Membahagiakan saudaranya.
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah seorang yang berhasil dalam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Kemudian kaum Anshar membahagiakan saudaranya seiman dengan sebenar-benarnya kesenangan. Betapa tidak?
Saat para Muhajirin telah dengan suka rela meninggalkan rumah, istri, anak, pekerjaan dan lain sebagainya. Maka hati para Anshar merasa trenyuh. Sebab yang ditinggalkan itu adalah harta kekayaan dan keluarganya. Oleh karena itu kaum Anshar kemudian berusaha menghibur saudaranya seiman yang dari Makkah dengan berbagai fasilitas yang mereka miliki.
Bahkan Allah pun mengabadikan pengorbanan kaum Anshar:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka ssendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dansiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Qs. Al Hasyr 9.

Sungguh sikap ini sangat berkebalikan dengan watak manusia dewasa ini. Ya, manusia dewasa ini justru lebih mementingkan urusan dirinya sendiri terlebih dahulu baru kemudian memikirkan urusan orang lain. Maka tidak heran bila kemudian Allah memuji kaum Anshar. Sebab mereka lebih mementingkan kebahagiaan saudaranya seiman daripada dirinya sendiri.
Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu berkata, “Berbuat baiklah, bahkan kepada orang yang tidak berterima kasih. Karena itu lebih berat timbangannya daripada orang yang berterima kasih kepadamu”.
Muhammad bin Hanafiyah berkata, “Orang yang berbuat baik tidak akan jatuh, dan bahkan jika jatuh maka dia tidak akan pecah”.
Jika hal ini masih bisa diwujudkan maka keberkahan akan tetap mengalir generasi saat ini. Tetapi apabila memberi itu dijadikan sebagai komoditi bisnis maka yang terjadi justru sebaliknya; kerusakan dan kedhaliman.
Betapa tidak?
Bukankah hari ini orang ketika hendak memberi (saudaranya) selalu diupload ke medsos? Untuk apa tujuannya?
Lihatlah bagaimana menurut para salafush shalih!
Fudhail bin ‘Iyah drahimahullah, “Kami tidak menganggap pinjaman sebagai amal shalih karena pemberiannya meminta imbalan. Sebaliknya, amal shalih adalah memaafkan orang lain atas segala yang mereka minta dari anda di dunia dan akhirat”.
As Sari Saqti berkata, “Amal shalih telah hilang dan yang tersisa hanyalah jual beli. (Yakni) seseorang memberikan sesuatu kepada saudarranya agar dia membalasnya”.
Padahal saat ini yang berjalan adalah yang model seperti ini. Bahkan termasuk harta yang katanya harta zakat sekalipun. Maka renungkanlah agar menjadi lebih baik lagi.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
