Kisah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud: Biografi Lengkap Sang Fuqaha Sab’ah Madinah

Dalam catatan gemilang sejarah Islam, fase Tabiin adalah masa keemasan di mana ilmu agama dijaga dan diwariskan dengan penuh ketelitian dari para Sahabat Nabi ﷺ. Di antara ribuan ulama pada masa itu, Kota Madinah memiliki tujuh tokoh utama yang menjadi pilar fatwa dan syariat, yang dikenal dengan julukan Fuqaha Sab’ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah). Salah satu pilar penting dari ketujuh ulama tersebut adalah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud rahimahullah.

Sebagai seorang penulis konten Muslim, menyajikan biografi tokoh agung ini bukan sekadar merangkai sejarah, melainkan menggali keteladanan dari sosok yang diakui keluasan ilmunya oleh para khalifah dan ulama hadits. Artikel ini akan mengupas tuntas kisah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, perjalanan menuntut ilmu, kontribusinya dalam periwayatan hadits shahih, hingga pengaruh besarnya terhadap peradaban Islam.

Nasab dan Latar Belakang: Pewaris Keilmuan Sahabat Nabi

Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud

Nama lengkap beliau adalah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud Al-Hudzali. Dari nasabnya, kita bisa langsung melihat bahwa beliau berasal dari keluarga yang sangat dekat dengan sumber wahyu. Kakek beliau, Utbah bin Mas’ud, adalah saudara kandung dari salah satu sahabat besar Nabi yang paling pakar dalam ilmu Al-Qur’an, yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Lahir dan tumbuh di Kota Madinah (Madinatur Rasul), Ubaidillah hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan aroma keilmuan. Saat itu, Madinah masih dihuni oleh istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) dan para pembesar Sahabat. Tumbuh dalam keluarga Bani Hudzail yang terhormat dan memiliki tradisi keislaman yang kuat, Ubaidillah kecil telah dikondisikan untuk menjadi seorang pembelajar yang haus akan ilmu agama, khususnya Al-Qur’an, Fikih, dan Hadits.

Rihlah Ilmiah: Berguru Kepada Para Pembesar Sahabat

Kecerdasan Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud sudah terlihat sejak usia belia. Beliau memanfaatkan keberadaannya di Madinah untuk meneguk ilmu langsung dari sumber-sumber paling murni.

Dalam berbagai kitab Rijalul Hadits (biografi perawi hadits), disebutkan bahwa Ubaidillah menimba ilmu dan meriwayatkan hadits dari banyak Sahabat terkemuka, di antaranya:

  • Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha
  • Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) radhiyallahu ‘anhuma
  • Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  • Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
  • Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu
  • Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha

Keberhasilannya menyerap ilmu dari Ibnu Abbas (pakar tafsir) dan Aisyah (pakar fikih dan hadits) menjadikan Ubaidillah memiliki pemahaman syariat yang sangat komprehensif. Kombinasi ilmu dari para guru agung ini membentuknya menjadi seorang ulama yang moderat, teliti, dan tajam dalam ber-istinbath (menggali hukum).

Kedudukan dalam Periwayatan Hadits Shahih

Dalam dunia ilmu hadits, Ubaidillah bin Abdullah adalah sosok perawi yang sangat tsiqah (terpercaya). Hadits-hadits yang diriwayatkan melalui jalur beliau tersebar luas dalam Kutub as-Sittah (Enam Kitab Hadits Utama), termasuk di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Salah satu riwayat shahih yang sangat terkenal yang menonjolkan peran Ubaidillah adalah ketika beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang detik-detik sakitnya Rasulullah ﷺ sebelum wafat.

Dalam Shahih Bukhari (Hadits No. 2588) disebutkan riwayat dari az-Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah:

Ubaidillah berkata: Aku masuk menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha lalu bertanya, “Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang sakitnya Rasulullah ﷺ?” Aisyah menjawab, “Tentu…” (Lalu Aisyah menceritakan dengan detail peristiwa di mana Nabi ﷺ meminta dipapah oleh Al-Abbas dan Ali bin Abi Thalib saat sakit).

Selain itu, Ubaidillah juga menjadi salah satu periwayat utama yang menyampaikan hadits dari Ibnu Abbas terkait berbagai fatwa penting. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya memuji Ubaidillah sebagai sosok pemimpin dalam ilmu dan agama.

Peran Sebagai Salah Satu Fuqaha Sab’ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah)

Era Tabiin di Madinah ditandai dengan munculnya dewan fatwa tidak resmi yang menjadi rujukan seluruh umat Islam. Mereka dikenal sebagai Fuqaha Sab’ah atau Tujuh Ahli Fikih Madinah. Mereka adalah:

  1. Sa’id bin Al-Musayyib
  2. Urwah bin Az-Zubair
  3. Al-Qasim bin Muhammad
  4. Kharijah bin Zaid
  5. Abu Bakar bin Abdurrahman
  6. Sulaiman bin Yasar
  7. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud

Sebagai salah satu dari Fuqaha Sab’ah, peran Ubaidillah sangat vital. Beliau bersama enam ulama lainnya adalah fondasi utama dari Mazhab Penduduk Madinah (Amal Ahlil Madinah), yang di kemudian hari dikodifikasi oleh Imam Malik bin Anas. Fatwa-fatwa Ubaidillah sangat dihargai karena selalu bersandar pada dalil yang kuat dan pemahaman bahasa Arab yang mendalam.

Karakteristik Unik: Perpaduan Antara Fikih dan Sastra

Ada satu sisi menarik yang membedakan Ubaidillah bin Abdullah dengan ulama fikih pada umumnya. Selain dikenal sebagai ahli fikih dan hadits yang tegas berpegang pada sunnah, beliau juga merupakan seorang penyair yang ulung.

Dalam kebudayaan Arab, kemampuan bersyair adalah tanda kecerdasan linguistik tingkat tinggi. Syiar-syair Ubaidillah dikenal sangat lembut, sarat makna, dan penuh dengan nilai-nilai hikmah serta zuhud. Kelembutan hatinya ini tercermin dari bagaimana beliau menangis saat membaca ayat-ayat adzab, namun mampu merangkai kata-kata indah yang melembutkan hati para pendengarnya. Kelak, banyak ulama yang menjadikan syair-syair Ubaidillah sebagai rujukan dalam memahami kosakata bahasa Arab (Balaghah) yang sulit di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Di masa tuanya, Allah menguji beliau dengan hilangnya penglihatan (kebutaan). Namun, kebutaan fisik ini tidak sedikitpun mengurangi ketajaman mata batin dan hafalannya. Ia tetap menjadi rujukan umat untuk bernaung meminta fatwa.

Menjadi Guru Bagi Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam Az-Zuhri

Kapasitas keilmuan Ubaidillah tidak hanya dinikmati oleh masyarakat awam, melainkan juga melahirkan tokoh-tokoh besar pengubah sejarah. Dua murid beliau yang paling terkenal adalah:

1. Khalifah Umar bin Abdul Aziz Sebelum menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz pernah menjabat sebagai Gubernur Madinah. Di masa itulah, Umar menjadikan Ubaidillah bin Abdullah sebagai guru utama sekaligus penasihat pribadinya. Umar bin Abdul Aziz memiliki rasa hormat yang luar biasa kepada sang guru. Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

“Duduk bersama Ubaidillah (untuk menuntut ilmu) satu majelis saja, jauh lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.”

Bahkan, corak kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang adil dan berpegang teguh pada syariat sangat dipengaruhi oleh didikan langsung dari Ubaidillah.

2. Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri Imam Az-Zuhri adalah ulama yang kelak ditugaskan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadits secara resmi pertama kali dalam sejarah Islam. Az-Zuhri sangat mengagumi Ubaidillah. Beliau pernah memberikan kesaksian yang masyhur:

“Aku pernah merasa bahwa diriku telah mengumpulkan banyak ilmu. Namun, setelah aku duduk bermujalasah (belajar) dengan Ubaidillah bin Abdullah, aku menyadari bahwa diriku berada di sebuah lembah, sementara ilmu yang hakiki berada di lembah yang lain. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih faqih (paham agama) dibandingkan dia.”

Wafatnya Sang Pelita Madinah

Setelah menghabiskan seluruh hidupnya untuk belajar, mengajar, berfatwa, dan menjaga kemurnian ajaran Islam, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terdapat sedikit perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah mengenai tahun pasti wafatnya. Mayoritas ahli tarikh (sejarah) menyebutkan bahwa beliau wafat pada tahun 98 Hijriah di Madinah (sebagian riwayat lain menyebutkan tahun 94 Hijriah). Kepergian beliau menyisakan duka yang mendalam, terutama bagi murid kesayangannya, Umar bin Abdul Aziz, dan seluruh penduduk Madinah yang kehilangan sosok penyejuk hati dan rujukan fatwa.

Pelajaran (Ibrah) dari Kisah Ubaidillah bin Abdullah

Sebagai umat Muslim di era modern, ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud:

  1. Pentingnya Memilih Guru yang Sanadnya Jelas: Ubaidillah mencapai derajat Fuqaha Sab’ah karena beliau langsung menimba ilmu dari para pembesar Sahabat, memastikan bahwa ilmu agama yang dipelajarinya murni tanpa distorsi.
  2. Keterbatasan Fisik Bukan Halangan Menuntut Ilmu: Meskipun diuji dengan kebutaan di akhir hayatnya, semangatnya untuk terus mengajar dan menyebarkan hadits tidak pernah padam.
  3. Keseimbangan Fikih dan Kelembutan Hati: Menjadi seorang pakar hukum (fikih) yang kritis tidak membuat hatinya kaku. Kemampuannya sebagai penyair menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai keindahan bahasa dan kelembutan jiwa.
  4. Adab Murid Terhadap Guru: Kisah ini mengajarkan kita tentang tingginya adab seorang pemimpin besar (Umar bin Abdul Aziz) yang merendahkan hatinya di hadapan ulama yang berilmu.

Kesimpulan

Kisah Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud adalah salah satu bukti bagaimana Allah Ta’ala menjaga kemurnian agama ini melalui tangan-tangan ulama Tabiin yang ikhlas. Sebagai salah satu dari Tujuh Ahli Fikih Madinah (Fuqaha Sab’ah), peran beliau dalam periwayatan hadits shahih dan pembentukan kerangka fikih Islam sangatlah monumental. Semoga kita dapat meneladani keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan kelembutan hati beliau dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button