Kisah Urwah bin az-Zubair: Teladan Keteguhan Iman, Kesabaran, dan Syukur di Tengah Ujian Berat

Dalam lembaran sejarah Islam, periode Tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi) dipenuhi oleh tokoh-tokoh luar biasa yang mewarisi keilmuan dan ketakwaan langsung dari para murid Rasulullah ﷺ. Salah satu bintang paling terang di era tersebut adalah Urwah bin az-Zubair. Kisah Urwah bin az-Zubair bukan sekadar narasi tentang kehebatan seorang ulama, melainkan sebuah epik tentang kesabaran tingkat tinggi, keteguhan iman, dan rasa syukur yang tidak pernah luntur meski dihempas musibah yang bertubi-tubi.

Sebagai seorang Muslim di era modern, mempelajari kisah inspiratif Islam dari tokoh seperti Urwah bin az-Zubair adalah sebuah keharusan. Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup beliau, mulai dari nasabnya yang mulia, kedalaman ilmunya, hingga kisah amputasi kakinya yang sangat masyhur, merujuk pada sumber-sumber terpercaya seperti Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi dan karya sejarah Islam lainnya.

Nasab Emas dan Tumbuh Kembang Sang Ulama

Kisah Urwah bin az-Zubair

Urwah lahir pada awal masa kekhalifahan Utsman bin Affan (sekitar tahun 23 Hijriah). Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat mulia, sebuah nasab yang mengakar langsung pada perjuangan dakwah di masa awal Islam.

  • Ayahnya: Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal sebagai Hawari (pembela setia) Rasulullah ﷺ dan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
  • Ibundanya: Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, yang dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua sabuk), pahlawan wanita dalam peristiwa hijrah Nabi ﷺ.
  • Kakeknya (dari pihak ibu): Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul.
  • Bibinya: Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, Ummul Mukminin, istri tercinta Rasulullah ﷺ yang juga merupakan gudang ilmu umat Islam.

Tumbuh dalam dekapan keluarga yang sarat dengan iman dan ilmu ini, Urwah bin az-Zubair menyerap nilai-nilai ketakwaan sejak dini. Ia memiliki akses langsung ke sumber-sumber ilmu pertama dalam Islam, menjadikannya salah satu pemuda yang paling cerdas di Madinah.

Kedalaman Ilmu dan Masuknya Ia dalam Fuqaha as-Sab’ah

Urwah bin az-Zubair tidak menyia-nyiakan keistimewaan nasabnya. Ia mendedikasikan hidupnya untuk menuntut ilmu. Ia banyak meriwayatkan hadits dari bibinya, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hubungan keponakan dan bibi ini membuat Urwah leluasa bertanya tentang berbagai hal, termasuk perkara-perkara privasi rumah tangga Nabi ﷺ yang berkaitan dengan hukum fikih.

Selain dari Aisyah, Urwah juga menimba ilmu dari sahabat-sahabat besar lainnya seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Abu Hurairah. Kedalaman ilmunya diakui oleh para ulama sezamannya, sehingga beliau dinobatkan sebagai salah satu dari Fuqaha as-Sab’ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah). Ketujuh ulama inilah yang menjadi rujukan utama fatwa dan hukum Islam di kota Madinah setelah wafatnya para sahabat senior.

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang adil, pernah berkata tentangnya: “Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui daripadaku, melainkan Urwah bin az-Zubair.”

Kisah Ujian Berat: Penyakit Mematikan dan Amputasi Kaki

Puncak dari kisah kesabaran Urwah bin az-Zubair terjadi ketika ia melakukan perjalanan dari Madinah menuju Syam (Damaskus) untuk memenuhi undangan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Perjalanan ini menjadi titik balik yang akan menguji sejauh mana tauhid dan tawakal beliau kepada Allah ﷻ.

1. Serangan Penyakit Akilah

Di tengah perjalanan, atau setibanya di Syam, kaki Urwah mendadak terserang penyakit yang dalam literatur sejarah disebut Akilah (semacam pembusukan atau gangren yang menjalar dengan cepat). Penyakit ini sangat mematikan pada masa itu. Jika tidak segera dihentikan, pembusukannya akan menjalar ke seluruh tubuh dan merenggut nyawa.

Melihat kondisi tersebut, Khalifah Al-Walid mendatangkan tabib-tabib terbaik. Keputusan medis saat itu mutlak: kaki Urwah harus diamputasi dari betis agar penyakitnya tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain.

2. Menolak Minuman Keras (Khamr) Sebagai Obat Bius

Pada zaman tersebut, anestesi atau obat bius modern belum ditemukan. Cara umum untuk menghilangkan kesadaran pasien saat diamputasi (yang pastinya menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan) adalah dengan meminumkan khamr (minuman keras) hingga pasien mabuk tak sadarkan diri.

Ketika tabib menawarkan khamr, Urwah memberikan jawaban yang menggetarkan hati:

“Aku tidak akan pernah meminum sesuatu yang diharamkan Allah demi memulihkan kesehatanku. Dan aku tidak ingin kehilangan akalku (kesadaranku) saat aku menghadapi takdir Allah, agar aku bisa merasakan sakitnya dan mendapatkan pahala di sisi-Nya.”

Tabib kemudian menawarkan opsi lain, yakni minum obat penenang (semacam ramuan herbal yang membuat tidur). Namun Urwah tetap menolaknya. Ia berkata, “Aku tidak ingin dicabut sebagian dari anggota tubuhku sementara aku tidak menyadarinya.”

3. Dioperasi Saat Khusyuk dalam Shalat

Lalu bagaimana operasi itu dilakukan? Urwah memberikan solusi yang memperlihatkan tingkatan keimanannya yang luar biasa. Ia berkata kepada para tabib:

“Biarkan aku melaksanakan shalat. Jika kalian melihatku sudah masuk dalam shalat dan aku sedang sujud, maka potonglah kakiku. Pada saat itu, aku tidak akan merasakan apa-apa.”

Para tabib pun bersiap. Ketika Urwah memulai shalatnya dan tenggelam dalam kekhusyukan munajat kepada Allah ﷻ, tabib pun mulai memotong kakinya dengan gergaji. Darah mengucur deras. Begitu kakinya terputus, untuk menghentikan pendarahan yang hebat, tabib langsung mencelupkan potongan kaki Urwah yang tersisa ke dalam minyak panas yang mendidih.

Rasa sakit dari minyak mendidih inilah yang membuat Urwah akhirnya jatuh pingsan. Ini adalah prosedur medis paling brutal namun necessary pada masanya untuk menyumbat pembuluh darah.

Musibah yang Datang Bertubi-tubi: Wafatnya Sang Putra

Ujian bagi Urwah ternyata belum selesai. Saat ia masih dalam kondisi pemulihan pasca amputasi di istana Khalifah, putra kesayangannya yang bernama Muhammad diajak melihat-lihat kandang kuda istana. Takdir Allah ﷻ menetapkan, anak tersebut ditendang oleh seekor kuda (dalam riwayat lain bagal) yang sedang mengamuk, hingga sang anak meninggal dunia di tempat.

Bayangkan berada di posisi Urwah bin az-Zubair. Dalam satu perjalanan yang sama, beliau kehilangan salah satu anggota tubuhnya dan harus menerima kenyataan pahit kehilangan putra tercintanya. Secara manusiawi, siapa pun akan hancur lebur. Namun, di sinilah letak perbedaan seorang ulama Rabbani.

Respons Urwah: Puncak Syukur dan Ridha Terhadap Takdir Allah

Ketika Urwah siuman dari pingsannya dan diberitahu tentang dua musibah besar yang menimpanya secara bersamaan, apakah ia meratap? Apakah ia menyalahkan Tuhan? Sama sekali tidak.

Beliau menatap kakinya yang telah terpotong, lalu menciumnya dan berkata:

“Segala puji bagi Allah. Demi Allah yang telah membawaku berjalan bersamamu, Dia tahu bahwa aku tidak pernah menggunakanmu untuk berjalan menuju maksiat kepada-Nya.”

Lalu, terkait musibah yang menimpa dirinya dan putranya, Urwah bin az-Zubair memanjatkan sebuah doa yang terekam abadi dalam sejarah dan membuat para ulama setelahnya menangis haru:

“Ya Allah, Engkau telah mengaruniakan kepadaku empat orang anak laki-laki, lalu Engkau mengambil satu dan menyisakan tiga untukku. Engkau telah mengaruniakan kepadaku empat anggota gerak (dua tangan dan dua kaki), lalu Engkau mengambil satu dan menyisakan tiga untukku. Jika Engkau mengambil, sungguh Engkau telah memberi. Dan jika Engkau menguji, sungguh Engkau telah menyelamatkan. Segala puji bagi-Mu ya Allah atas apa yang Engkau ambil dan atas apa yang Engkau sisakan.”

Tidak ada ratapan, tidak ada keluhan. Yang ada hanyalah rida terhadap ketetapan Sang Pencipta dan rasa syukur karena Allah ﷻ masih menyisakan lebih banyak nikmat daripada apa yang Dia ambil.

Pelajaran Penting (Hikmah) dari Kisah Urwah bin az-Zubair

Kisah Urwah bin az-Zubair bukanlah dongeng fiktif. Ini adalah realitas sejarah yang tercatat dengan sanad yang kuat, yang seharusnya menjadi bahan renungan (muhasabah) bagi kita. Berikut adalah beberapa hikmah utama yang bisa kita petik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • 1. Sabar Adalah Kunci Menghadapi Ujian: Musibah adalah sunnatullah di dunia ini. Kisah Urwah mengajarkan bahwa kesabaran tertinggi adalah ketika musibah pertama kali datang. Menerima ketetapan Allah dengan lapang dada akan mendatangkan ketenangan batin.
  • 2. Fokus pada Nikmat yang Tersisa (Syukur): Manusia seringkali terlalu berduka atas sesuatu yang hilang hingga melupakan ratusan nikmat lain yang masih ada. Urwah kehilangan satu anak dan satu kaki, tapi ia langsung bersyukur karena masih punya tiga anak dan tiga anggota gerak. Ini adalah mindset positif tingkat tinggi dalam Islam.
  • 3. Menjauhi Hal yang Haram dalam Keadaan Darurat (Sesuai Syariat): Ketegasan Urwah menolak khamr sebagai bius menunjukkan ketatnya beliau berpegang teguh pada syariat. Ia memilih menanggung rasa sakit fisik daripada harus bermaksiat kepada Allah ﷻ dengan akalnya.
  • 4. Kekhusyukan Shalat yang Luar Biasa: Betapa luar biasanya kualitas shalat para Salafus Shalih. Shalat bagi mereka bukan sekadar rutinitas gerakan, melainkan mikrajnya roh yang melepaskan mereka dari urusan dan rasa sakit duniawi.
  • 5. Husnudzon (Berprasangka Baik) kepada Allah: Di tengah musibah yang bertumpuk, Urwah tetap memuji Allah. Ia yakin bahwa di balik setiap ujian yang Allah berikan, ada hikmah, keselamatan, dan pengampunan dosa.

Kesimpulan

Kisah Urwah bin az-Zubair adalah monumen sejarah yang mengajarkan umat Islam tentang bagaimana menjadi hamba yang sejati. Di tengah gempuran ujian kehidupan modern yang seringkali membuat kita mudah mengeluh, stres, atau bahkan berputus asa, mari sejenak menengok lembaran hidup ulama besar Tabi’in ini.

Kesabaran Urwah bin az-Zubair mengajarkan kita bahwa ujian seberat apa pun tidak akan pernah bisa menghancurkan seseorang yang hatinya telah terpaut teguh kepada Allah ﷻ. Semoga kisah inspiratif tokoh Islam ini mampu menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meningkatkan iman, mempertebal kesabaran, dan tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang masih Allah titipkan kepada kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button