali, melainkan tiga kali khataman penuh. Inilah yang membuat Mujahid mewarisi ilmu tafsir Ibnu Abbas secara utuh dan menjadikannya pakar tafsir terkemuka di zamannya.
Pengakuan Para Ulama Terhadap Tafsir Mujahid
Keunggulan ulama tafsir Mujahid bin Jabir diakui oleh para ulama lintas generasi. Metodologi tafsirnya yang bersandar pada riwayat shahih dari para sahabat, pemahaman bahasa Arab yang mendalam, serta ketekunannya, membuat karya dan pendapatnya menjadi rujukan otoritatif.
- Pengakuan Sufyan Ats-Tsauri: Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar ahli hadits, memberikan pujian setinggi langit dengan mengatakan, “Jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah itu bagimu.”
- Kepercayaan Imam Al-Bukhari: Dalam penyusunan kitab Shahih Al-Bukhari, khususnya pada bagian Kitab At-Tafsir, Imam Al-Bukhari tercatat paling banyak mengutip riwayat tafsir dari Mujahid dibandingkan dengan ulama Tabi’in lainnya.
- Kesaksian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Dalam kitabnya Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal sangat bersandar pada tafsir Mujahid. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa Mujahid adalah orang yang paling mengerti tentang tafsir di kalangan Tabi’in.
Kepakaran di Bidang Hadits dan Qira’at
Selain menjadi rujukan utama dalam ilmu tafsir, Mujahid bin Jabir juga merupakan seorang pakar dalam ilmu Qira’at (bacaan Al-Qur’an) dan Hadits. Beliau menerima riwayat hadits dari para sahabat senior seperti Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Aisyah, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhum.
Di bidang Qira’at, Mujahid belajar langsung dari Ibnu Abbas dan Abu Amr bin Al-Ala’. Kemampuannya yang luar biasa membuat beliau menjadi guru bagi ahli qira’at terkenal asal Makkah, yakni Ibnu Katsir Al-Makki (salah satu dari Imam Qira’at Sab’ah/Tujuh).
Beliau juga sangat gemar melakukan perjalanan Rihlah fi Thalab Al-Ilm (perjalanan menuntut ilmu). Beliau pernah bepergian ke Kufah, Mesir, dan Syam hanya untuk mencari hadits dan memastikan kebenaran sebuah riwayat, membuktikan komitmen mutlaknya terhadap keotentikan agama Islam.
Akhir Hayat yang Indah: Wafat dalam Keadaan Sujud
Kezuhudan dan ketakwaan Mujahid sejalan dengan luasnya ilmu yang ia miliki. Ilmu tersebut tidak hanya menjadi teori di kepalanya, melainkan teraplikasi dalam amal ibadahnya sehari-hari.
Setelah menghabiskan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an—mempelajarinya, mengajarkannya, menafsirkannya, dan mengamalkannya—Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan akhir yang sangat indah (Husnul Khatimah) kepada sang mahaguru ini.
Sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab Tarikh (sejarah) dan biografi, seperti Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi, Mujahid bin Jabir wafat pada tahun 104 Hijriyah (pendapat lain menyebutkan 102 atau 103 H) pada usia sekitar 83 tahun. Diriwayatkan bahwa beliau menghembuskan napas terakhirnya tepat ketika sedang melakukan sujud kepada Allah Azza wa Jalla. Sungguh sebuah kematian yang diidam-idamkan oleh setiap mukmin, wafat dalam keadaan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Pencipta.
Kesimpulan dan Pelajaran Berharga
Mempelajari kisah Mujahid bin Jabir memberikan banyak ibrah (pelajaran) bagi kita semua, khususnya umat muslim di era modern ini. Beberapa poin penting yang bisa kita petik dari biografi beliau antara lain:
- Kemuliaan Diraih dengan Ilmu dan Takwa: Status sosial atau latar belakang keluarga tidak menghalangi seseorang untuk menjadi mulia di sisi Allah dan dihormati oleh manusia, selama ia memiliki ketakwaan dan ilmu agama.
- Adab Menuntut Ilmu: Jauhilah sifat sombong yang membuat kita merasa pintar, dan singkirkan rasa malu yang menghalangi kita untuk bertanya tentang hal yang tidak kita pahami.
- Kesabaran dan Ketelitian: Menemui Ibnu Abbas dan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan bertanya pada setiap ayatnya adalah bukti nyata bahwa ilmu yang mendalam hanya bisa diraih dengan proses panjang yang penuh kesabaran, bukan secara instan.
- Akhir Hidup Bergantung pada Kebiasaan: Mujahid menghabiskan hidupnya untuk taat dan mengabdi pada Al-Qur’an, dan Allah mewafatkannya dalam keadaan ibadah (sujud).
Karya dan peninggalan tafsir Mujahid bin Jabir hingga detik ini masih dikaji di berbagai universitas Islam, pesantren, dan majelis ilmu di seluruh penjuru dunia. Beliau adalah bukti nyata dari janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Semoga Allah merahmati Imam Mujahid bin Jabir dengan rahmat yang seluas-luasnya.
Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
