Kisah Said bin Jubair: Keteguhan Ulama Tabi’in di Hadapan Penguasa Zalim

Sejarah Islam mencatat banyak nama besar yang tidak hanya gemilang karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena keteguhan imannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa. Salah satu kisah paling epik dan menggetarkan hati adalah kisah Said bin Jubair rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in, yang berhadapan langsung dengan penguasa paling ditakuti pada masanya, Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

Sebagai seorang penulis dan pembelajar sejarah Islam, menelusuri jejak hidup Said bin Jubair memberikan kita pelajaran berharga tentang integritas, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kekuatan doa orang yang terzalimi. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup, keilmuan, hingga akhir hayat beliau yang penuh hikmah, merujuk pada sumber-sumber sejarah dan hadits yang terpercaya.

Kisah Said bin Jubair: Keteguhan Ulama Tabi’in di Hadapan Penguasa Zalim

Kisah Said bin Jubair

Sejarah Islam mencatat banyak nama besar yang tidak hanya gemilang karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena keteguhan imannya dalam menghadapi ujian yang luar biasa. Salah satu kisah paling epik dan menggetarkan hati adalah kisah Said bin Jubair rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in, yang berhadapan langsung dengan penguasa paling ditakuti pada masanya, Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

Sebagai seorang penulis dan pembelajar sejarah Islam, menelusuri jejak hidup Said bin Jubair memberikan kita pelajaran berharga tentang integritas, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kekuatan doa orang yang terzalimi. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup, keilmuan, hingga akhir hayat beliau yang penuh hikmah, merujuk pada sumber-sumber sejarah dan hadits yang terpercaya.

Siapakah Said bin Jubair?

Nama lengkap beliau adalah Said bin Jubair bin Hisyam Al-Asadi. Beliau dilahirkan pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Secara nasab, beliau adalah seorang mawla (bekas budak yang dimerdekakan) dari Bani Walibah, bagian dari kabilah Bani Asad. Meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana dan memiliki kulit hitam pekat karena keturunan Habasyah (Ethiopia), hal tersebut sama sekali tidak menghalanginya untuk mencapai puncak kemuliaan melalui ilmu agama.

Said bin Jubair tumbuh di Kufah, salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam saat itu. Beliau mendedikasikan seluruh masa mudanya untuk menuntut ilmu dari para Sahabat Nabi ﷺ yang masih hidup. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, dishahihkan oleh Al-Albani).

Hadits ini sangat merepresentasikan sosok Said bin Jubair yang mengambil “warisan” tersebut secara maksimal.

Keluasan Ilmu dan Kedekatannya dengan Abdullah bin Abbas

Di antara sekian banyak guru, guru utamanya adalah pakar tafsir umat ini, yaitu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Said bin Jubair menyerap ilmu tafsir, fikih, dan hadits dengan sangat tekun. Kecerdasannya membuat Ibnu Abbas sangat menghargainya.

Imam Adh-Dhahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala menceritakan bahwa penduduk Kufah sering datang ke Makkah untuk bertanya kepada Ibnu Abbas tentang urusan agama. Ibnu Abbas sering kali menjawab dengan nada heran yang menunjukkan penghormatannya kepada muridnya tersebut: “Mengapa kalian bertanya kepadaku, padahal di tengah-tengah kalian ada Said bin Jubair?”

Kesaksian dari sahabat sekelas Ibnu Abbas ini menjadi bukti nyata kapasitas keilmuan Said. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ilmuwan yang hafal Al-Qur’an dan ribuan hadits, tetapi juga seorang ahli ibadah (abid). Diriwayatkan bahwa beliau sering kali mengkhatamkan Al-Qur’an dalam dua rakaat shalatnya di dalam Ka’bah.

Badai Ujian: Masa Kekuasaan Al-Hajjaj bin Yusuf

Kisah Said bin Jubair mencapai titik paling dramatis pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, tepatnya ketika wilayah Irak dipimpin oleh gubernur yang terkenal sangat kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Al-Hajjaj dikenal sebagai sosok tangan besi yang tidak segan-segan membunuh siapa saja yang menentang kebijakannya, termasuk dari kalangan ulama dan sahabat.

Pada masa itu, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Muhammad bin Al-Ash’ath melawan kezaliman Al-Hajjaj. Banyak ulama dan qurra (ahli Al-Qur’an), termasuk Said bin Jubair, bergabung dalam barisan Ibnu Al-Ash’ath dengan niat amar ma’ruf nahi mungkar (menegakkan kebenaran dan mencegah keburukan).

Sayangnya, pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh militer Al-Hajjaj. Said bin Jubair terpaksa melarikan diri dan hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun di Makkah. Namun, pada akhirnya, beliau ditangkap oleh gubernur Makkah saat itu, Khalid bin Abdullah Al-Qasri, dan dikirim kembali ke Irak untuk dihadapkan kepada Al-Hajjaj.

Dialog Terakhir yang Menggetarkan Sejarah

Pertemuan antara Said bin Jubair dengan Al-Hajjaj bin Yusuf dicatat oleh Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah sebagai salah satu dialog paling heroik dalam sejarah Islam. Dialog ini menunjukkan ketenangan seorang mukmin sejati di hadapan pedang sang algojo.

Ketika Said dihadapkan, Al-Hajjaj yang sombong memulai introgasinya:

  • Al-Hajjaj: “Siapa namamu?”
  • Said: “Said bin Jubair (Orang yang bahagia anak dari orang yang menambal/memperbaiki).”
  • Al-Hajjaj: “Bukan, namamu adalah Syaqi bin Kusair (Orang yang celaka anak dari orang yang menghancurkan).”
  • Said: “Ibuku lebih tahu siapa namaku saat ia memberiku nama.”
  • Al-Hajjaj: “Celaka engkau, dan celaka ibumu!”
  • Said: “Yang mengetahui perkara gaib bukanlah engkau.”

Melihat ketenangan Said, Al-Hajjaj mencoba mengintimidasinya dengan menawarkan harta dan menakut-nakutinya dengan berbagai ancaman kematian. Namun, Said bin Jubair tidak bergeming sedikit pun. Kemarahan Al-Hajjaj pun memuncak.

Al-Hajjaj memerintahkan algojonya untuk menyiapkan pedang dan alas kulit (tempat eksekusi). Menjelang kematiannya, Said bin Jubair tertawa kecil. Hajjaj yang keheranan bertanya mengapa ia tertawa. Said menjawab, “Aku menertawakan kelancanganmu terhadap Allah, dan kelembutan Allah terhadapmu.”

Saat Said dihadapkan ke arah kiblat untuk dipenggal, beliau membaca firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 79:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Hajjaj berteriak, “Palingkan wajahnya dari kiblat!” Said merespons dengan membacakan Surah Al-Baqarah ayat 115:

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.”

Hajjaj kembali membentak, “Telungkupkan wajahnya ke tanah!” Said dengan tenang membacakan Surah Thaha ayat 55:

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”

Akhir Hayat dan Doa Mustajab Sang Ulama

Merasa kalah telak dalam argumentasi dan keteguhan iman, Al-Hajjaj memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala Said bin Jubair. Tepat sebelum pedang menebas lehernya, Said bin Jubair memanjatkan satu doa terakhir yang sangat menakutkan bagi Hajjaj. Beliau berdoa:

“Ya Allah, janganlah Engkau kuasakan ia (Hajjaj) untuk menguasai (membunuh) seorang pun setelahku.”

Said bin Jubair syahid di usia 49 tahun, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 95 Hijriah.

Sejarah mencatat kebenaran dari janji Rasulullah ﷺ tentang doa orang yang terzalimi. Dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ berpesan kepada Muadz bin Jabal:

“Dan takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19).

Doa Said bin Jubair menembus langit dan langsung diijabah oleh Allah ﷻ. Tidak lama setelah mengeksekusi Said, Al-Hajjaj bin Yusuf diserang penyakit aneh yang membuatnya tidak bisa tidur, meracau, dan merasakan panas dingin yang luar biasa. Setiap kali ia tertidur sesaat, ia terbangun dengan ketakutan sambil berteriak, “Apa urusanku dengan Said bin Jubair?! Setiap kali aku ingin tidur, ia datang mencekik leherku!”

Al-Hajjaj mati dalam kondisi mengenaskan tidak sampai satu bulan (ada riwayat menyebutkan 15 hari) setelah syahidnya Said bin Jubair. Ia tidak pernah lagi mampu membunuh siapa pun setelah kejadian tersebut, persis seperti doa sang ulama.

Hikmah dan Pelajaran Berharga

Membaca kisah Said bin Jubair bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan menimba air kehidupan untuk memperkuat akidah di masa kini. Beberapa pelajaran (hikmah) utama yang bisa kita ambil antara lain:

  1. Kemuliaan Datang dari Ilmu dan Takwa: Latar belakang etnis, keturunan, maupun status sosial (mantan budak) tidak menghalangi seseorang untuk mencapai derajat tertinggi di sisi Allah dan dihormati oleh umat Islam. Ilmu dan ketakwaanlah yang mengangkat derajat Said bin Jubair.
  2. Keberanian Menyuarakan Kebenaran: Said bin Jubair mencontohkan keberanian seorang mukmin yang hanya takut kepada Allah. Ancaman pedang dan kekuasaan tidak mampu membungkam kebenaran yang ada di dalam dadanya.
  3. Kekuatan Doa Orang Terzalimi: Kisah ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang memiliki kekuasaan agar tidak bertindak zalim. Doa orang yang teraniaya sangatlah tajam, mustajab, dan tidak memiliki hijab (penghalang) di hadapan Allah.
  4. Kematian yang Indah (Husnul Khatimah): Ketenangan Said bin Jubair dengan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an di detik-detik kematiannya adalah bukti kecintaannya yang mendalam terhadap firman Allah dan keyakinannya yang kuat akan janji surga.

Kisah Said bin Jubair akan terus abadi sebagai lentera inspirasi bagi umat Islam. Beliau adalah potret nyata bagaimana seorang hamba Allah menukarkan kefanaan dunia demi meraih rida Penciptanya, meninggalkan warisan keteguhan tauhid yang tidak akan lekang oleh waktu. Rahimahullah rahmatan wasi’ah – Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang seluas-luasnya.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button